

Perkenalkan, Haryo Wijaksono atau biasa dipanggil Haryo, generasi kedua dari Bangkit Ternak yang berlokasi di daerah Gintungan, Ungaran. Peternakan ini dirintis oleh ayah beliau sejak tahun 1999 dan hingga tahun 2026 masih terus berjalan secara konsisten. Dalam menjalankan usaha peternakan, prinsip utama yang diterapkan adalah disiplin terhadap standar operasional prosedur (SOP). Seluruh proses kerja dibuat tertata, terstruktur, dan terukur agar kualitas pemeliharaan ternak tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Di Bangkit Ternak, fokus utama peternakan adalah sapi jenis simental dan limosin. Pemilihan jenis sapi tersebut dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan riset karena keduanya memiliki pertumbuhan harian yang lebih baik dibandingkan jenis sapi lainnya. Sistem usaha yang dijalankan berfokus pada penggemukan sapi dengan penjualan harian sebagai pasar utama. Namun dalam tiga tahun terakhir, Bangkit Ternak juga mulai mengembangkan pasar penjualan sapi kurban karena dinilai memiliki potensi keuntungan yang lebih besar.
Saat ini kapasitas kandang mencapai sekitar 1.200 ekor sapi, sementara populasi aktif berada di angka 600 ekor. Penurunan populasi terjadi akibat dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang masih berlangsung hingga awal tahun 2026. Kondisi tersebut membuat peternakan lebih berhati-hati dalam membeli sapi dari luar, khususnya sapi yang belum tervaksin atau belum memiliki standar kesehatan yang baik. Selain itu, sistem breeding internal juga belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan populasi ternak.
Menarik Untuk Ditonton : Waspada Jebakan Omset
Bangkit Ternak menerapkan konsep peternakan terintegrasi. Seluruh limbah hasil peternakan seperti kotoran dan urin sapi diolah kembali menjadi pupuk organik. Pupuk tersebut kemudian dimanfaatkan untuk pembibitan tanaman buah dan ladang pangan milik sendiri. Adapun tanaman yang dibudidayakan meliputi jagung, ketela, dan rumput pakan ternak. Hasil panen dari tanaman tersebut kemudian diolah kembali menjadi pakan sapi sehingga tercipta siklus usaha yang saling terhubung dan berkelanjutan.
Selain itu, peternakan ini juga memiliki industri rumahan berupa produksi tahu. Limbah produksi tahu seperti ampas dan air tahu dimanfaatkan kembali sebagai tambahan pakan ternak. Sistem ini membantu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.
Dalam perawatan sapi, Bangkit Ternak menerapkan pola pemeliharaan yang sederhana namun konsisten. Setiap hari kandang dibersihkan secara rutin, sapi diberi pakan berupa rumput, damen, konsentrat, serta tambahan air tahu. Pemberian obat cacing dan vaksin PMK juga dilakukan sesuai kebutuhan. Menurut Haryo, faktor terpenting bukan hanya pada perawatan harian, tetapi juga pada proses sourcing ternak dan pengelolaan biosecurity kandang.
Untuk menjaga kesehatan ternak, setiap sapi yang baru datang wajib melewati kandang karantina sebelum dicampur dengan populasi lainnya. Selain itu, seluruh area keluar masuk kandang dilengkapi fasilitas desinfektan guna meminimalkan risiko penularan penyakit.
Aktivitas operasional peternakan dilakukan secara terstruktur. Terdapat tim khusus untuk pakan hijauan, tim kebersihan kandang, serta tim pencacahan pakan. Pembersihan kandang dilakukan dua kali sehari menggunakan kombinasi sistem manual dan mesin. Limbah kotoran sapi dialirkan langsung menuju area pengolahan limbah yang telah disiapkan.
Keunggulan utama Bangkit Ternak terletak pada efisiensi pakan. Sekitar 80 persen kebutuhan pakan diproduksi sendiri, mulai dari proses penanaman, pengolahan, hingga distribusi ke ternak. Sementara 20 persen sisanya masih diperoleh dari luar, seperti damen yang dibeli dari petani sekitar. Dengan sistem ini, biaya pakan dapat ditekan sehingga margin usaha menjadi lebih stabil.
Selain menjual sapi, Bangkit Ternak juga memanfaatkan seluruh produk sampingan peternakan untuk menambah sumber pendapatan. Pupuk organik hasil pengolahan limbah dijual kepada produsen pupuk dan perkebunan lokal. Mereka juga mulai menjual rumput pakan serta bibit tanaman kepada peternak lain dan beberapa perusahaan besar.
Menariknya, selama bertahun-tahun Bangkit Ternak berkembang tanpa strategi pemasaran formal. Penjualan lebih banyak mengandalkan rekomendasi dari mulut ke mulut, terutama dari komunitas jagal dan pelanggan tetap. Baru pada tahun 2024 mereka mulai memanfaatkan media sosial, khususnya TikTok, untuk memperluas jangkauan pasar. Sejak saat itu, semakin banyak masyarakat mengenal Bangkit Ternak melalui platform digital.
Menurut Haryo, tantangan terbesar dalam dunia peternakan sebenarnya terletak pada ketersediaan pakan dan pengendalian penyakit. Pengalaman menghadapi wabah PMK menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya sistem biosecurity dan prosedur penanganan penyakit yang baik agar peternakan lebih siap menghadapi potensi wabah di masa mendatang.
Menjelang Idul Adha, Haryo berharap kesejahteraan para peternak sapi, kambing, dan domba di Indonesia dapat terus meningkat. Ia juga berharap para peternak mampu bertahan dan memperoleh keuntungan yang cukup untuk menjaga keberlangsungan usaha hingga tahun-tahun berikutnya.
Bagi masyarakat yang ingin membeli sapi, belajar peternakan, atau sekadar berkunjung ke kandang, Bangkit Ternak membuka kesempatan seluas-luasnya. Informasi lengkap mengenai lokasi dan kontak dapat ditemukan melalui media sosial TikTok maupun pencarian Google Maps dengan kata kunci “Kandang Bangkit”.
Menarik Untuk Dibaca : Bagaimana Kabar Sony ?
Mau Konsultasi?