

“Hama adalah teman kita.” Kalimat tersebut mungkin terdengar paradoks bagi sebagian besar petani. Namun, bagi Dwi, seorang pegiat pertanian berkelanjutan sekaligus pendiri Omah Lor di kawasan kaki Gunung Merapi, Pakem, Yogyakarta, hama justru merupakan indikator alami yang menunjukkan kondisi ekosistem. Menurutnya, kehadiran hama bukanlah musuh yang harus segera dimusnahkan, melainkan pesan dari alam bahwa terdapat sesuatu yang tidak seimbang. Tanaman yang sehat umumnya memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap serangan organisme pengganggu. Sebaliknya, ketika tanaman mudah terserang hama, penyebab utamanya sering kali berasal dari kualitas tanah yang menurun. Dengan demikian, alih-alih hanya berfokus membasmi hama menggunakan pestisida, petani seharusnya terlebih dahulu memperbaiki kesehatan tanah sebagai fondasi utama pertanian. Dalam pandangan ini, hama berfungsi sebagai “agen informasi” yang membantu manusia membaca kondisi lahan, bukan sekadar musuh yang harus diperangi.
Dwi tinggal di Omah Lor, sebuah ruang belajar yang dibangun di lereng Gunung Merapi. Aktivitas utamanya saat ini adalah berkebun sekaligus mengelola tempat belajar terbuka bagi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia yang ingin mempelajari pertanian alami dan gaya hidup berkelanjutan (sustainable living). Menurutnya, menanam dan menghasilkan pangan sendiri memberikan kepuasan yang jauh lebih dalam dibanding sekadar memperoleh hasil panen. Aktivitas tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari rantai kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dari alam. Setiap makanan yang dikonsumsi merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan tanah, air, mikroorganisme, tanaman, hewan, dan manusia. Kesadaran inilah yang melahirkan sikap rendah hati terhadap alam.
Atas dasar pemikiran tersebut, Omah Lor tidak dibangun sebagai tempat untuk mengajar secara satu arah, melainkan sebagai ruang belajar bersama. Dwi meyakini bahwa setiap orang yang datang membawa pengetahuan dan pengalaman lokal yang berharga. Banyak tanaman yang sebelumnya tidak ia kenal ternyata memiliki nilai pangan di daerah asal para pengunjung. Dari proses saling bertukar pengalaman itulah wawasan mengenai keanekaragaman hayati Indonesia terus berkembang. Dengan demikian, Omah Lor menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan berbagai budaya bercocok tanam dari seluruh Nusantara.
Menarik Untuk Dibaca : Perusahaan 29 Triliun Tapi Nol Karyawan
Inspirasi mendirikan Omah Lor bermula dari pengalaman Dwi ketika menjalankan usaha ekspor hasil pertanian. Dalam perjalanannya mengunjungi berbagai daerah, ia menyadari bahwa sebagian besar petani Indonesia telah berusia lanjut. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran besar mengenai regenerasi petani. Ia mempertanyakan siapa yang akan memproduksi pangan ketika generasi tua tidak lagi mampu bekerja di lahan. Kekhawatiran inilah yang mendorongnya mengalokasikan sebagian keuntungan usahanya untuk membangun Omah Lor sebagai pusat pembelajaran sekaligus ruang regenerasi bagi calon petani muda.
Di Omah Lor, filosofi utama yang diajarkan bukan sekadar teknik bercocok tanam, melainkan bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam. Manusia tidak diposisikan sebagai penguasa alam yang bebas mengatur segala sesuatu sesuai keinginannya. Sebaliknya, manusia adalah bagian dari sistem ekologis yang harus memahami ritme dan “bahasa” alam. Menurut Dwi, alam selalu memberikan sinyal kepada manusia, baik melalui perubahan cuaca, kondisi tanah, maupun perilaku tanaman. Ketika manusia mampu memahami sinyal-sinyal tersebut, hubungan yang harmonis antara manusia dan alam dapat terbangun. Prinsip ini juga dipandang sebagai bentuk ikhtiar untuk bersinergi dengan kehendak Allah SWT melalui pemahaman terhadap sunnatullah yang bekerja di alam semesta.
Dalam pandangan Dwi, ketahanan pangan nasional sesungguhnya dimulai dari rumah tangga. Setiap keluarga, berapa pun luas lahannya, dianjurkan menanam sebagian kebutuhan pangannya sendiri, baik di halaman depan maupun belakang rumah. Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah atau produksi pertanian berskala besar, tetapi juga pada partisipasi masyarakat dalam menghasilkan sebagian kebutuhan pangan secara mandiri. Di sisi lain, masyarakat juga perlu memberikan dukungan nyata kepada para petani. Selama ini, menurutnya, masyarakat sering kali hanya menjadi konsumen tanpa menyadari beratnya tugas petani yang bertanggung jawab menyediakan pangan bagi seluruh bangsa.
Bentuk dukungan kepada petani sebenarnya dapat dilakukan melalui tindakan-tindakan sederhana, seperti tidak membuang makanan, membeli produk pertanian lokal, tidak menawar harga secara berlebihan di pasar tradisional, serta mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Setiap keputusan konsumsi memiliki dampak terhadap rantai ekonomi pertanian. Ketika masyarakat memilih produk lokal, mereka secara langsung membantu menjaga keberlangsungan ekonomi petani Indonesia.
Sebagai laboratorium hidup, Omah Lor saat ini membudidayakan lebih dari 250 spesies tanaman yang dapat dikonsumsi maupun dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Sebagian besar koleksi tanaman tersebut diperoleh dari berbagai daerah di Indonesia. Tempat ini berfungsi layaknya bank plasma nutfah atau kebun konservasi hidup yang menyimpan kekayaan tanaman pangan lokal agar tidak hilang ditelan modernisasi.
Berbagai tanaman unik dapat dijumpai di Omah Lor. Salah satunya adalah purun tikus (water chestnut), tanaman air yang menghasilkan umbi manis dengan tekstur menyerupai bengkuang dan dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Selain itu terdapat rumput Israel, tanaman yang biasa dimanfaatkan sebagai campuran sup dan mi, serta bayam Brasil, sayuran tahunan yang semakin subur setiap kali dipanen sehingga menjadi pilihan ideal sebagai sumber pangan berkelanjutan.
Di kebun tersebut juga tumbuh berbagai jenis labu, seperti labu kuning dan labu botol. Tidak hanya buahnya yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pucuk muda dan daunnya juga dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan. Labu botol bahkan memiliki fungsi tambahan karena buah tua yang telah mengering dapat diolah menjadi gayung tradisional atau wadah minuman ramah lingkungan yang tahan air.
Tanaman lain yang dibudidayakan antara lain selosia atau jengger ayam yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman hias, padahal daun mudanya dapat dikonsumsi layaknya bayam. Begitu pula dengan pacar air (Impatiens), yang bunga dan daunnya dapat dijadikan bahan sayuran. Beluntas dimanfaatkan sebagai lalapan tradisional yang dipercaya membantu mengurangi bau badan, sedangkan oxalis digunakan sebagai pelengkap salad karena cita rasanya yang segar dan sedikit asam.
Dwi juga memperkenalkan manfaat berbagai tanaman herbal lokal seperti temu kunci yang kaya magnesium dan sejak dahulu digunakan sebagai bahan sayur pemulih stamina setelah bekerja di sawah. Ada pula miana, tanaman berdaun warna-warni yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman hias, namun sebenarnya dapat dikonsumsi sebagaimana daun pepaya. Dari masyarakat Toraja, Dwi belajar bahwa tanaman tersebut telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Keanekaragaman tanaman di Omah Lor juga mencakup kol banda yang memiliki cita rasa menyerupai kubis, jelatang yang kaya kalsium meskipun memerlukan pengolahan khusus untuk menghilangkan rasa gatalnya, hingga berbagai tanaman yang tidak hanya berfungsi sebagai pangan tetapi juga bahan kosmetik alami.
Seluruh kawasan Omah Lor dirancang berdasarkan prinsip permaculture, yaitu sistem pertanian yang mengintegrasikan berbagai unsur ekosistem sehingga saling mendukung. Setiap elemen memiliki fungsi yang saling berkaitan. Ayam dipelihara bukan hanya untuk menghasilkan telur, tetapi juga membantu mengendalikan serangga dan menghasilkan pupuk kandang. Tanaman pisang tidak selalu dipanen buahnya, melainkan dimanfaatkan batang dan akarnya sebagai bahan kompos karena memiliki kemampuan mengakumulasi mineral dari dalam tanah. Begitu pula tanaman kelor dan pepaya yang digunakan sebagai bahan baku pupuk organik. Dengan pendekatan tersebut, kebutuhan pupuk hampir seluruhnya dipenuhi dari sumber daya yang tersedia di dalam kebun tanpa bergantung pada pupuk kimia dari luar.
Menurut Dwi, setiap sudut Omah Lor dirancang sebagai media pembelajaran. Tata letak bangunan, pola tanam, pemanfaatan lereng, hingga keberadaan tanaman liar bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan hasil desain yang mempertimbangkan hubungan antara manusia dan alam. Ia berharap setiap pengunjung mampu belajar melalui pengamatan langsung terhadap lingkungan sekitar, memahami fungsi setiap elemen, lalu mengadaptasi prinsip-prinsip tersebut sesuai kondisi lahannya masing-masing.
Di akhir perbincangan, Dwi menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda yang mulai tertarik menekuni dunia pertanian. Menurutnya, bertani saja belum cukup. Regenerasi petani hanya akan berhasil apabila semakin banyak anak muda yang bersedia mengajak teman-temannya untuk kembali mencintai pertanian. Oleh karena itu, ia mendorong para petani muda untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi, berbagi pengalaman, memperkenalkan praktik pertanian yang berkelanjutan, sekaligus membangun citra baru bahwa bertani bukanlah pekerjaan yang tertinggal, melainkan profesi strategis yang akan menentukan masa depan ketahanan pangan bangsa.
Menarik Untuk DItonton : Iklanmu di Skip Terus ?
Mau Konsultasi?