

Perkenalkan, Ahmad Lafilian Romadi atau biasa dikenal sebagai Safa Lafilian, pendiri Melon Ponik yang berlokasi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Usaha yang dijalankan berfokus pada budidaya melon hidroponik premium dengan berbagai varietas unggulan, baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Seluruh budidaya dilakukan di dalam greenhouse sebagai bagian dari konsep pertanian modern yang memungkinkan panen berlangsung hingga lima sampai tujuh kali dalam setahun.
Saat ini, Melon Ponik telah memiliki sekitar 20 titik greenhouse yang tersebar di berbagai wilayah, seperti Jombang, Indramayu, Yogyakarta, Bogor, hingga Jakarta. Perjalanan usaha ini bermula dari keresahan pribadi ketika ayah beliau, seorang petani semangka, sering mengalami gagal panen akibat faktor cuaca. Dari kondisi tersebut muncul keinginan untuk mencari solusi agar tetap dapat bercocok tanam meskipun di musim hujan. Solusi tersebut ditemukan melalui sistem greenhouse dan hidroponik modern.
Lafilian mengaku memulai usaha ini dengan proses yang sangat cepat. Setelah mendapatkan ide, hanya dalam waktu tujuh hari ia sudah melakukan survei lahan, pembayaran tanah, hingga pembangunan greenhouse pertama. Mentalitas untuk bergerak cepat tersebut terbentuk dari berbagai pengalaman bisnis sebelumnya, mulai dari usaha karikatur, bisnis kafe dan kuliner, hingga kontraktor interior yang sempat mengalami beberapa kegagalan.
Menarik Untuk Dibaca : Inspirasi Bisnis Kelapa
Usaha karikatur menjadi titik awal perjalanan bisnisnya ketika ia mengalami kegagalan saat kuliah. Dari usaha tersebut, ia mampu membiayai kebutuhan hidup dan kuliahnya sendiri tanpa bantuan orang tua. Sementara beberapa bisnis lain yang dijalankan sebelumnya justru memberikan banyak pelajaran penting mengenai kegagalan, pengelolaan partner bisnis, cash flow, hingga pentingnya sistem usaha yang jelas.
Modal awal pembangunan greenhouse pertama sekitar Rp20 juta, sedangkan investasi untuk belajar dan membangun sistem justru mencapai sekitar Rp15 juta. Menurutnya, investasi ilmu merupakan hal yang paling penting dalam membangun usaha. Greenhouse pertama dibangun dengan ukuran 6 × 20 meter persegi dan berhasil panen perdana pada November 2023. Saat panen pertama tersebut, perhatian masyarakat mulai meningkat setelah media nasional dan Dinas Pertanian datang meliput kegiatan budidaya mereka.
Salah satu strategi utama Melon Ponik adalah menciptakan sistem bisnis yang dapat balik modal dengan cepat. Menurut Lafilian, greenhouse dapat mencapai break even point (BEP) hanya dalam tiga kali panen apabila strategi penjualannya tepat. Salah satu cara yang digunakan adalah membuka wisata petik buah pada greenhouse baru di suatu wilayah. Wisata tersebut biasanya cukup dilakukan selama tiga kali panen untuk mengembalikan modal pembangunan greenhouse. Setelah pasar mulai jenuh, greenhouse kemudian dapat dialihkan menjadi sistem kontrak atau kerja sama budidaya dengan mitra.
Melon Ponik menerapkan empat sistem budidaya hidroponik, yaitu vertigasi tetes, NFT (Nutrient Film Technique), DFT (Deep Flow Technique), dan kombinasi DFRT. Sistem vertigasi tetes menggunakan media cocopeat dan bersifat open system, di mana nutrisi tidak kembali ke tandon. Sistem ini dinilai paling mudah diterapkan oleh pemula karena tetap aman meskipun listrik padam.
Sementara itu, sistem NFT menggunakan aliran nutrisi tipis menyerupai film air dan memerlukan pasokan listrik yang stabil. Keunggulannya adalah produktivitas buah yang lebih tinggi dibandingkan sistem lain. Sedangkan sistem DFT menggunakan genangan air yang lebih dalam sehingga mempercepat pertumbuhan vegetatif tanaman, walaupun memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit akar.
Melon Ponik juga mengembangkan sistem kombinasi antara DFT dan NFT. Pada fase awal pertumbuhan tanaman digunakan sistem DFT untuk mempercepat perkembangan vegetatif, kemudian saat memasuki fase generatif dialihkan ke sistem NFT agar kualitas dan ukuran buah lebih optimal serta risiko penyakit dapat diminimalkan.
Dalam pemilihan varietas melon, Melon Ponik melakukan berbagai uji coba terlebih dahulu. Hingga saat ini, lebih dari 35 varietas melon telah diuji coba untuk menemukan karakter benih yang paling sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. Beberapa varietas unggulan yang dibudidayakan antara lain melon Dalmansion, Sweet Hami, dan Lavender. Masing-masing memiliki karakter rasa, tekstur, dan pasar yang berbeda.
Varietas premium tersebut dijual dengan harga yang cukup tinggi, terutama ketika masuk ke pasar supermarket modern. Harga melon premium dapat mencapai Rp45.000 hingga Rp65.000 per kilogram, tergantung varietas dan kualitas buah. Untuk menjaga kualitas hasil panen, seluruh proses budidaya diatur melalui SOP harian yang sangat detail, mulai dari pemindahan tanam, pemberian nutrisi, hingga pengendalian hama dan penyakit.
Selain fokus pada budidaya, Melon Ponik juga mengembangkan sistem kemitraan dan edukasi pertanian. Saat ini mereka memiliki lebih dari 400 anggota kemitraan yang tersebar di berbagai daerah. Sistem pembelajaran dibuat sederhana agar dapat dipahami oleh masyarakat awam sekalipun, termasuk mereka yang tidak memiliki latar belakang pertanian.
Ke depan, Melon Ponik juga tengah mengembangkan aplikasi digital yang akan membantu petani dalam menjalankan budidaya secara terstruktur. Aplikasi tersebut dirancang untuk memberikan notifikasi harian terkait aktivitas budidaya yang harus dilakukan petani, sehingga proses pertanian menjadi lebih terukur dan berbasis data.
Dalam menjalankan bisnis, Lafilian sangat menekankan pentingnya sistem manajemen yang lengkap, mulai dari manajemen budidaya, keuangan, pemasaran, hingga sumber daya manusia. Menurutnya, banyak usaha gagal bukan karena produk yang buruk, tetapi karena market dan sistem bisnis yang tidak jelas.
Melon Ponik juga menawarkan beberapa skema kemitraan. Skema pertama diperuntukkan bagi mitra yang memiliki lahan dan ingin membangun greenhouse sendiri dengan pendampingan penuh dari Melon Ponik, mulai dari pembangunan hingga pemasaran hasil panen. Sementara skema kedua menggunakan sistem investasi, di mana seluruh operasional budidaya dikelola langsung oleh tim Melon Ponik dengan sistem bagi hasil yang fleksibel.
Biaya pembangunan greenhouse bervariasi tergantung sistem yang digunakan. Untuk greenhouse bambu dengan sistem vertigasi tetes ukuran 400 meter persegi, investasi awal berkisar Rp115 juta. Sedangkan sistem NFT membutuhkan biaya sekitar Rp185 juta karena instalasinya lebih kompleks, meskipun lebih efisien dalam jangka panjang.
Dari berbagai pengalaman bisnis yang pernah dijalani, Lafilian mengambil banyak pelajaran penting mengenai kolaborasi dan kerja sama. Ia menyadari bahwa membangun bisnis tidak bisa dilakukan sendirian. Karena itu, Melon Ponik saat ini menggandeng banyak pihak yang kompeten di bidang masing-masing, mulai dari konstruksi, advertising, hingga teknologi digital.
Menurutnya, kolaborasi dengan orang-orang yang tepat menjadi salah satu faktor utama yang membuat Melon Ponik berkembang pesat. Ia juga aktif belajar dari komunitas bisnis seperti Indonesia Islamic Business Forum yang banyak memberikan pemahaman mengenai fundamental bisnis dan mentalitas entrepreneur.
Sebagai penutup, Lafilian mengajak generasi muda untuk tidak takut terjun ke dunia pertanian. Menurutnya, pertanian modern berbasis hidroponik tidak identik dengan pekerjaan kotor dan tradisional. Dengan sistem yang tepat, pemasaran yang jelas, dan manajemen yang baik, usaha pertanian dapat menjadi bisnis yang sangat menjanjikan.
Ia percaya bahwa masa depan ketahanan pangan Indonesia berada di tangan generasi muda. Karena itu, ia berharap semakin banyak anak muda berani terjun ke dunia pertanian modern dan membangun inovasi di sektor pangan Indonesia.
Menarik Untuk Ditonton : Enak Tapi Tidak Laku
Mau Konsultasi?