

Saya Ida Ayu Wijaya, pemilik usaha Bandung Presto Berkah H2 yang berlokasi di Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Usaha ini dijalankan dari satu lokasi yang sekaligus menjadi tempat tinggal dan tempat produksi. Awalnya, saya berjualan ikan basah, khususnya ikan laut, di depan rumah. Namun, ketika penjualan ikan basah mulai sepi, saya berinisiatif mengolah ikan bandeng menjadi bandeng presto. Dari situlah usaha Bandung Presto Berkah H2 mulai berkembang.
Pada awalnya, saya menjual bandeng presto dalam bentuk matang dan digoreng. Produk tersebut kemudian dititipkan ke pasar-pasar dan pedagang sayur keliling. Pola penjualannya cukup panjang dan melelahkan. Pada pagi hari, saya berjualan di rumah sekaligus melakukan proses penggorengan. Sore hari, saya bersama suami berbelanja ikan ke Lamongan. Kami biasanya berangkat dini hari dan kembali sekitar pukul 10.00 hingga 11.00. Setelah ikan diturunkan di rumah, sebagian ikan yang akan dijual di pasar dibawa ke pasar untuk dijual. Jika masih ada produk yang tidak habis terjual, produk tersebut kemudian diambil kembali dan dititipkan kepada pedagang sayur keliling atau dijual kembali di depan rumah.
Pada masa itu, aktivitas produksi berlangsung hampir tanpa henti. Setelah berjualan pada pagi hari, saya melanjutkan proses produksi pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan penjualan ke pasar pada keesokan paginya. Kondisi tersebut tentu sangat melelahkan, baik secara fisik maupun pikiran. Selain harus mengatur produksi dan penjualan, saya juga harus menghadapi kondisi bahan baku yang tidak selalu seragam. Ikan bandeng yang saya dapatkan dari Lamongan merupakan ikan rucah dengan ukuran yang beragam. Dalam satu kemasan bisa terdapat tiga, empat, lima, enam, bahkan hingga tujuh ekor ikan. Bandeng dengan ukuran tertentu yang tidak sesuai dengan kebutuhan program MBG harus dijual secara eceran, sehingga membutuhkan tenaga dan waktu tambahan dalam proses pemasaran.
Menarik Untuk Dibaca : Anti Gengsi Untuk Bertani
Dalam proses produksi, ikan terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran, kemudian dicuci hingga bersih sebelum dimasukkan ke dalam panci presto. Panci presto yang digunakan kemudian saya modifikasi sendiri dengan menambahkan sarangan atau loyang khusus. Modifikasi tersebut dilakukan karena panci bawaan tidak memiliki sarangan yang sesuai untuk proses produksi dalam jumlah besar. Dengan adanya sarangan yang dibuat dan disusun secara khusus, ikan dapat ditata secara bertingkat dan proses produksi menjadi lebih cepat serta lebih efisien. Dalam satu kali proses memasak, kapasitas produksi dapat mencapai sekitar 1,5 kuintal dengan satu kali penggunaan kompor. Secara keseluruhan, dalam sehari produksi dapat mencapai sekitar 1 hingga 1,5 ton.
Pengembangan teknik produksi tersebut juga tidak terjadi secara instan. Dahulu, saya belajar membuat bandeng presto dari almarhum Pak Budi yang tinggal di daerah Galek. Pada awalnya, proses produksi hanya menggunakan bandeng yang ditata dengan daun-daunan. Namun, semakin banyak air yang digunakan, ikan justru menjadi terlalu lembek dan mudah hancur. Bandeng sering mengalami kerusakan dan terlepas dari tulangnya. Saya kemudian mencoba berbagai cara hingga akhirnya membuat sendiri sarangan dan loyang-loyangan yang dimodifikasi untuk menyesuaikan kebutuhan produksi. Daun yang digunakan juga harus memiliki ukuran yang cukup panjang agar dapat membantu proses penataan ikan. Dari berbagai percobaan tersebut, akhirnya saya menemukan teknik yang lebih sesuai sehingga proses produksi menjadi lebih efektif dan kualitas bandeng dapat lebih terjaga.
Setelah dibumbui, bandeng dimasak menggunakan presto selama kurang lebih satu jam. Setelah matang, produk dikemas sesuai dengan permintaan pelanggan atau pedagang. Ada produk yang dikemas secara vakum, ada yang menggunakan kemasan biasa, dan ada pula yang dikemas menggunakan keranjang. Selain bandeng presto matang, kami juga menyediakan berbagai produk ikan mentah, seperti nila, nila filet, patin filet, lele filet, dan lele yang telah dibersihkan dari kotorannya.
Dalam perjalanan usaha, saya juga pernah menghadapi berbagai keluhan dari pelanggan, terutama dari pihak dapur atau pelanggan yang membutuhkan bandeng dalam jumlah besar. Karena tulang ikan yang telah dipresto menjadi sangat lunak, ikan menjadi lebih mudah patah ketika digoreng. Akibatnya, ada pelanggan yang kesulitan menggoreng bandeng dan mengalami kerusakan produk dalam jumlah besar. Dalam satu kali keluhan, jumlah ikan yang tidak berhasil digoreng bahkan dapat mencapai 200 hingga 300 ekor. Meskipun produk yang rusak tersebut terkadang tidak dikembalikan kepada saya, saya tetap berusaha menangani keluhan pelanggan dengan memberikan kompensasi sesuai dengan kondisi dan kesepakatan. Jika pelanggan meminta penggantian sebagian, saya berusaha memenuhinya.
Bagi saya, menjaga kepercayaan pelanggan jauh lebih penting daripada sekadar menghitung keuntungan dalam satu transaksi. Saya selalu berpikir bahwa apabila ada orang yang berbuat tidak jujur kepada saya, biarlah menjadi urusannya dengan Tuhan. Saya memilih untuk tetap menjalankan usaha dengan cara yang baik dan tidak mengambil hak orang lain. Prinsip saya sederhana, yang penting saya tidak salah jalan dan tetap berusaha memberikan yang terbaik. Saya percaya bahwa selama kita berusaha dengan cara yang benar, rezeki akan datang dengan sendirinya. Ada kalanya pelanggan memiliki utang dan tidak membayar, bahkan pernah ada piutang yang akhirnya tidak kembali. Namun, saya tetap berusaha menjalankan usaha dan menerima apa yang menjadi rezeki saya.
Untuk pemasaran, saat ini saya lebih banyak menggunakan TikTok dan Facebook, dengan TikTok sebagai media yang paling efektif. Konten yang saya buat lebih banyak menampilkan aktivitas produksi daripada promosi penjualan secara langsung. Salah satu konten mengenai proses produksi pernah menjadi viral dan menghasilkan sekitar 300 orang yang menghubungi melalui pesan langsung untuk membeli produk. Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa konten yang menampilkan proses nyata di balik produksi justru dapat menarik perhatian masyarakat dan membuka peluang penjualan yang lebih besar.
Saat ini, adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga memberikan peluang baru bagi usaha kami. Saya mendapatkan pesanan dalam jumlah besar dari beberapa dapur. Dalam satu hari, kebutuhan dapat mencapai sekitar 20.000 ekor ikan dan melibatkan sekitar 10 dapur. Saya sendiri masih terjun langsung dalam proses pekerjaan, terutama dalam mengawasi dan membantu proses produksi. Untuk pekerjaan memasak dan pengemasan, sebagian sudah saya serahkan kepada tenaga kerja. Namun, saya tetap ikut bekerja dan mengawasi proses produksi secara langsung. Saya memang terbiasa bekerja dan merasa tidak nyaman jika hanya duduk diam. Karena itu, hingga sekarang saya masih terlibat langsung dalam berbagai aktivitas usaha.
Saya mulai mengenal dunia usaha sejak kecil. Sejak sekolah dasar, saya sudah membantu ibu berjualan. Ketika duduk di sekolah menengah pertama, saya juga sudah ikut membantu usaha keluarga. Saya bahkan pernah berjualan kopi dari sore hingga malam hari. Saya memang hanya lulusan SMP karena sejak awal saya memiliki keinginan untuk membangun usaha sendiri dan tetap dapat bekerja dari rumah. Bagi saya, usaha memang memiliki risiko naik dan turun, tetapi usaha juga memberikan kesempatan untuk berkembang. Berbeda dengan pekerjaan sebagai pegawai yang cenderung memiliki pola yang lebih monoton, menjalankan usaha memberikan ruang bagi saya untuk terus belajar dan mencari peluang baru.
Suami juga memiliki peran penting dalam usaha ini. Saya lebih banyak menangani proses produksi dan mengatur kegiatan di rumah, sedangkan suami membantu dalam urusan belanja bahan baku. Untuk mendapatkan ikan, suami mengambil langsung dari Lamongan setiap dua hari sekali. Pembagian peran tersebut membantu kami menjalankan usaha sekaligus mengurus keluarga.
Salah satu alasan utama saya tetap memilih menjalankan usaha dari rumah adalah karena saya tidak ingin meninggalkan anak-anak. Saya ingin dapat bekerja sambil tetap mendampingi dan mengawasi mereka. Sejak kecil, anak-anak juga saya biasakan untuk membantu pekerjaan sederhana di rumah. Bahkan sejak usia tiga atau empat tahun, mereka sudah saya ajari untuk melakukan pekerjaan ringan seperti melipat atau merapikan pakaian. Bagi saya, hal tersebut bukan sekadar meminta bantuan, tetapi juga bagian dari proses mendidik anak agar terbiasa mandiri, bertanggung jawab, dan memahami bagaimana perjuangan orang tuanya dalam menjalani kehidupan.
Saya sendiri berasal dari keluarga broken home. Ibu dan ayah saya sudah memiliki kehidupan masing-masing, sehingga sejak kecil saya belajar untuk berusaha dan mengandalkan diri sendiri. Ketika membutuhkan sesuatu, saya tidak bisa selalu berharap kepada orang tua. Karena itu, saya memiliki keinginan besar agar anak-anak saya kelak tidak mengalami kesulitan seperti yang pernah saya alami. Saya ingin memiliki tabungan untuk masa depan kedua anak saya sehingga ketika mereka membutuhkan sesuatu, saya tidak perlu bingung mencari pinjaman atau berutang.
Dalam perjalanan kehidupan, saya juga pernah menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan masalah keluarga. Anak kedua saya beberapa kali harus menjalani perawatan di rumah sakit sejak usia kecil. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri, terutama karena kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Namun, saya selalu berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap bekerja. Bahkan ketika sedang hamil, saya tetap berusaha menjalankan usaha selama kondisi tubuh memungkinkan. Saya percaya bahwa dalam kondisi apa pun, seseorang harus berusaha untuk dapat berdiri di atas kakinya sendiri dan mencari jalan keluar dengan kemampuan yang dimiliki.
Saya juga bukan orang yang gemar menghabiskan uang untuk kepentingan pribadi. Saya tidak terlalu suka berdandan, bepergian, atau menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Bagi saya, selama kebutuhan keluarga dan anak-anak dapat terpenuhi, itu sudah cukup. Jika ada keuntungan dari usaha, saya lebih memilih menggunakannya untuk kebutuhan rumah tangga dan keluarga. Prinsip saya adalah tidak mengejar keinginan yang sifatnya sementara. Saya lebih memilih mengumpulkan sedikit demi sedikit hingga terkumpul cukup banyak. Setelah kebutuhan utama dan tabungan keluarga terpenuhi, barulah saya dapat menggunakan sebagian hasil usaha untuk menikmati kehidupan bersama keluarga.
Dalam menentukan harga jual, saya juga berusaha mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat. Misalnya, jika harga bandeng mentah sekitar Rp20.000, secara perhitungan produk matang seharusnya dapat dijual sekitar Rp40.000. Namun, jika harga tersebut sulit diterima pasar, saya memilih menjualnya dengan harga sekitar Rp30.000 agar tetap dapat terjangkau oleh konsumen. Keuntungan yang diperoleh kemudian harus digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti biaya karyawan, bumbu, operasional, dan kebutuhan usaha lainnya. Saya memahami bahwa tidak semua konsumen memiliki kemampuan ekonomi yang sama. Saya sendiri pernah merasakan bagaimana kondisi ekonomi yang pas-pasan, sehingga saya berusaha agar produk tetap dapat dibeli oleh masyarakat dengan harga yang wajar.
Dalam menjalankan usaha, saya juga pernah mendapatkan tawaran kerja sama, termasuk tawaran dari affiliate dan pihak lain. Namun, untuk saat ini belum semuanya dapat saya terima karena keterbatasan waktu dan tenaga. Saya masih mengurus banyak hal sendiri, mulai dari menerima dan membalas pesan WhatsApp, mengecek pesanan, mengatur produksi, hingga mengarahkan tenaga kerja. Karena itu, saya harus pintar mengatur waktu. Bahkan pada hari-hari tertentu, saya memilih menutup pemesanan terlebih dahulu agar dapat fokus memenuhi pesanan yang sudah masuk. Untuk produksi MBG, jumlah pesanan dapat mencapai sekitar 15.000 hingga 20.000 ekor ikan dalam satu periode produksi.
Ke depan, saya memiliki keinginan untuk memiliki tempat produksi yang lebih layak dan profesional. Namun, untuk saat ini saya masih mempertimbangkan kemampuan dalam membagi waktu dan mengelola usaha. Saya masih merasa nyaman menjalankan produksi dari rumah karena dapat tetap dekat dengan anak-anak dan keluarga. Bagi saya, rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga menjadi tempat saya membangun usaha dan masa depan keluarga.
Saya memiliki cita-cita sederhana, yaitu ingin anak-anak saya memiliki masa depan yang lebih baik dan tidak mengalami kesulitan seperti yang pernah saya alami. Saya ingin mereka tumbuh tanpa harus merasakan kesulitan mencari utang ketika membutuhkan sesuatu. Karena itu, saya berusaha bekerja keras, menabung, dan mengelola hasil usaha sebaik mungkin.
Menarik Untuk Ditonton : 5 Hal Bisnis Cepet Bangkrut
Pesan saya kepada siapa pun yang sedang berjuang dalam kehidupan adalah jangan terlalu mengejar keinginan yang sifatnya sementara. Belajarlah untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit dan memenuhi kebutuhan utama terlebih dahulu. Jangan takut untuk berusaha dan belajar berdiri di atas kaki sendiri. Selama kita mau bekerja keras, mencari peluang, dan tetap berada di jalan yang benar, insyaallah akan selalu ada jalan dan rezeki yang diberikan oleh Allah. Bagi saya, yang terpenting bukan hanya seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tetapi bagaimana usaha tersebut dapat menjadi jalan rezeki yang halal, memberikan manfaat bagi keluarga, dan membawa masa depan yang lebih baik bagi anak-anak.
source : pecah telur
Mau Konsultasi?