
“Kisah Perempuan Pesisir Gunungkidul Merajut Impian Bersama Sebungkus Nasi Daun Jati”
Aroma Tungku Kayu di Balik Bukit Bintang
Malam itu, dinginya udara Gunungkidul menusuk hingga ke tulang, namun jauh lebih dingin rasa yang menjalar di dada saya. Di teras rumah yang hanya berlantai cor kasar , saya melihat malaikat kecil saya tidur terlelap yang pada waktu itu masih berusia 4,5 tahun. Di atas kepala kami, bukan genteng yang melindungi dari embun malam, melainkan langit gelap yang entah mengapa malam itu terasa begitu berat.
Tahun 2024 bagi saya bukan sekadar angka tahun dalam kalender,tapi itu adalah tahun di mana saya kehilangan segalanya. Atau mungkin, tepatnya tahun di mana saya terpaksa melepaskan semua atribut “pengusaha” yang selama ini saya banggakan. Empat kendaraan telah di tarik bank. Suplier menagih hutang yang nilainya membuat kepala saya berdenyut setiap kali memejamkan mata. Kompor, tabung gas, bahkan sepeda balap pushbike kesayangan anak saya semuanya telah berpindah tangan menjadi uang tunai sekedar untuk membeli sesuap nasi dan membayar cicilan mencekik.
Saat sahur tiba pada tahun 2024, saya tidak memiliki apa-apa. Di kebun belakang rumah , di tengah kegelapan yang pekat , saya menyalakan tungku kayu. Saya memetik daun pepaya liar, mencucinya dengan air sumur yang dingin, lalu menggoreng nya dengan sisa minyak jelantah. Aroma asap kayu bakar yang membakar daun pepaya itu menjadi menu sahur kami. Siapa sangka, dari bekas tungku yang menghitam di sudut kebun itulah “ Sego Warisan Simbah “ justru mulai menemukan jiwanya. Bukan lagi soal keuntungan , bukan soal ambisi tapi ini adalah soal harga diri untuk tetap hidup.
Menarik untuk kamu lihat : Sejarah sego berkat
Akar Pesisir dan Etos Kerja yang Tidak Pernah Padam

“Mimpi saya adalah Mengenyam Pendidikan Tinggi dan Menjadi Bidan yang Mengabdikan Diri di Pelosok Negeri”
Saya adalah perempuan produk dari pesisir pantai Gunungkidul. Saya tumbuh dengan pemahaman bahwa hidup adalah tentang bertahan. Orangtua saya adalah lulusan S1 ( Sekolah Dasar ) dan dalam keseharian nya menjadi buruh tani serabutan. Dengan segala keterbatasan ekonomi dan pendidikan,sejak kecil impian saya sederhana ;ingin sekolah , ingin melampaui batas yang di gariskan oleh keadaan ekonomi keluarga
Saat teman-teman SMP saya mungkin sedang asyik bermain, saya menghitung lembar poster yang harus saya jual. Uang saku yang terbatas adalah guru bisnis pertama saya. Saya belajar bahwa saya ingin sesuatu, saya harus menukarnya dengan nilai tambah. Beranjak SMA , realitas ekonomi menampar saya lebih keras. Saya bekerja mengupas kulit mlinjo dirumah tetanngga.Upahnya ? 6.000 untuk setiap 5 kg.. Bayangkan, berapa banyak tenagayang harus saya arahkan untuk mendapatkan angka itu. Namun di tengah tumpukan kulit mlinjo yang di buang, mata saya menangkap peluang “ Mengapa harus di buang jika bisa di goreng ?”pikir saya soal itu. Saya mulai mengolah kulit itu menjadi keripik. Saya juga mencoba mengolah keripik singkong dan rumputt lautItulah momen dimana saya sadar ,”Saya tidak punya modal finansial, tapi saya punya modal kejelian. Saya tidak kuliah secara instan. Saya harus merantau ke kota , bekerja keras , mengumpulkan rupiah demi membeli sebuah laptop untuk kuliah.
Sebab, kenyataan di lapangan mendidik saya jauh lebih keras dari dugaan apapun. Menyadari bahwa kerja keras harus bedampingan dengan ilmu, keinginan saya untuk mengenyam pendidikan tinggi menjadi begitu menggebu. Namun, garis kemiskinan membentang di keluarga kami terasa seperti dinding tebal yang terlalu tinggi untuk dapat saya lompati. Saat saya ingin kuliah, tetapi realitas berbisik bahwa orangtua saya tidak pernah mampu untuk membiayainya.
Puncak patah hati terbesar saya terjadi ketika sebuah pengumuman resmi tiba. Lewat selembar kertas itu, saya di nyatakan diterima di Poltekes Kemenkes Yogyakarta yang tes masuknya pun sanga sulit. Sebuah pencapaian yang seharusnya menjadi perayaan dan kabar paling membahagiakan, justru berubah menjadi momentum yang paling menyisakan sesak. Saat melihat nominal biaya registrasi dan harus di bayarkan lunas dalam waktu 5 hari ke depan, bumi tempat saya berpijak rasanya runtuh seketika. Orangtua saya, dengan segala keterbatasan mereka sebagai buruh tani dan serabutan, sama sekali tidak punya uang untuk membayarnya. Tidak ada tabungan, tidak ada aset yang bisa dijual.
Melihat tatapan orangtua saya yang di lingkupi rasa bersalah dan ketidakberdayaan adalah luka yang teramat dalam bagi saya. Kami hanya bisa saling terdiam dalam kepasrahan. Di titik itulah saa benar-benar sadar bahwa hidup ini tidak mudah bagi orang-orang seperti kami.Impian saya untuk langsung duduk di bangku kuliah harus terjegal oleh angka-angka di atas kertas yang tidak mampu kami jangkau.
Demi mewujudkan impian untuk tetap mengenyam pendidikan, saya akhirnya memutar otak dan mencari alternatif lain. Saya memilih mendaftar ke sekolah kesehatan yang sistem pembayaran nya jauh lebih manusiawi bagi kantong kami, yaitu dapat di angsur bulanan dan bukan S1/D4/.Keputusan ini jelas membawa konsekuensi besar, saya harus membagi waktu, tenaga , dan pikiran secara extrem.
Hari-hari saya lalui dengan ritme sangat padat.Saya tidak punya kemewahan untuk sekedar nongkrong atau menikmati masa muda seperti teman-teman lainya. Di luar jam belajar, saya kerja serabutan di laundry dan penjaga stand catering.Belum cukup disitu , naluri bisnis yang tertanam sejak kecil kembali berputar, saya memberanikan diri untuk kulak jilbab di Pasar Beringharjo, lalu menjual nya ke desa.
Dengan semua kesibukan itu, uang saku yang saya miliki tetap saja terbatas. Begitu terbatas nya, hingga saya harus sangat ketat menghemat untuk pengeluaran perut. Masih terekam jelas dalam ingatan saya, saat jajan ke nasi padang aku membeli telur dadar harga 6.000 untuk lauk makan sehari. Lelah ? Tentu saja. Namun, setiap kali rasa lelah dan lapar melanda, saya selalu mengingatkan diri sendiri : bahwa ini adalah harga yang harus saya bayar untuk sebuah masa depan. Tubuh saya mungkin lelah, tetapi api di dalam dada saya menolak untuk padam. Saya belajar,bekerja dan menabung.Saat itu, saya percaya bahwa kerja keras saja sudah cukup. Saya salah. Kerja keras tanpa ilmu adalah jalan pintas menuju kelelahan yang sia-sia.
Euforia di Sunmor UGM dan Ilusi Skala Ekonomi

“Mimpi dari Desa yang Mampu Berkarya di Kota Besar”
Setelah lulus saya dan memulai babak baru dengan bekerja di Klinik , jiwa dagang saya tidak bisa diredam. Saya memulainya dengan jualan tanaman hias, donat dan keripik singkong dan ternyata zonk hahah. Oh iya tahun 2017 aku menikah dengan lelaki pilihan ku dan alkhamulillah di kasih jodoh sama Allah sesuai persis dengan yang aku doakan. Mulai dari fisik hingga ke cara memperlakukan saya hahah. Dan betul kata orang kita harus mencari jodoh yang setara agar menjalani kehidupan bisa selaras dan berbahagia. Dari situlah babak baru bisnis hijab saya mulai dengan bekal modal seadanya dan pengetahuan yang sangat terbatas. Berjualan di Sunmor UGM setiap hari Minggu dan ini adalah mungkin masa di mana aku merasa seperti di atas angin. Saya ingat betul bagaimana keringat bercucuran di bawah terik matahari, namun terbayar lunas dengan kerumanan mbag-mbag cantik membeli jilbab di stand ku. Saat itu aku mempekerjakan 4 mahasiswa UNY untuk menjaga tenant karena lapak ku ada 4.
Sebelum COVID-19, ekonomi ku sangat stabil. Aku bekerja di intansi kesehatan da suami ku bekerja di Perguruan Tinggi terbaik di Jogja.Kami berdua mempunyai karier yang mapan dan bisnis yang berjalan sanga gacor pada waktu itu. Saya bahkan berhasil menembus pameran-pameran besar di Ambarukmo Plaza, Malioboro Mall, SCH dan Hartono ( sekarang Pakuwon. Saat itu, rasanya telah menemukan rumus kesuksesan : jualan, laku, tambah modal,buka cabang. Saya tidak pernah bertanya tentang cash flow yang sehat. Bagi saya, asal uang masuk setiap hari, berarti bisnis saya aman. Saya dibutakan oleh omzet, hingga lupa memperhatikan margin dan biaya operasional sesunguhnya.
Namun , badai datang tanpa diundan. COVID-19 menghantam, dunia seolah berhenti berputar. Dalam hitungan minggu, tenant di Sunmor UGM diliburkan tanpa kejelasan.Modal tetanam di barang dagangan dan tidak terjual.Saya panik, dan dalam kondisi terdesak, saya mencoba melakukan pivot ( perubahan arah bisnis ) dengan mendirikan catering isoman . Itu adalah moment dimana saya bekerja untuk kemanusiaan sekaligus bertahan hidup. Saya mempekerjakan driver onlne dan bapak-bapak sekitar yang kehilangan pekerjaan.Usaha catering ku meledak dan ramai pesanan. Namun ternyata ini justru menjadi “jebakan” bagi saya. Saya merasa sudah menjadi pebisnis tangguh , padahal sebenarnya saya hanya sedang menumpang gelombang situasi darurat.
Gelombang itu membawa omzet yang melambung tinggi, tetapi sekaligus membutakan mata saya dari realitas bisnis yang sebenarnya. Karena pesanan katering isoman datang bertubi-tubi akibat kepanikan pandemi, saya merasa berada di atas angin lagi. Saya kembali mengulangi kesalahan yang sama : terlena oleh perputaran uang harian tanpa memikirkan keberlanjutan sistem jangka panjang. Saya mengira ledakan pesanan itu adalah tanda bahwa bisnis saya sudah kuat, padahal itu hanyalah sebuah tren musiman yang masanya akan habis seiring mereda badai kesehatan dunia.
Jajan Ndeso dan Runtuhnya Menara Kartu
“Runtuh nya Mimpi dan Terlilit nya Banyak Hutang”
Setelah pandemi mereda, permintaan catering isoman pun menurun. Saya kembali bingung. Dalam keadaan yang masih belum stabil, saya membuat keputusan besar ;beralih ke catering harian untuk mahasiswa dan pekerja. Saya mempekerjakan 4 driver dan 3 ibu untuk memasak. Bisnis pun berkembang,saya dapat menembus sebagai vendor catering untuk opek FEB UII selama 3 tahun, catering lamaran dan yang lainya. Dan pengalaman yang sangat berkesan saya mendapatkan kesempatan menjadi pembicara dan demo masak di Fakultas Pertanian UGM. Mungkin bagi orang lain itu biasa saja, tapi bagi saya seorang anak desa pesisir bisa mendapakan kesempatan sejauh ini adalah sesuatu yang sangat berharga.
Di puncak kesibukan itulah , ego saya semakin membuncah. Saya ingin memiliki tempat yang bisa dikunjungi langsung oleh pelanggan. Saya menyewa sebuah limasan dengan halaman luas , dan usaha itu saya beri nama “Jajan Ndeso” yang tentunya menu andalan yang saya tawarkan adalah sego berkat dan soto batok. Di sinilah letak dosa bisnis saya yang paling besar; saya mencampuradukan segalanya. Uang dari catering saya gunakan untuk membangun rumah di Patuk, Gununungkidul. Saya juga mengambil modal dari sana untuk tukang di pembangunan rumah. Isi kepala saya saa itu, yang ada hanyalah “puding” ( pusing yang tak berujung). Saya tidak memiliki pembukuan,saya tidak tahu cara menghitung harga pokok penjualan yang benar, saya tidak punya mentor. Saya berjalan sendirian di tengah badai , merasa bahwa kerja keras saja adalah satu-satunya insrumen menang. Ternyata realita berkata lain. Jajan Ndeso yang saya impikan justru malah sepi pengunjung. Keuanga saya mulai bocor di sana – sini. Catering yang sebenarnya berjalan, jusru habis di gunakan untuk menutup lubang utang warung dan biaya pembangunan rumah yang tidak kunjung selesai.Saya seperti sedang membangun menara dari kartu yang rapuh, tiupan angin sedikit saja pasti akan membuatnya roboh.
Pada momen itu saya baru tersadar bahwa saya sedang memanen apa yang saya tanam : yaitu dosa-dosa bisnis yang saya buat sendiri.
1. Dosa Pertama : Kebingungan Finansial
Saya tidak pernah memisahkan mana uang hasil operational catering , mana uang pembangunan rumah, dan mana modal uang untuk Jajan Ndeso.Semua masuk dalam kantong yang sama. Di kepala saya, uang adalah uang. Jika hari ini ada uang masuk dari catering 5 juta , saya akan merasa kaya dan akan menggunakan nya untuk membayar tukang bangunan. Padahal, uang itu seharusnya digunakan untuk membeli bahan baku catering esok hari. Akibatnya saya selalu ada dalam mode “ Gali Lubang Tutup Lobang “. Saya tidak tau berapa HPP untuk produk yang saya jual. Saya hanya asal kasih harga berdasarkan perasaan pasar, bukan berdsarkan kalkulasi biaya bahan dan tenaga kerja.
2. Dosa Kedua : Ekspansi Buta
Saya memiliki karyawan jika di jumlah total ada 16 orang.Dengan total 16 orang begantung hidup kepada saya, tekanan itu luar biasa. Saya merasa harus bergerak, terus menambah beban, padahal fondasi bisnis masih setipis tisu.Saya telalu terobsesi dengan besaran jumlah karyawan, jumlah cabang, hingga melupakan kulitas, profitabilitas dan sistem kerja.Saya menjadi pemimpin yang kelelahan , yang tiap malam hanya bisa merasakan puding ( pusing yang tak berujung ), karena setiap detik selalu ada yang menagih uang, suplier beras, suplier sayur, suplier daging, hingga karyawan.
3. Dosa Ketiga : Ketiadaan Mentor dan Sistem
Saya berjalan sendirian ditengah badai. Saya adalah founder, saya admin, saya juga turun ke dapur, bahkan saya juga mengurus logistik. Saya sombong dengan mengatakan “ saya menolak untuk belajar tentang manajemen kas yang benar, apalagi tentang pelaporan keuangan. Saya merasa bahwa “keuntungan” adalah apa yang tersisa di dompet saya di akhir pekan. Padahal, seringkali itu adalah modal orang lain yang saya pakai secara tidak sadar.
4. Dosa Ke Empat : Kebohongan pada Diri Sendiri
Ini adalah bagian paling menohok . Saya berbohong pada diri sendiri setiap hari. Ketika suplier menagih, saya menghindar. Ketika karyawan bertanya soal gaji, saya memberi janji kosong. Ketika anak saya meminta sesuatu yang sederhana, saya mebelika nya dengan uang hasil menunda pmbayaran hutang orang lain. Saya merasa “berjuang”, padahal saya sedang lari dari kenyataan.
Ada saat di mana saya duduk di kursi limasan yang sepi, menatap kursi-kursi kosong, sementara di kepala saa angka-angka hutang menari dengan liar. Saya sadar, saya telah menjadi penjaha bagi bisnis saya sendiri. Saya bukan pemilik bisnis, tapi saya adalah seorang penjudi. Saya bertaruh dengan uang orang lain,dengan keringat karyawan, hanya untuk memuaskan ego baha saya adalah “pengusaha besar”.
Kehancuran di akhir 2023 adalah karma yang adil. Bisnis ini tutup bukan karena nasib buruk, tapi karena saya tidak layak mengelolanya. Saya tidak layak memegang tanggung jawab sebesar itu saat saya tidak bisa mendisiplinkan diri sendiri. Kapal ini karam bukan karena badai, tapi karena saya sendiri yang melubangi dasarnya demi menutupi kesombongan saya. Puncaknya , rumah yang saya bangun dengan keringat itu mangkrak tanpa atap, tanpa lantai, tanpa dinding yang utuh. Di situlah saya sadar, bahwa saya bukan pembisnis. Saya hanyalah seorang penjual yang terjebak dalam ilusi kesuksesan diri sendiri. Saya pulang ke Patuk dengan membawa oleh-oleh berupa tumpukan hutang yang membelenggu setiap nafas saya. Saya kembali ke titik nol , bahkan mungkin di bawah nol. Saya pulang bukan sebagai seorang pengusaha yang saya bayangkan dulu, melainkan sebagai seorang manusia yang baru saja menerima pelajaran paling pahi dalam sepanjang sejarah kehidupan nya.
Di Bawah Langit Gunungkidul, Menjemput Pagi Dengan Air Mata

“Pagi Hari Berat dengan Udara Sejuk yang Terasa Panas dan Sesak”
Masa-masa awal di Patuk, Gunungkidul pada akhir 2023 hingga awal 2024, adalah momen terkelam daam riwayat hidup saya. Bayangkan, seorang Ibu yang pernah memperkerjakan belasan orang , kini harus menatap langit-langit yang tidak ada dirumah nya sendiri. Kami tidur di teras rumah yang hanya berlantai cor-coran, dengan dinding belum di plaster. Dingin nya malam menyusup lewat pori-pori , namun rasa dingin itu kalah oleh rasa malu dan getir yang membakar hati. Empat kendaraan yang dulu kami beli dengan hasil keringat harus hilang di ambil bank. Dan pernah kami tidak memiliki kendaraan, kami hanya meminjam motor di kantor suami. Hingga sampai pada moment suami di berikan pinjaman berupa barang dari kantor, yaitu motor baru yang di bayar dengan sistem potong gaji pada waktu itu.
Setiap pagi, saya bangun bukan dengan semangat untuk berbisnis, melainkan dengan beban pikiran tentang bagaimana memberi makan untuk anak saya hari ini. Saya terpaksa menjual satu persatu aset yang tersisa. Kompor gas ? Jual. Tabung Gas ? Jual. Bahkan satu momen berat saat sepeda pushbike yang dulu saya beli seharga motor beat baru , yang saya beli dengan hasil keringat untuk anak saya, sepeda yang menjadi saksi tawa bahagianya saat latihan, sepeda yang menjadi saksi betapa bahagianya anak saya Innara Yumna Putri Prayoga Yogyakarta nama itu di sebut di podium bergengsi balapan sepeda anak antar Daerah se Indonesia harus saya lepaskan untuk menutupi hutang-hutang di suplier. Satu hal yang terbesit dalam hati ini, sebagai Ibu diriku hanya bisa terus meminta maaf kepada Innara “ Nak maafkan ibu, jika pada saat itu ibu harus mengambil kebagaianmu,untuk sekarang Ibu tidak bisa menjanjikan apapun akan tetapi ibu akan berusaha menebus kesalahan ibu pada waktu itu”
Mengais Harapan di Sela Tugas Kesehatan
“Berangkat Pagi Pulang Petang”
Setelah badai itu, saya sadar saya harus realistis. Saya tidak bisa hanya diam dan meratapi keadaan. Saya mulai mencari pekerjaan , berlatar belakang pendidikan saya, pintu rezeki itu perlahan terbuka. Saya di terima kerja di sebuah rumah sakit besar di Yogyakarta sebagai tenaga kesehatan. Bekerja dirumah sakit adalah ritme yang sangat berbeda dengan berdagang Ada kedisiplinan, ada jadwal yang ketat , dan ada tanggung jawab moral yang yang besar. Namun jiwa saya tetaplah jiwa pedagang yang sudah terlanjur mendarah daging, tidak benar-benar sembuh dari gairah berwirausaha. Saat saya mengenakan seragam dinas , pikiran saya tetap saja mencari peluang. Di sela-sela kesibukan dinas, saya mulai memperkenalkan nasi berkat. Awalnya saya hanya titipkan di jajan pasar, lalu saya tawarkan kepada rekan-rekan kerja di pagi hari. Saya mulai dari skala sangat kecil hanya beberapa bungkus saja . Tanpa target muluk-muluk , tanpa ambisi. Saya hanya memastikan dapur saya tetap bisa berasap setiap harinya.
Perlahan tapi pasti, kehidupan mulai membaik.Hutang-hutang yang dulu membuat saya hampir menyerah, mulai bisa di cicil satu per satu. Saya mulai belajar arti kesabaran, saya belajar bahwa sukses bukan tentang seberapa cepat kita sampai di puncak, tapi tentang seberapa kuat kita bertahan saat harus merangkak dari dasar jurang. Di sepanjang tahun 2025 , saya menabung, tidak hanya dalam bentuk uang ,tapi juga dalam bentuk ketenangan batin dan ilmu. Saya mulai mengevalusi kegagalan saya di tahun-tahun sebelumnya Saya sadar, dulu terlalu banyak “nekat” tapi sedikit “akal”. Saya butuh sistem, saya butuh struktur, dan saya butuh petunjuk arah. Hingga akhirnya ,diujung tahun 2025 , saya membuat keputusan besar : Resign dari Rumah Sakit. Banyak yang bertanya ,” Kenapa melepas pekerjaan yang stabil?” Saya hanya tersenyum. Saya sudah merasa cukup untuk bertahan hidup, sekarang waktunya untuk “hidup”. Saya ingin kembali membangun mimpi itu, tapi kali ini dengan fndasi yang berbeda, bukan lagi sekedar nafsu untuk menjual, melainkan kecintaan membangun warisan dan budaya. Itulah lahir nya “Sego Warisan Simbah”.
Menemukan Kompas di Tengah Inkubasi Bisnis 2026

“Kembali Menemukan Harapan di Sisa-Sisa Reruntuhan”
Awal 2026 menjadi titik balik yang sesungguhnya. Saya tidak lagi membangun usaha dengan mata tertutup seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya mulai menata mimpi di belakang rumah saya di Patuk, rumah yang dulu adalah simbol kehancuran , kini saya jadikan pusat dari Sego Warisan Simbah . Saya menjual nasi bungkus daun jati khas Gunungkidul, sebuah produk yang tidak hanya bicara rasa , tapi soal nilai budaya dan identitas tanah kelahiran saya.
Namun, saya tahu saya butuh bimbingan. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, berbisnis dengan modal nekat tanpa ilmu. Ketika saya melihat pengumuman Inkubasi Bisnis dar Dinas Koperasi DIY, insting saya mengatakan ini adalah jawabanya. Proses kurasi awal terasa sangat menegangkan . Saya menyerahkan profil produk “ Sego Warisan Simbah” dengan perasaan yang tidak menentu. Saat pengumuman kelolosan itu muncul, rasanya bukan hanya senang tapi juga lega. Saya akhirnya menemukan rumah bagi ide-ide saya.
Tahap 1 inkubasi di mulai, dan saya seperti orang yang baru saja di berikan peta setelah sekian lama tersesat di tengah hutan.Di sini saya tidak hanya belajar tentang cara berjualan. Saya belajar banyak hal tentang manajemen keuangan yang sehat, tentang sop, tentang digital marketing dan banyak lagi. Saya ingat momen saat mentor menanyakan tentang unit cost produk saya. Dulu, saya hanya akan menjawab dengan perkiraan kasar. Sekarang ? Saya bisa membedah setiap komponen biaya. Saya melek bahwa kegagalan besar saya di tahun 2023 adalah karena saya mengabaikan detail-detail teknis tersebut. Inbis 2026 bukan sekedar progam pelatihan, ini adalah proses “pembedahan” karakter bisnis saya. Saya diajarkan untuk melepaskan ego sebagai founder yang sok tahu, dan mulai belajar sebagai pengusaha yang mau mendengar.
Mendengar bukan berarti melemah, melainkan cara saya mengumpulkan kekuatan baru. Ketika ego itu runtuh, di situlah ilmu-ilmu baru mulai meresap dengan sempurna. Satya menyadari bahwa kritik dari para mentor bukanlah serangan yang menjatuhkan, melainkan bentuk kepedulian agar Sego Warisan Simbah tidak roboh untuk kedua kalinya. Setiap koreksi pada unit cost dan perbaikan SOP adalah cara mereka membantu saya menambal retakan-retakan masa lalu.
Proses “pembedahan” karakter ini membawa dampak luar biasa pada cara kerja sya sehari-hari . Saya tidak lagi sekedar sibuk membungkus nasi, tetapi mulai teliti membaca angka, merapikan catatan kas, dan memetakan target pasar dengan rasional. Perubahan demi perubahan kecil yang saya terapkan selama tahap 1 ini akhirnya berbuah manis. Ketika pengumuman kelolosan ke Tahap 2 keluar, rasa syukur saya membuncah.Langkah saya kini terasa jauh lebih mantap,bukan lagi sekedar kelas belajar, melainkan medan pembuktian bahwa kompas yang telah saya temukan di dalam inkubasi ini siap menuntun Sego Warisan Simbah menuju arah yang tepat.
Kegagalan tahun 2023 memang meninggalkan bekas lukas, tetapi lewat inkubasi di tahun 2026 ini, luka itu telah bertransformasi menjadi sebuah kebijaksanaan baru. Saya siap melangkah lebih jauh, bukan lagi sebagai petarung yang mengandalkan nekat, melainkan sebagai pembisnis tangguh yang melangkah dengan strategi dan ilmu yang matang.
Transformasi, Pulih , dan Menatap Masa Depan

Sekarang, saat saya menuliskan bab ini,saya sedang berada di tahap 2 inkubasi.Sebuah fase yang tidak pernah saya duga sebelumnya.Perjalanan ini membuat saya sadar : kegagalan di masa lalu bukanlah penghalang, melainkan kurikulum kehidupan yang paling mahal harganya. Di Inbis, saya melihat banyak UMKM lain yang memiliki tantangan serupa. Kami belajar untuk saling terbuka. Rasa malu yang dulu saya bawa pulang ke Gunungkidul , rasa malu karena gagal, karena hutang, karena rumah belum jadi, perlahan memudar. Berganti menjadi rasa bangga, bukan karena saya sudah “ sukses besar “, tapi karena saya berani memperbaiki kesalahan.
2026 bukan lagi tahun di mana saya harus tidur di atas cor-coran tanpa atap. Ini adalah tahun di mana saya mulai membangun pondasi yang kokoh. Sego Warisan Simbah kini bukan sekedar nasi bungkus , melainkan simbol bahwa perempuan, petani, dan siapapun yang pernah berada di titik nadir , berhak untuk bermimpi kembali. Visi saya kedepan sangat jelas , saya ingin menjadikan sego warisan simbah sebagai kuliner yang membawa misi melestarikan warisan budaya nusantara, sembari tetap menjaga profesionalisme bisnis yang saya pelajari dari progam inkubasi ini. Saya tidak hanya ingin “bertahan hidup”, saya ingin “memberi hidup”, memberi lapangan kerja, memberi inspirasi dan membuktikan bahwa dari Gunungkidul , sebuah mimpi besar bisa tumbuh meski sempat terkubur oleh kegagalan.
Kini setiap materi yang saya pelajari di kelas inkubasi bukan lagi sekedar teori bisnis di atas kertas. Strategi keungan , manajemen opeasional, hingga proyeksi pasar yang sedang saya susun di tahap kedua ini adalah peta jalan nyata. Jika dulu saya melangkah dengan mata tertutup dan mengandalkan keberuntungan semata, kini saya melangkah dengan kompas yang jelas.
Tahap 2 inkubasi ini mengajarkan saya bahwa menjadi tangguh saja tidak cukup. Sebuah bisnis yang membawa misi sosial dan budaya harus di kelola dengan profesionalisme yang presisi. Sego Warisan Simbah sedang bertransformasi dar sebuah usaha yang lahir dari keterdesakan, menjadi sebuah entitas yang siap berdampak luas.Saya menyadari, jalan di depan tentu tidak akan langsung mulus tanpa kerikil. Tantangan baru pasti datang menghadang. Namun, mentalitas saya hari ini telah sepenuhnya berubah. Saya tidak lagi takut pada bayang-bayang kegagalan yang lama, karena saya tahu cara untuk bangkit dan mengevaluasinya.
Setiap bungkus Sego Warisan Simbah yang nanti dinikmati oleh pelanggan, di dalam nya akan selalu ada cita rasa perjuangan, ketulusan doa, dan bukti nyata bahwa titik nadir bukanlah akhir dari sebuah cerita. Ini adalah babak baru . Dari tanah Gunungkidul, kami siap melangkah lebih jauh, merawat warisan kuliner nusantara, dan membuktikan bahwa harapan selalu punya cara untuk menang.
Akselerasi dan Pencapaian: Menjemput Peluang di Luar Ekspektasi

Perjalanan inkubasi bisnis yang saya jalani bukanlah sekadar proses belajar teoritis di dalam kelas, melainkan sebuah akselerasi nyata bagi perkembangan “Sego Warisan Simbah”. Sejujurnya, saat memulai langkah ini, saya tidak pernah membayangkan akan berada di titik di mana bisnis saya mendapatkan atensi dan kepercayaan dari berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah maupun lembaga perbankan.
Seiring berjalannya program, pintu-pintu peluang terbuka satu demi satu. Saya mendapatkan kesempatan berharga untuk terlibat aktif dalam berbagai pameran yang difasilitasi oleh Dinas Koperasi UKM DIY . Setiap event saya jadikan sebagai laboratorium nyata untuk membaca selera pasar, memperkuat branding, hingga mengasah cara berkomunikasi dengan pelanggan yang lebih luas.
Daftar pengalaman ini pun terus berkembang. Saya dipercaya untuk mengisi tenant di BPD DIY pada awal bulan, serta mendapatkan pengalaman berharga saat berpartisipasi dalam festival seni bertaraf internasional di Keroncong Plesiran Candi Prambanan. Kepercayaan serupa juga datang dari Rumah BUMN Gunungkidul yang menunjuk saya mengisi tenant dalam ajang Geopark Night Festival di Nglanggeran, serta undangan dari BNI untuk mengisi acara di Pasar Rakyat UMI di Alun-Alun Kidul Yogyakarta, bersanding dengan berbagai UKM unggulan lainnya. Menjadi UKM ang terpilih di Pasar Suwatu setiap Minggu Legi juga merupakan suatu hal yang sangat berharga, karena Sego Warisan Simbah mendapatkan tempat istimewa di Pasar Suwatu by Mill and Bay. Serta masih banyak sekali event di DIY yang tida bisa saya sebutkan satu persatu. Puncaknya, “Sego Warisan Simbah” melangkah lebih jauh ke Jawa Tenga saat dinyatakan lolos kurasi oleh Bank Indonesia untuk berpartisipasi dalam Pameran UKM Rupiah Borobudur 2026 bersama dengan UKM dari Jawa Tengah. Di terima dalam event bergengsi tersebut merupakan validasi besar bagi bisnis yang saya bangun dari rumah di Patuk, Gunungkidul. Namun, bagi saya, pencapaian ini bukan sekadar tentang angka atau popularitas brand.
Di balik setiap kemasan produk dan setiap stand pameran yang saya jaga, ada mimpi besar yang sedang saya perjuangkan. Saya ingin membuktikan kepada seluruh perempuan bahwa kita sangat layak untuk bermimpi besar dan berhak untuk mewujudkannya. Sering kali, perempuan terikat oleh stigma atau tanggung jawab domestik yang membuat mereka merasa tidak mampu melangkah lebih jauh. Saya ingin mematahkan batasan itu melalui karya dan kemandirian.
Cita-cita yang sedang saya bangun bersama “Sego Warisan Simbah” bukan hanya untuk kesuksesan diri sendiri. Saya memiliki visi yang jauh lebih luas: menjadikan bisnis ini sebagai wadah pemberdayaan yang mampu membuka peluang kerja bagi sesama perempuan di Gunungkidul. Saya ingin perempuan-perempuan di sekitar saya memiliki akses untuk mandiri secara finansial, memiliki keahlian yang mumpuni, dan pada akhirnya, memiliki keberanian yang sama untuk mengejar impian mereka sendiri.
Melihat bagaimana bisnis ini bertumbuh dari skala rumahan hingga kini melangkah ke panggung-panggung besar seperti Prambanan dan Borobudur, saya menyadari bahwa peluang besar tidak datang saat kita menunggu, melainkan saat kita berani mengambil langkah dan terus menolak untuk menyerah. Inkubasi bisnis ini telah menjadi jembatan yang mengubah imajinasi saya menjadi realitas yang membanggakan. Kini, saya semakin yakin bahwa langkah kecil yang dilakukan dengan ketekunan dan visi yang jelas, akan membawa kita melampaui batas yang dulunya hanya mampu kita impikan. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan saya siap untuk terus membawa kebermanfaatan bagi sesama.
Mengukir Keabadian dari Puing-Puing Kegagalan
Jika suatu hari nanti , ribuan orang berdiri di depan warung Sego Warisan Simbah , menikmati suaapan demi suapan nasi dibungkus daun jati ini, mungkin mereka hanya menyicipi rasa medok dan gurih bumbu rempahnya. Tapi bagi saya, setiap bungkus nasi itu adalah saksi bisu dari malam-malam di mana saya tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana caranya memberi makan anak saya yang masih sangat kecil??
Banyak yang bertanya, “Apa tujuan akhirmu setelah inkubasi ini ? Ingin jadi yang terbaik ?” Bagi saya pertanyaan ini terasa begitu dangkal. Jika dulu saya menjawab dengan angka, dengan omzet, dengan ambisi untuk menakhlukan pasar, tapi hari ini jawaban saya berbeda. Saya tidak lagi berlari untuk menakhlukan dunia. Karena saya berlari untuk memeluk diri saya sendiri yang pernah hancur. Bagi saya , program ini bukanlah arena gladiator untuk saling menjatuhkan. Ini adalah tempat di mana jiwa-jiwa yang lelah bertemu untuk saling menguatkan. Pemenang nya bukanlah dia yang paling cepat, tapi dia yang paling berani untuk mengakui “ Dulu saya pernah salah, dan hari ini saya belajar untuk memperbaiki”.
Untuk kalian, perempuan yang sedang membaca tulisan ini di sudut ruang yang sunyi, untuk kalian yang air matanya masih terasa panas karena tuntutan hidup, untuk kalian yang merasa bahwa mimpi hanyalah milik mereka yang lahir dengan sendok perak di mulut nya , dengarkan saya !
“Jangan pernah biarkan kemiskinan atau kegagalan menjadi naskah akhir hidupmu. Dunia mungkin bisa merampas semua hartamu.Dunia mungkin bisa menarik kendaraanmu,menyita rumahmu, dan membuatmu tidur di atas lantai yang dingin. Tapi, ada satu hal yang tidak pernah bisa mereka ambil : hakmu untuk bermimpi, hakmu untuk belajar, hakmu untuk merangkak kembali dari jurang yang paling dalam sekalipun.
Saya adalah bukti hidup , bahwa seorang perempuan tidak harus lahir dari keluarga kaya untuk menciptkan sejarah. Kita tidak harus menjadi sempurna untuk memulai sesuatu. Kita hanya perlu menjadi berani. Berani untuk membuka kembali buku yang sudah tertutup, berani meenyalakan kembali tungku yang pernah padam, dan berani untuk percaya bahwa setiap luka yang kita miliki adalah tinta untuk menulis bab terbaik dalam hidup kita. Musuh terbesar kita bukanlah kompetitor yang lebih kaya, tapi musuh terbesar diri kita adalah diri kita sendiri yang kemarin, diri kita yang takut gagal, diri yang sombong akan ego, dan diri yang terlalu sering memaklumi rasa malas. Kemenangan sejati adalah ketika hari ini, kita bangun dan memutuskan untuk belajar satu hal baru yang belum kita ketahui kemarin.Itulah kemenangan sesungguhnya.
Untuk kalian yang sedang jatuh, jatuhlah dengan kepala tegak. Jatuhlah dengan cara yang membuatmu belajar di mana letak kesalahanmu. Karena saat kamu bangkit nanti, kamu tidak akan menjadi orang yang sama. Kamu akan menjadi versi dirimu yang telah ditempa oleh api, lebih kuat, lebih bijak, dan jauh lebih bercahaya. “Sego Warisan Simbah tidak hanya bisnis kuliner. Ini adalah pesan cinta bagi mereka yang sedang berjuang. Bahwa apapun yang kita alami, kemiskinan, hutang, kesedihan, atau keraguan, itu semua hanyalah pupuk. Tanpa malam yang gelap, bintang tak akan bisa bersinar. Tanpa tungku yang membakar daun pepaya di tengah malam buta itu, saya tidak akan pernah tahu seberapa besar kekuatan yang sebenarnya bersemayam di dalam jiwa saya.
Perempuan , jangan pernah kecilkan mimpi-mimpimu hanya karena keadaan sedang tidak berpihak padamu. Langit itu luas, dan Tuhan menciptkan bumi ini cukup lebar untuk menampung cita-citamu. Jika saya bisa bangkit dari teras rumah tanpa atap itu, jika saya bisa merajut kembali mimpi yang pernah terkoyak, maka kamu pun bisa. Jangan berhenti. Jangan Menyerah. Dan ingatlah : kegagalanmu hari ini hanyalah jeda, bukan titik henti.Perjalanan ini adalah warisan Bukan untuk anak keturunanku saja, tapi untuk setiap perempuan yang percaya bahwa dia lebih dari sekedar keadaan yang mengepungnya. Mari kita bangun sesuatu yang lebih besar dari sekesar bisnis, mari kita bangun harapan. Dan ini, hanyalah awal dari sejarah yang sedang kita tulis bersama.
Dalam inkubasi ini , saya tidak hanya menemukan ilmu bisnis, tapi saya menemukan keluarga. Saya melihat wajah-wajah penuh peluh di ruang diskusi, mendengarkan cerita jatuh bangun teman-teman seperjuangan yang luar biasa, dan menyaksikan betapa besarnya tekad yang berkobar di dada masing-masing. Kepada teman-teman seperjuangan di program inkuasi ini, ketahuilah : kita semua adalah pemenang. Namun, kemenangan kita tidak terletak pada siapa yang di akhir nanti berdiri di podium paling atas atau siapa yang paling banyak mendapatkan perhatian. Bukan itu ! Kita semua adalah pemenang karena kita adalah sekumpulan manusia yang memilih untuk tidak menyerah pada keterbatasan. Kita adalah pemenang karena kita memiliki keberanian untuk melepas ego, membuka buku catatan, dan mengakui bahwa kita masih hausa kan ilmu.
Di ruangan inkubasi ini, kita tidak sedang berlomba untuk menjadi yang terbaik di antara yang lain. Kita sedang berlomba untuk menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin. Dan bagi saya, itulah definisi kesuksesan yang paling tinggi. Melihat teman-teman di samping saya berproses, tumbuh dan berani memperbaiki kesalahan bisnisnya , itu adalah pemandangan yang jauh lebih indah daripada piala apapun. Kita menang karena kita menolak untuk stagnan.
Pilar yang Tidak Terlihat Secangkir Kopi dan Lelaki di Balik Layar

“Terimakasih Manusia Baik yang Memberiku Ruang untuk Terus Bertumbuh dan Belajar Banyak Hal”
Di balik narasi tentang perempuan tangguh yang berhasil bangkit dari kehancuran, sering kali ada satu sosok yang cintanya bekerja dalam senyap. Sosok yang tidak menuntut panggung, namun pundaknya menjadi penopang utama saat dunia runtuh. Sosok itu adalah suamiku.
Kami memulai perjalanan ini sejak masih mengenakan seragam abu-abu 13 tahun lalu. Dia adalah laki-laki yang telah melihat semua versi diri saya. Dia ada di sana melihat semua proses ku hingga akhirnya memilih aku menjadi pendamping hidupnya. Dia ikut tersenyum saat istrinya meraih omzet besar di bisnis Hijab nya,dia yang selalu berbangga atas semua proses istrinya yang begitu rumit ini. Dan dia tidak pernah berbalik arah ketika badai bisnis membawa kami jatuh ketitik paling bawah hingga harus tidur di rumah yang belum beratap.
Di dunia yang masih kerap menuntut lelaki untuk dominan dan patriarki, suamiku justru meruntuhkan tembok itu demi kewarasanku. Menemukan cinta di masa sekolah mungkin biasa, namun menjaga cinta itu tetap waras dan kokoh di tengah gempuran hutang dan kemiskinan adalah mukjizat yang nyata. Dia adalah lelaki yang tanpa ragu menggulung lengan bajunya untuk mencuci piring, menyapu halaman,mencuci baju dan mengambil alih pekerjaan rumah lain nya saat aku harus pontang – panting membagi waktu. Ketika ego lelaki lain mungkin tercoreng jika harus berbagi pengasuhan anak, dia justru melakukan nya dengan penuh rasa bangga dan cinta. Ingat sekali momen saat aku mengajari nya memandikan bayi dan membedong saat usia anak kami baru 2 minggu, menghangatkan asi,menidurkan bayi dan banyak hal. Karena 1,5 bulan lagi masa cuti melahirkan ku sudah habis dan kami harus berbagi pengasuhan. Aku bekerja pulang malam dan dialah lelaki yang membersamai anak semata wayang ku di sore hingga malam hari sebelum aku pulang.
Lelaki ini tidak pernah membunuh mimpi-mimpiku . Bahkan di tengah keterbatasan ekonomi kami yang mencekik, dirinya yang memberi ruang , waktu, dan dukungan untuk aku menyelesaikan pendidikan S1 Psikologi. Sebuah mimpi yang saya rasa sangat mustahil. Lelaki ini paham bahwa untuk membuat isrinya tumbuh menjadi manusia seutuhnya , dia harus menjadi sayap, bukan rantai yang membelenggu.
Saat sahur dengan daun pepaya goreng di kebun belakang rumah, dia yang memegang tangan saya dengan gemetar dan meyakinkan saya bahwa semua ini akan berlalu. Dukungan nya pada bisnis ini bukan sekedar verbal , melainkan keringat yang ikut ia cucurkan di dapur , doa dan rapalan di sepertiga malam, serta pundak yang selalu siap menampung tangis saya saat lelah melanda.
Suamiku,telah memberiku sebuah dunia. Bukan dunia yang mewah dengan segala fasilitas nya,melainkan dunia yang penuh rasa aman, penerimaan tanpa syarat , dan pelukan hangat yang membuatku selalu punya alasan untuk pulang. Di atas segalanya, terimakasih telah memberiku ruang untuk terus bertumbuh, menjadi sayap yang menerbangkan ku meraih mimpi-mimpiku, menyelesaikan pedidikanku, dan menjalankan bisnisku, serta tidak pernah sekalipun kau sematkan rantai untuk membelenggu langkahku.
Kita telah melewati masa-masa gelap, di mana untuk tersenyum saja rasanya terlalu mewah. Kita telah membasahi lantai cor rumah yang dingin itu dengan air mata yang sama. Jika hari ini Tuhan mengijinkan kita perlahan bangkit, itu semua karena pundakmu yang tak pernah lelah menopang duniaku yang sempat runtuh. Maka , setelah semua badai yang berhasil kita jinak kan dan semua luka yang perlahan pulih, aku ingin memintamu satu hal lagi ; Mari Terus Bersama. Mari kita jemput kembali kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sempat di rampas oleh keadaan. Mari kita rawat dan besarkan anak kita, kita besarkan bisnis ini, dan kita habiskan sisa waktu yang tumpah ruah di depan kita. Mari kita menua bersama suamiku. Biarkan rambut kita memutih dan kulit kita keriput bersama waktu. Bersamamu aku tidak lagi takut akan hari esok,karena aku tau sedingin apapun malam nanti, tanganmu akan selalu ada untuk menghangatkanku. Dan perjalanan Sego Warisan Simbah ini,selamanya adalah monumen cinta dan warisan kita bersama.
Terimakasih Mempercayaiku Untuk Bertumbuh Kembali
“Terimakasih Orang Baik Yang Telah Memberikan Lentera untuk Kembali Bangkit”
Di dalam perjalanan panjang ini, saya tidak melangkah sendirian. Keberhasilan saya sampai di tahap 2 Inkubasi Bisnis 2026 ini tidak terlepas dari peran pihak-pihak yang telah memberikan ruang dan keyakinan bagi saya untuk bertumbuh. Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Dinas Koperasi dan UKM DIY. Terimakasih telah menjadi rumah bagi para pelaku UKM seperti kami, memberikan fasilitas, bimbingan, dan kepercayaan bahwa bisnis kami , sekecil apapun itu memiliki tempat di ekosistem ekonomi daerah.
Secara khusus , rasa terimakasih yang mendalam saya sampaikan kepada tim Satoeasa atas pendampingan tiada henti. Terimkasih telah bersabar membimbing, membantu kami membedah kerumitan bisnis, serta menuntun kami untuk selalu meletak kan ilmu di atas ego. Kepada seluruh mentor, terimakasih atas setiap kritik yang membangun , atas setiap waktu yang diluangkan , dan atas ilmu-ilmu praktis yang kini menjadi kompas bagi opertional Sego Warisan Simbah. Tanpa bimbingan , mungkin saya masih terjebak dalam labirin kebingungan saya sendiri. Kalian bukan sekedar penyelenggara program, kalian adalah bagian kebangkitan dari sejarah babak baru bisnis ini. Terimkasih telah membersamai proses transformasi kami dari sekedar pedagang menjadi pembisnis yang berilmu.
Program inkubasi ini bukan sekedar garis finish bagi perjuangan saya, melainkan sebuah gerbang pembuka. Kepercayaan yang telah dititipkan oleh Diskop UKM DIY serta seluruh mentor Satoeasa, tidak akan saya sia-siakan. Kalian telah meminjamkan lentera saat saya berjalan dalam kegelapan, dan kini lentera itu telah berubah menjadi api optimisme yang menyala besar dalam dada saya.
Sego Warisan Simbah kini siap melangkah ke babak baru dengan pondasi yang jauh lebih kokoh. Lebih dari sekedar mencari keuntungan, bisnis ini membawa mandat moral untuk ikut menggerakan ekonomi masyarakat di tanah kelahiran saya, Gunungkidul. Saya ingin membuktikan bahwa investasi waktu, ilmu, dan kepercayaan yang telah diberikan kepada saya hari ini, akan berubah menjadi lapangan pekerjaan bagi para perempuan, kesejahteraan bagi petani lokal, dan inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang di titik nadir.
Terimakasih karena tidak pernah memandang sebelah mata mimpi perempuan pesisir ini. Terima kasih karena telah mempercayai saya untuk bertumbuh kembali. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan bersama Sego Warisan Simbah , kita akan merawat warisan budaya nusantara ini hingga tumbuh mengakar dan berdampak luas.
Menarik untuk kamu baca : Cara memulai jualan produk digital
Memeluk Diri Sendiri di Balik Selembar Daun Jati

Dan akhirnya, saya ingin berbisik pada satu orang yang selama ini telah berjuang paling keras di balik layar. Kepada diriku sendiri, Terimakasih.
Pertama-tama , aku ingin meminta maaf kepadamu. Maaf, karena di masa lalu sering memaksamu berjalan terlalu keras hingga melampaui batas lelahmu. Maaf karena sempat membiarkanmu tenggelam dalam rasa bersalah, rasa malu, dan penghakiman yang kejam saat kegagalan itu datang menghantam. Maaf karena sempat meragukan kekuatan yang ada dalam dirimu.
Namun di atas segalanya, aku ingin mengucapkan terimakasih yang tak terhingga. Terimakasih karena tetap memilih untuk terus bernafas saat paru-paru rasanya begitu sesak oleh beban hutang yang menghimpit. Terima kasih telah memilih untuk berdiri tegak, meski kedua kakimu gemetar hebat saat melangkah kembali ke dunia luar.Terima kasih karena tidak membenci dirimu saat situasi mendesakmu harus menukarkan sepeda kesayangan anakmu demi menyambung hidup.
Terimakasih telah bersedia menanggalkan sisa-sisa kesombongan masa lalu, lalu duduk dengan rendah hati diruang inkubasi ini, siap untuk belajar dari nol layaknya seorang murid yang haus akan ilmu. Terima kasih karena tidak membunuh mimpi itu, meski berkali-kali kamu nyaris menguburnya hidup-hidup.
Untuk diriku, ingatlah hari ini dengan baik. Ingatlah bahwa kamu adalah perempuan yang di bentuk oleh deburan ombak pasir Gunungkidul, yang menolak untuk ditundukan oleh keadaan. Ketika dunia menutup pintu kuliahmu, kamu membuka jalanmu sendiri lewat keringatmu hingga mampu mengenyam bangku perguruan tinggi itu. Ketika badai pandemi meruntuhkan segalanya, kamu memilih melipatgandakan keberanianmu. Berbanggalah, karena hari ini kamu tidak lagi berjalan dengan mata tertutup, melainkan sebagai pembelajar yang hebat.
Hari ini, saat aku menatap cermin, aku tidak lagi melihat seorang perempuan yang gagal. Aku melihat seorang arsitek yang sedang membangun kembali istana nya dari puing-puing yang tersisa. Perjalanan ini bukan tentang seberapa jauh aku melangkah, melainkan tentang seberapa jauh aku mencintai proses untuk menjadi utuh.
Kelak,ketika Sego Warisan Simbah tumbuh menjadi pohon yang rindang dan memberi penghidupan bagi banyak orang, tataplah kembali cermin itu. Bisikkan pada dirimu bahwa semua air mata, rasa lapar saat membagi sepotong telur padang, dan rasa lelahmu di masa lalu, telah terbayar lunas. Kamu tidak gagal. Kamu hanya sedang ditempa menjadi sekokoh batu karang.
Aku bangga padamu, karena kamu memilih untuk bangkit, memilih untuk belajar, dan memilih untuk tetap percaya bahwa di balik selembar daun jati yang membungkus nasi ini, ada sebuah kisah tentang cinta, ketangguhan, dan harapan yang tidak akan pernah padam.
” Mari kita berjalan lebih jauh lagi, karena cerita kita baru saja di mulai’
Menenun Esok, Merayakan Proses
Perjalanan yang tertuang dalam lembar-lembar artikel ini bukanlah catatan tentang bagaimana sebuah bisnis kuliner didirikan. Ini adalah sebuah rekaman antropologis dari sebuah jiwa yang menolak menyerah pada takdir kemiskinan dan hantaman kegagalan. Dari pesisir Gunungkidul yang gersang, melewati dingin nya malam , jatuh hancurnya usaha yang di rintis begitu berat hingga akhirnya menemukan kompas baru di ruang Inkubasi Bisnis 2026, setiap langkah adalah guru yang mendidik saya dengan keras namun tulus.
Sego Warisan Simbah kini telah melampaui definisi yang lama. Ia bukan lagi sekerdar pelarian dari rasa lapar, bukan lagi usaha nekat tanpa arah, dan bukan pula sekedar komoditas musiman di kala darurat. Sego Warisan Simbah hari ini adalah sebuah manifesto : bahwa kearifan lokal yang dirawat dengan ilmu, ketulusan, dan profesionalisme mampu menciptakan sebuah dampak nyata yang berkelanjutan.
Melalui Tahap 2 Inkubasi ini, fondasi telah di letak kan , arah telah ditentukan, dan mental telah ditempa. Masa lalu yang penuh luka dan air mata kini telah bertransformasi menjadi bahan bakar yang abadi.Ke depan, perjuangan ini tidak lagi menjadi milik saya seorang diri. Ini adalah perjuangan bersama petani lokal, para perempuan pejuang keluarga, dan seluruh masyarakat yang ingin kami rengkuh bersama.
Saya tahu, jalan di depan masih panjang dan mungkin akan ada badai-badai baru yang menguji. Namun, dengan ilmu di tangan, restu di dalam doa, dan dukungan dari semesta, saya tidak lagi gentar. Kami siap melangkah, siap berdampak, dan siap membuktikan bahwa dari titik nadir terdalam sekalipun, sebuah harapan baru selalu bisa dilahirkan dan tumbuh menjadi besar.
Perjalanan ini belum usai, justru babak terbaik nya baru saja dimulai.
Mau Konsultasi?