

Hubungan antara divisi sales dan marketing sering kali diwarnai perbedaan sudut pandang. Tim marketing, khususnya yang berfokus pada branding, cenderung memprioritaskan strategi jangka menengah dan panjang untuk membangun citra serta persepsi merek. Sementara itu, tim sales biasanya lebih pragmatis karena dituntut mencapai target penjualan dalam waktu dekat. Akibatnya, konflik mengenai prioritas sering muncul dan kedua pihak saling menyalahkan. Padahal, jika masing-masing memahami perannya dengan baik, seharusnya tidak perlu terjadi pertentangan karena keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan.
Dalam praktik bisnis, revenue tetap menjadi prioritas utama karena perusahaan membutuhkan arus kas untuk menjalankan operasional, termasuk membayar gaji karyawan. Brand equity yang kuat tidak dapat langsung digunakan untuk membayar biaya operasional sehari-hari. Oleh sebab itu, muncul istilah “cash flow is king.” Perusahaan didirikan untuk menghasilkan keuntungan, sehingga setiap aktivitas marketing seharusnya memiliki relevansi terhadap pertumbuhan bisnis dan penjualan. Seorang marketer perlu memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap strategi yang dijalankan dan memahami dampaknya terhadap revenue perusahaan. Banyak aktivitas marketing yang terlihat sibuk dan menghasilkan vanity metrics seperti impression, reach, view, atau engagement, tetapi belum tentu memberikan dampak nyata terhadap bisnis. Meskipun metrik tersebut tetap penting, perusahaan membutuhkan lebih dari sekadar angka-angka popularitas.
Menarik Untuk Dibaca : Tekanan Apa Kesadaran ?
Di sisi lain, tidak semua aktivitas marketing dapat memberikan hasil secara instan. Branding merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan waktu. Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua strategi yang memerlukan waktu pada akhirnya akan berhasil. Di sinilah perbedaan antara marketer yang memahami bisnis dan yang tidak. Marketer yang memahami bisnis mampu membedakan mana strategi yang memang membutuhkan waktu untuk berkembang dan mana strategi yang sejak awal tidak memiliki potensi menghasilkan dampak berarti. Oleh karena itu, fokus utama seharusnya berada pada pemecahan masalah bisnis, bukan sekadar mempertahankan solusi yang belum tentu efektif.
Sales dapat diibaratkan sebagai oksigen bagi perusahaan. Tanpa penjualan, perusahaan tidak memiliki pemasukan untuk mempertahankan operasionalnya. Perusahaan dengan modal besar memang memiliki “tabung oksigen” yang lebih besar sehingga dapat bertahan lebih lama, tetapi pada akhirnya cadangan tersebut akan habis jika tidak ada pemasukan. Karena itu, aktivitas penjualan wajib dijaga dan ditingkatkan. Sementara itu, brand dapat dianalogikan sebagai kebugaran atau daya tahan perusahaan. Brand yang kuat membantu perusahaan tetap kompetitif dan mampu mempertahankan kepercayaan konsumen, bahkan ketika industri sedang menghadapi krisis atau isu negatif. Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, perusahaan dengan brand yang kuat biasanya memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan perusahaan yang belum memiliki kepercayaan publik yang kokoh.
Brand juga memberikan keleluasaan dalam strategi harga. Perusahaan yang mengalami penurunan penjualan ketika diskon dikurangi atau harga dinaikkan umumnya memiliki masalah pada kekuatan brand. Konsumen hanya menghargai produk tersebut ketika dijual murah. Sebaliknya, brand yang kuat memungkinkan perusahaan memiliki margin keuntungan lebih besar karena konsumen bersedia membayar lebih tinggi. Pada akhirnya, bisnis tidak bertahan dari besarnya revenue semata, melainkan dari profit yang dihasilkan. Revenue yang besar tetapi margin keuntungannya kecil belum tentu mampu menopang perusahaan. Dalam banyak kasus, diskon yang terus-menerus justru menurunkan average order value dan memperkecil margin keuntungan.
Namun demikian, membangun brand bukanlah hal yang mudah. Tidak sedikit praktisi marketing yang merasa sedang membangun brand, padahal sebenarnya hanya berfokus pada peningkatan awareness semata. Awareness memang bagian dari branding, tetapi bukan inti utamanya. Akibatnya, setelah waktu yang panjang, brand perusahaan tetap tidak berkembang secara signifikan. Kondisi ini sering membuat manajemen kehilangan kepercayaan terhadap aktivitas branding karena merasa investasi yang diberikan tidak menghasilkan dampak nyata. Padahal, brand pada dasarnya adalah persepsi yang terbentuk di benak konsumen mengenai sebuah produk atau perusahaan, terlepas dari apakah perusahaan secara aktif membangun brand tersebut atau tidak. Jika perusahaan tidak membentuk persepsi itu secara sengaja, maka konsumen akan membentuk persepsinya sendiri, dan hasilnya bisa menjadi tidak terarah.
Membangun brand sebenarnya tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Banyak aspek sederhana yang turut membentuk persepsi konsumen, seperti keramahan petugas keamanan, kualitas layanan pelanggan, kemudahan proses komplain dan refund, hingga perilaku karyawan di lapangan. Semua elemen tersebut memberikan dampak terhadap citra perusahaan. Karena itu, branding seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab divisi marketing, melainkan dipahami oleh seluruh bagian perusahaan. Idealnya, pengelolaan brand bahkan berada langsung di bawah arahan pimpinan tertinggi agar setiap departemen memiliki visi yang selaras.
Selain itu, timing dalam membangun brand juga sangat penting. Ketika kondisi keuangan perusahaan masih terbatas, perusahaan perlu berhati-hati dalam mengalokasikan anggaran branding agar tidak mengganggu kestabilan operasional. Namun ketika kondisi keuangan sudah lebih kuat, investasi terhadap brand tidak seharusnya terus ditunda. Persaingan bisnis dan potensi krisis akan selalu ada, sementara brand yang kuat membutuhkan waktu untuk dibangun. Di sisi lain, perusahaan juga perlu berhati-hati agar tidak merusak brand melalui strategi jangka pendek seperti diskon berkepanjangan karena persepsi konsumen yang sudah terbentuk akan sulit diperbaiki.
Pada akhirnya, sales dan brand memiliki peran yang sama pentingnya dalam bisnis. Sales memastikan perusahaan tetap hidup melalui pemasukan yang dihasilkan, sedangkan brand membantu mempermudah proses penjualan dan memperkuat daya tahan perusahaan dalam jangka panjang. Brand yang kuat seharusnya tidak menjadi beban bagi tim sales, melainkan membantu membuat produk lebih mudah dijual.
Karena itu, konflik antara sales dan marketing seharusnya dapat dihindari apabila kedua pihak memahami bahwa mereka saling melengkapi. Di sisi lain, manajemen juga tidak perlu menjadi apatis terhadap branding hanya karena pengalaman buruk di masa lalu. Jika perusahaan belum memiliki kemampuan membangun brand secara efektif, maka melibatkan pihak yang benar-benar memahami strategi branding dapat menjadi solusi yang tepat.
Menarik Untuk Ditonton : Jangan Jadi Tuyul Di Bisnis Sendiri
Mau Konsultasi?