

Di tengah semakin banyaknya generasi muda yang berlomba mencari pekerjaan di kota, masih ada anak-anak muda yang memilih jalan berbeda. Mereka kembali ke desa, mengelola lahan keluarga, dan membuktikan bahwa pertanian bukanlah profesi yang harus ditinggalkan, melainkan sektor yang dapat dikembangkan menjadi usaha yang menjanjikan apabila dikelola dengan cara yang tepat.
Salah satunya adalah Fahmi Wildan, seorang pemuda yang memilih meneruskan perjuangan kakeknya, Mbah Noyo, dalam mengelola lahan pertanian keluarga. Menariknya, keputusan tersebut bukan lahir karena ia tidak memiliki pilihan pekerjaan lain, melainkan karena ia ingin membangun usaha sendiri tanpa bergantung pada pekerjaan kantoran. Meskipun latar belakang pendidikannya berasal dari bidang perikanan, setelah menyelesaikan kuliah dan mencoba melamar pekerjaan di berbagai tempat, Fahmi menyadari bahwa dirinya lebih tertarik menjadi pelaku usaha daripada menjadi karyawan.
Melihat sang kakek masih memiliki lahan pertanian yang produktif, ia kemudian memutuskan untuk membantu mengelolanya sekaligus mendokumentasikan seluruh aktivitas bertani melalui media sosial. Awalnya tujuan tersebut sangat sederhana, yaitu agar aktivitas bertani tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar desa, tetapi juga dapat dilihat oleh masyarakat yang lebih luas. Keputusan tersebut ternyata membawa hasil yang positif. Konten-konten yang ia unggah mulai dikenal banyak orang dan berhasil membangun komunitas pengikut yang tertarik mempelajari dunia pertanian.
Menarik Untuk Dibaca : Perusahaan Rugi, Bagaimana Cara Mereka Bertahan ?
Konten yang diproduksi pun tidak hanya berisi dokumentasi kegiatan sehari-hari, tetapi juga edukasi mengenai teknik budidaya berbagai tanaman, mulai dari proses penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama, hingga proses panen. Dengan cara tersebut, media sosial tidak hanya menjadi sarana berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi media edukasi bagi masyarakat yang ingin belajar bertani.
Saat ini Fahmi bersama kakeknya membudidayakan beberapa komoditas hortikultura, seperti gambas dan jagung manis. Sebelumnya mereka juga pernah menanam kacang panjang, pare, terong, hingga berbagai tanaman buah. Menurutnya, pemilihan jenis tanaman selalu mempertimbangkan kondisi pasar dan peluang keuntungan yang tersedia.
Dari sisi ekonomi, usaha pertanian memang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga pasar. Ketika harga komoditas sedang tinggi, keuntungan yang diperoleh dapat meningkat secara signifikan. Sebaliknya, ketika harga turun, margin keuntungan ikut menyusut. Untuk budidaya jagung manis, misalnya, kebutuhan modal awal yang meliputi pembelian benih, pupuk, serta pestisida berkisar antara dua hingga tiga juta rupiah untuk satu siklus tanam.
Pada lahan yang dikelolanya terdapat sekitar 360 bedengan, dengan sekitar 180 bedengan khusus ditanami jagung manis. Komoditas ini dipilih karena dinilai masih memiliki prospek yang cukup baik di pasar. Dalam satu siklus tanam selama kurang lebih dua bulan, hasil panen jagung dapat menghasilkan pendapatan berkisar antara sepuluh hingga lima belas juta rupiah, tergantung produktivitas dan kondisi harga saat panen.
Berbeda dengan jagung, tanaman gambas dipanen secara bertahap sehingga menghasilkan arus kas yang lebih rutin. Pendapatan dari penjualan gambas biasanya langsung diputar kembali sebagai modal untuk membiayai penanaman berikutnya, mulai dari pembelian benih, pupuk, hingga kebutuhan operasional lainnya. Pola ini menunjukkan bahwa usaha pertanian pada dasarnya merupakan bisnis dengan perputaran modal yang terus berlangsung.
Namun demikian, keluarga Fahmi memiliki prinsip yang sangat sederhana dalam menjalani profesi sebagai petani. Mbah Noyo, sang kakek, selalu mengajarkan untuk menerima hasil panen dengan penuh rasa syukur. Menurutnya, harga pasar merupakan sesuatu yang berada di luar kendali petani. Ketika harga tinggi, mereka bersyukur. Ketika harga turun, mereka tetap menerima dengan lapang dada sebagai bagian dari rezeki yang telah ditetapkan. Filosofi tersebut membuat mereka mampu menjalani profesi sebagai petani dengan lebih tenang dan tidak mudah tertekan oleh perubahan pasar.
Fahmi mengakui bahwa tidak banyak anak muda yang tertarik terjun ke sektor pertanian. Sebagian menganggap pendapatan petani relatif kecil, sementara sebagian lainnya enggan menghadapi pekerjaan yang harus dilakukan di bawah terik matahari. Padahal, menurutnya, tantangan terbesar dalam bertani bukanlah panasnya cuaca, melainkan kekuatan mental. Seorang petani harus siap menghadapi berbagai kemungkinan, mulai dari kegagalan panen, serangan hama, cuaca yang tidak menentu, hingga harga jual yang tidak sesuai harapan. Tanpa mental yang kuat, seseorang akan mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
Meskipun demikian, Fahmi justru menikmati proses tersebut. Baginya, dunia pertanian memberikan ruang untuk terus belajar dan memperoleh pengalaman baru dari para petani yang lebih senior. Ia percaya bahwa keberhasilan bertani tidak hanya diperoleh melalui teori, tetapi juga melalui pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal yang sama juga diajarkan oleh Mbah Noyo. Sejak usia sekitar lima belas tahun, beliau telah memegang cangkul dan menggarap sawah sendiri. Hingga kini, meskipun usia telah lanjut, semangat bekerja tetap tidak berkurang. Setiap hari beliau masih aktif berada di lahan sejak pagi hingga sore hari. Baginya, bekerja di sawah bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga kesehatan, kebugaran, serta ketenangan hidup. Beliau meyakini bahwa tubuh yang terus bergerak akan tetap sehat, sementara hati yang selalu bersyukur akan membuat kehidupan terasa lebih tenteram.
Dalam praktik budidaya, Fahmi menekankan bahwa keberhasilan pertanian sangat ditentukan oleh ketelatenan. Perawatan tanaman harus dilakukan secara konsisten, mulai dari pemupukan, penyiraman, pengendalian gulma, hingga pengendalian hama dan penyakit. Untuk tanaman jagung, misalnya, ia menggunakan kombinasi pupuk seperti Phonska, Urea, dan ZA sesuai kebutuhan tanaman. Sementara untuk perlindungan tanaman digunakan berbagai jenis pestisida dan fungisida yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Menurutnya, salah satu faktor yang paling sering diabaikan petani pemula adalah pengendalian gulma. Rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman akan bersaing dalam memperoleh unsur hara, air, dan cahaya matahari sehingga dapat menghambat pertumbuhan tanaman, terutama pada fase vegetatif. Oleh karena itu, gulma harus dibersihkan secara rutin agar pertumbuhan tanaman berlangsung optimal.
Pengendalian hama juga memerlukan perhatian khusus. Pada tanaman gambas dan pare, misalnya, serangan lalat buah menjadi salah satu ancaman utama karena dapat menyebabkan buah berubah warna dan tidak layak dijual. Sementara pada komoditas lain, jenis penyakit dan hama yang muncul bisa berbeda sehingga petani harus mampu menyesuaikan strategi pengendaliannya.
Fahmi sendiri pernah mengalami kegagalan ketika mencoba membudidayakan cabai. Saat itu ia membeli benih, menyemai sendiri, dan menanam di lahan yang masih kosong. Namun karena kurang telaten dalam melakukan penyemprotan serta pengendalian penyakit, seluruh tanaman akhirnya mati akibat serangan penyakit. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa dalam pertanian tidak ada jalan pintas. Ketelatenan merupakan faktor yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Selain bertani, Fahmi juga mengembangkan usaha sampingan berupa penjualan kopi secara daring melalui berbagai platform e-commerce dan media sosial. Menariknya, ia mengakui bahwa keuntungan dari usaha kopi justru lebih stabil dibandingkan hasil bertani. Penjualan kopi dapat menghasilkan pendapatan setiap hari, sedangkan pendapatan dari pertanian umumnya baru diterima ketika musim panen tiba atau ketika memperoleh tambahan penghasilan dari kerja sama promosi dan program afiliasi media sosial. Dari aktivitas digital tersebut, rata-rata ia memperoleh tambahan pendapatan sekitar tiga hingga empat juta rupiah setiap bulan.
Meskipun telah memiliki beberapa sumber penghasilan, Fahmi tetap memandang pertanian sebagai fondasi utama kehidupannya. Baginya, bertani bukan hanya pekerjaan, melainkan bagian dari identitas keluarga yang telah diwariskan turun-temurun.
Di akhir perbincangan, Fahmi menyampaikan pesan yang sangat sederhana namun memiliki makna mendalam. Menurutnya, generasi muda sebaiknya tidak terlalu memilih-milih pekerjaan. Apabila orang tua masih memiliki lahan pertanian yang produktif, akan sangat disayangkan jika lahan tersebut dibiarkan terbengkalai atau bahkan dijual hanya karena tidak ada yang bersedia meneruskannya. Meskipun seseorang tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian, kemampuan bertani tetap dapat dipelajari melalui kemauan, pengalaman, dan proses belajar yang berkelanjutan.
Kisah Fahmi dan Mbah Noyo menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi atau bantuan pemerintah, tetapi juga pada hadirnya generasi muda yang bersedia melanjutkan estafet pengelolaan lahan keluarga. Dengan memadukan pengalaman para petani senior dan pemanfaatan teknologi digital melalui media sosial, pertanian dapat tampil sebagai sektor yang lebih modern, lebih menarik, dan lebih menjanjikan bagi generasi berikutnya.
Pada akhirnya, pertanian bukan sekadar aktivitas menanam dan memanen. Pertanian adalah tentang kesabaran, ketekunan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta keberanian membangun masa depan dari tanah yang diwariskan oleh orang tua. Selama masih ada generasi muda yang bersedia belajar dan meneruskan perjuangan tersebut, lahan pertanian tidak hanya akan tetap hidup, tetapi juga akan menjadi sumber kesejahteraan bagi keluarga dan masyarakat di masa depan.
Menarik Untuk Ditonton : Jangan Jadi Tuyul di Usaha Sendiri
Mau Konsultasi?