

Perkenalkan, nama saya Johan Ferdian Syah, seorang petani asal Dusun Kerajaan, Desa Jamiwangi, Kecamatan Sembuh, Kabupaten Banyuwangi. Saat ini saya fokus membudidayakan cabai merah besar dengan menggunakan varietas Warrior.
Saya memilih varietas Warrior karena menurut pengalaman saya varietas ini relatif mudah dalam perawatan, memiliki ukuran buah yang lebih besar, serta mempunyai ketahanan terhadap serangan virus. Saat ini tanaman saya telah memasuki usia sekitar 101 hari setelah tanam (HST).
Ketertarikan saya terhadap dunia pertanian sebenarnya sudah muncul sejak lama. Saya menempuh pendidikan di SMK dengan jurusan pertanian. Setelah menyelesaikan pendidikan, saya memutuskan untuk langsung terjun ke lapangan dan mencoba mengembangkan kemampuan di bidang pertanian.
Saya tertarik dengan sektor pertanian karena menyadari bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Bagi saya, sektor pertanian merupakan salah satu bidang yang memiliki peluang besar karena kebutuhan terhadap pangan akan selalu ada.
Inspirasi terbesar saya berasal dari ayah saya sendiri yang sebelumnya juga memiliki latar belakang sebagai petani cabai merah besar. Melihat pengalaman beliau membuat saya semakin tertarik untuk menekuni dunia pertanian.
Namun, perjalanan saya sebagai petani tidak langsung berhasil. Pada awal terjun ke lapangan, saya tidak langsung menanam cabai. Saya pernah mencoba menanam mentimun hibrida, tetapi hasilnya kurang memuaskan. Setelah itu saya mencoba menanam cabai merah kecil varietas Ori, tetapi tanaman mengalami serangan virus Gemini hampir secara keseluruhan sehingga hasil panennya sangat sedikit.
Setelah mengalami kegagalan tersebut, saya kemudian mencoba menanam padi dan jagung. Namun, hasil yang diperoleh juga belum sesuai harapan.
Dari berbagai pengalaman tersebut, saya mulai memahami bahwa menjadi petani tidak hanya sebatas menanam dan kemudian memanen. Seorang petani juga harus mampu mengelola waktu, mengatur keuangan, melakukan perawatan secara konsisten, serta terus belajar dari pengalaman di lapangan.
Saya mulai serius menanam cabai merah besar pada tahun 2024. Pada saat itu saya sebenarnya cukup nekat. Saya sempat berpikir, apabila budidaya cabai merah besar ini gagal, saya akan mencoba bekerja sebagai TKI ke Jepang.
Pertimbangan tersebut muncul karena bekerja sebagai TKI memberikan penghasilan bulanan yang relatif lebih pasti. Sementara itu, dalam pertanian, terdapat risiko kegagalan yang cukup besar.
Namun, setelah saya menjalani budidaya cabai merah besar dan mendapatkan hasil yang memuaskan, keinginan untuk bekerja ke Jepang akhirnya tidak ada lagi.
Menarik Untuk Dibaca : 5 Habbit Sederhana Untuk Pengusaha
Alhamdulillah, dari dua musim tanam cabai merah besar, hasil yang saya dapatkan sudah mampu digunakan untuk membeli sepeda motor dan mobil.
Bahkan, pengalaman saya tersebut juga membuat teman saya yang sebelumnya berangkat ke Jepang menjadi tertarik dengan sektor pertanian. Setelah melihat hasil yang saya peroleh, dia justru memiliki keinginan untuk menjadi investor di bidang pertanian di Indonesia.
Pada musim pertama, saya menggunakan sistem tanam dua jalur dengan luas lahan sekitar 3.000 meter persegi. Dari sistem tersebut, saya mendapatkan hasil sekitar 6,2 ton.
Pada musim kedua, saya mencoba meningkatkan populasi tanaman dengan menggunakan sistem tiga jalur, tetapi bagian tengah tetap saya beri jarak agar tanaman memiliki ruang yang cukup. Hasilnya meningkat menjadi sekitar 8,3 ton.
Dari perbandingan tersebut, terdapat peningkatan hasil lebih dari dua ton meskipun luas lahannya tetap sama.
Karena itu, saya mencoba melakukan pengembangan kembali pada musim ketiga. Saya menggunakan sistem tiga jalur dengan jarak tanam yang dibuat lebih rapat. Tujuannya adalah memaksimalkan penggunaan lahan dan meningkatkan produktivitas.
Pada musim ini, tanaman saya telah memasuki petikan ke-9 dan sudah menghasilkan sekitar 4 ton.
Sebelumnya, ada tetangga yang sempat bertanya apakah sistem tiga jalur dengan jarak yang cukup rapat tersebut benar-benar bisa menghasilkan secara maksimal. Saya menjawabnya dengan pembuktian melalui hasil di lapangan. Ternyata, dengan pengelolaan yang tepat, sistem tersebut tetap mampu menghasilkan panen yang baik.
Menurut saya, kunci keberhasilan dalam bertani bukan hanya terletak pada varietas yang digunakan, tetapi juga pada ketelatenan, konsistensi, kedisiplinan, serta manajemen keuangan dan waktu.
Saya menganggap kegagalan yang pernah dialami sebagai sebuah pondasi untuk membentuk pribadi yang lebih kuat. Dari kegagalan tersebut saya belajar memahami kondisi tanaman, mengenali penyakit, mengatur perawatan, serta menghitung risiko dan biaya.
Dalam budidaya cabai, saya tidak menemukan teknik yang terlalu khusus. Secara umum, sistemnya tetap seperti budidaya cabai pada umumnya. Dalam pengolahan lahan, saya menggunakan kapur dolomit dan Pertipos.
Untuk pemupukan, saya menyesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman. Pada fase vegetatif, saya menggunakan NPK YaraMila Unik yang dikombinasikan dengan Pertipos. Sementara pada fase generatif, saya mengganti pupuk NPK tersebut dengan YaraMila Winner dan menambahkan unsur pendukung lainnya sesuai kebutuhan tanaman.
Pemberian pupuk saya lakukan secara rutin dengan interval sekitar tujuh hari sekali. Untuk sistem pengocoran, pupuk diberikan langsung di sekitar pangkal batang karena pada sistem tanam yang saya gunakan tidak terdapat lubang khusus untuk pupuk susulan.
Dengan jumlah tanaman yang lebih banyak, kebutuhan pupuk memang harus diperhitungkan. Namun, menurut saya peningkatan penggunaan pupuk tersebut masih sebanding dengan peningkatan populasi tanaman dan potensi hasil yang diperoleh.
Pada sistem dua jalur sebelumnya, populasi tanaman saya sekitar 14.000 lubang tanam. Sementara pada sistem tiga jalur yang lebih rapat, populasi meningkat menjadi sekitar 20.000 tanaman.
Untuk kebutuhan tenaga kerja, menurut saya tidak jauh berbeda dengan sistem dua jalur. Yang perlu ditingkatkan justru adalah intensitas perawatan dan pengawasan atau controlling di lahan.
Dengan populasi yang lebih banyak dan jarak tanam yang lebih rapat, tanaman harus lebih sering diperhatikan agar apabila muncul gangguan dapat segera ditangani.
Beberapa hama yang saya hadapi dalam budidaya cabai antara lain thrips, kutu kebul, dan ulat.
Untuk penyemprotan, saya melakukan pengaturan interval secara rutin. Saya juga menerapkan sistem pergantian atau rolling bahan aktif agar pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan lebih baik.
Saya memiliki sekitar lima jenis bahan aktif yang berbeda untuk digunakan dalam sistem rolling. Untuk mempermudah pengaturan, setiap bahan aktif saya beri nomor sehingga tidak membingungkan ketika menentukan jadwal penggunaan insektisida maupun fungisida.
Sebagai contoh, dalam salah satu penyemprotan saya menggunakan bahan aktif abamektin, kemudian fungisida seperti mankozeb, serta menambahkan nutrisi sesuai kebutuhan tanaman.
Namun, pemilihan insektisida maupun fungisida tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Kondisi tanaman harus diperiksa terlebih dahulu. Kita harus mengetahui hama atau penyakit apa yang sedang menyerang tanaman sebelum menentukan bahan aktif yang digunakan.
Karena itu, controlling atau pengawasan tanaman menjadi sangat penting. Petani harus sering turun ke lahan agar dapat mengetahui kondisi tanaman secara langsung.
Menurut pengalaman saya, masa paling krusial dalam budidaya cabai adalah sejak satu hari setelah tanam hingga sekitar 60 hari setelah tanam. Pada fase tersebut tanaman masih membutuhkan perhatian yang sangat intensif.
Selain itu, terdapat masa kritis lainnya, yaitu setelah tanaman mendapatkan pemupukan. Setelah pemupukan biasanya akan muncul tunas-tunas baru. Tunas baru tersebut dapat menjadi sasaran yang mudah bagi hama dan penyakit.
Oleh karena itu, setelah pemupukan saya selalu meningkatkan pengawasan terhadap kondisi tanaman.
Salah satu tantangan terbesar dari sistem tiga jalur dengan jarak tanam yang lebih rapat adalah kelembapan yang lebih tinggi.
Namun, kondisi cuaca yang saat ini cenderung panas membantu mengurangi risiko kelembapan berlebihan. Meski demikian, pengawasan tetap harus dilakukan karena kondisi lahan yang terlalu lembap dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit.
Selain kondisi tanaman, lokasi lahan juga memengaruhi waktu penyemprotan. Jika lahan berada di area persawahan, saya relatif lebih leluasa menentukan waktu penyemprotan. Namun, jika lahan berada di sekitar permukiman, saya harus mempertimbangkan aktivitas masyarakat.
Apabila melakukan penyemprotan pada pagi atau siang hari, tentu harus mempertimbangkan warga yang sedang beraktivitas. Karena itu, untuk lahan yang berada di sekitar permukiman, saya memilih melakukan penyemprotan pada malam hari ketika aktivitas masyarakat sudah jauh berkurang.
Menurut saya, agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan secara konsisten, seorang petani harus memegang prinsip lima tepat, yaitu:
Jika kelima prinsip tersebut dapat diterapkan dengan baik, insyaallah tanaman akan tumbuh secara optimal, baik menggunakan varietas cabai tertentu maupun pada komoditas pertanian lainnya.
Bagi saya, keberhasilan budidaya bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak pupuk atau obat yang digunakan, tetapi bagaimana semuanya diberikan secara tepat sesuai kebutuhan tanaman.
Jika ditanya apa yang membedakan saya dengan petani lainnya, menurut saya salah satunya adalah konsistensi dalam melakukan perawatan dan controlling lahan.
Saya termasuk orang yang cukup ambisius dalam mengejar hasil. Namun, ambisi tersebut harus diimbangi dengan kedisiplinan dan ketelatenan.
Pada awalnya saya mengira bahwa menanam cabai merah besar merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Setelah menjalaninya sendiri, ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan.
Yang paling penting adalah memiliki kemauan untuk belajar, disiplin melakukan perawatan, dan konsisten mengawasi tanaman.
Dari pengalaman yang saya jalani, saya melihat bahwa menjadi petani merupakan pekerjaan yang sangat menjanjikan.
Sebelumnya saya memiliki pemikiran bahwa jika ingin cepat mendapatkan banyak uang, salah satu jalannya adalah menjadi TKI. Saya bahkan sempat memiliki rencana untuk berangkat ke Jepang apabila usaha pertanian saya gagal.
Namun, pengalaman membuktikan hal yang berbeda. Melalui budidaya cabai merah besar, saya bisa mendapatkan hasil yang cukup besar. Dari dua musim tanam saja, saya sudah mampu membeli sepeda motor dan mobil.
Hal tersebut membuat saya semakin yakin bahwa sektor pertanian memiliki peluang ekonomi yang sangat besar apabila dikelola secara serius dan profesional.
Pertanian bukan hanya pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat menjadi sebuah bisnis yang menghasilkan dan terus dikembangkan.
Bagi anak muda yang tertarik untuk terjun ke dunia pertanian tetapi masih merasa ragu, pesan saya sederhana: jangan takut untuk mencoba.
Tidak ada keberhasilan tanpa keberanian untuk memulai. Kegagalan bukan berarti akhir dari perjalanan. Justru dari kegagalan kita bisa belajar, memperbaiki cara, dan menjadi lebih kuat.
Saya sendiri pernah mengalami kegagalan ketika menanam mentimun, cabai merah kecil, padi, maupun jagung. Namun, pengalaman tersebut akhirnya menjadi bekal ketika saya mulai serius menanam cabai merah besar.
Jangan selalu berpikir bahwa kesuksesan hanya bisa diperoleh dengan bekerja di luar negeri atau di sektor tertentu. Jika dikelola dengan serius, pertanian juga mampu memberikan hasil yang sangat baik.
Pesan saya kepada anak-anak muda yang ingin memulai usaha di bidang pertanian adalah:
“Lek wani ojo wedi-wedi, lek wedi ojo wani-wani.”
Artinya, ketika sudah berani mengambil keputusan, jangan terlalu banyak takut. Namun, keberanian tersebut juga harus disertai dengan ilmu, perhitungan, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar.
Jangan takut untuk mencoba. Mulailah dari apa yang kita miliki, belajar dari setiap kegagalan, dan terus konsisten dalam prosesnya.
Menarik Untuk Ditonton : Cara Camilan DL Raup Cuan
Mau Konsultasi?