

Nama saya Wisnu Bayu Prabowo. Saya berdomisili di Dusun Perumbanan, Desa Purwajati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Saat ini saya bersama adik saya, Witanamarjati, mengelola usaha keluarga yang bergerak di bidang budidaya dan pemasaran ubi madu Wonosobo. Dalam bisnis keluarga ini, saya bertanggung jawab pada bidang operasional dan pemasaran, mulai dari pengelolaan lahan, penanaman, pembibitan, perawatan tanaman, proses panen, pencucian, pengelompokan kualitas atau grading, hingga proses pengiriman kepada konsumen. Sementara itu, adik saya yang merupakan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bertanggung jawab pada bidang administrasi, pembukuan, akuntansi, serta pengelolaan keuangan usaha.
Usaha ubi madu ini pada awalnya dirintis oleh ayah kami sekitar pertengahan tahun 2013. Pada masa awal, usaha tersebut masih dalam skala kecil dengan pengelolaan lahan sekitar satu hingga dua hektare. Kemudian, sekitar tahun 2015–2016, keluarga kami mulai lebih serius dan fokus mengembangkan usaha budidaya ubi madu sebagai bisnis utama. Sebelum terjun sepenuhnya ke dalam usaha keluarga, saya sempat mengikuti program magang dan belajar pertanian di Jepang. Pengalaman tersebut memberikan banyak pengetahuan, khususnya mengenai penerapan teknologi pertanian, sistem pengelolaan usaha, kedisiplinan, serta manajemen pertanian. Meskipun tidak semua teknologi dan peralatan dari Jepang dapat diterapkan secara langsung di Indonesia, ilmu, pengalaman, dan sistem manajemennya dapat kami adaptasi dan terapkan dalam pengelolaan usaha ubi madu di Wonosobo.
Menarik Untuk Dibaca : NVIDIA Tantang APPLE Silicon
Pada awalnya, kami sebenarnya tidak secara langsung bercita-cita untuk meneruskan usaha pertanian keluarga. Seperti kebanyakan anak muda, kami dahulu memiliki pemikiran bahwa pekerjaan yang ideal adalah pekerjaan yang bersih, ringan, memiliki gaji besar, dan menghasilkan keuntungan yang baik. Namun, ayah kami terus memberikan pemahaman mengenai prospek pertanian dan potensi usaha yang dapat dikembangkan. Seiring berjalannya waktu, kami mulai memahami, menikmati, dan merasa nyaman menjalankan usaha tersebut. Prinsip yang kami pegang dalam menjalankan usaha adalah memperoleh keuntungan dengan cara yang halal serta memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.
Salah satu produk utama yang kami kembangkan adalah ubi madu Wonosobo. Ubi ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan jenis ubi lainnya. Ketika dipanggang atau dioven, ubi madu dapat mengeluarkan cairan manis alami yang menyerupai madu. Karena karakteristik tersebut, ubi madu lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan siap konsumsi, khususnya dengan cara dipanggang. Selain itu, saat ini ubi kembali mengalami peningkatan popularitas, terutama di kalangan generasi muda yang mulai memiliki kecenderungan mengonsumsi makanan alami atau real food. Jika dahulu ubi lebih banyak dipandang sebagai makanan pengganti pangan pokok, saat ini ubi telah berkembang menjadi makanan ringan atau camilan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Ubi madu sendiri memiliki beberapa jenis dan karakteristik, di antaranya rencing merah, rencing hijau, serta jenis AC seperti AC putih dan AC kuning. Masing-masing memiliki karakteristik dan kegunaan yang berbeda. Ubi madu secara khusus lebih sesuai untuk dipanggang karena dapat menghasilkan cairan manis alami, sedangkan beberapa jenis ubi lainnya tidak memiliki karakteristik tersebut. Budidaya ubi madu juga tidak dapat dilakukan secara optimal di semua wilayah. Meskipun tanaman ini dapat tumbuh di berbagai daerah, kualitas dan produktivitasnya sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat, kondisi tanah, iklim, serta lingkungan tumbuh. Di wilayah Wonosobo, kami memilih lahan pada ketinggian sekitar 650 hingga 1.000–1.100 meter di atas permukaan laut. Namun, tidak semua wilayah pada ketinggian tersebut sesuai untuk budidaya ubi madu karena ketinggian yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan perkembangan umbi kurang optimal.
Dari sisi manfaat, ubi madu memiliki kandungan karbohidrat dan mineral yang cukup tinggi sehingga dapat menjadi salah satu alternatif sumber pangan. Rasa manis yang dihasilkan ketika ubi dipanggang berasal dari proses alami pada ubi, bukan dari penambahan gula atau pemanis buatan. Hal tersebut menjadi salah satu keunggulan yang dapat meningkatkan daya tarik ubi madu sebagai bagian dari pola konsumsi pangan yang lebih alami. Namun, klaim mengenai manfaat kesehatan, termasuk untuk diet atau penderita diabetes, tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu dan tidak dapat dianggap sebagai pengganti pengobatan atau anjuran medis.
Dalam menjalankan usaha, kebutuhan modal budidaya ubi madu mencapai sekitar Rp35 juta per hektare, mulai dari proses persiapan hingga panen. Karena sebagian besar lahan yang kami gunakan merupakan lahan sewa, kami memilih lokasi yang memiliki akses jalan yang baik dan dapat dijangkau kendaraan. Hal tersebut dilakukan untuk menekan biaya operasional. Kami juga berusaha memilih lahan dengan luasan yang cukup besar agar biaya transportasi dan kunjungan ke lahan dapat lebih efisien. Saat ini, total lahan yang kami kelola mencapai kurang lebih 17 hektare yang tersebar di sekitar tujuh kecamatan. Luasan masing-masing lahan bervariasi, mulai dari sekitar satu hingga dua hektare, bahkan terdapat satu lokasi yang memiliki luas sekitar lima hektare.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar, target produksi dan panen kami mencapai minimal satu ton per hari. Saat ini permintaan terhadap ubi madu cukup tinggi, sementara ketersediaan barang di pasar cenderung terbatas. Oleh karena itu, kesinambungan produksi menjadi salah satu perhatian utama dalam pengelolaan usaha. Produk yang kami hasilkan kemudian dikelompokkan berdasarkan kualitas dan spesifikasinya. Kami menerapkan sistem grading untuk memastikan setiap ukuran dan kualitas ubi memiliki pasar yang sesuai. Terdapat ubi dengan spesifikasi untuk pasar ekspor, pasar umum, kios ovenan, hingga ubi dengan ukuran atau kondisi tertentu yang tidak sesuai untuk dipanggang. Bahkan ubi berukuran sangat kecil tetap memiliki nilai ekonomis karena dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu, termasuk sebagai pakan ternak. Dengan sistem tersebut, kami berupaya agar tidak banyak produk yang terbuang.
Selain melakukan budidaya, kami juga mengembangkan jaringan pemasaran melalui kios ubi. Saat ini terdapat sekitar delapan kios yang kami kelola dengan kebutuhan sekitar 15–16 ton ubi per bulan. Produk dapat dipasarkan dalam kondisi mentah maupun matang. Ubi berukuran kecil juga disalurkan ke toko-toko sayur, sedangkan ubi dengan spesifikasi untuk oven dikemas dan dipasarkan kepada mitra atau jaringan penjualan yang sesuai. Dengan mengembangkan berbagai saluran pemasaran, kami berupaya agar seluruh hasil panen dapat terserap pasar berdasarkan spesifikasi masing-masing.
Proses budidaya ubi madu diawali dengan pencarian dan pemilihan lahan yang sesuai. Setelah lahan diperoleh, kami melakukan pembibitan secara mandiri. Ubi yang digunakan sebagai indukan dipilih dari umbi yang memiliki kualitas dan ukuran yang baik. Selanjutnya, proses pembibitan dikembangkan melalui tahapan pembenihan dan pemuliaan bibit hingga menghasilkan bibit yang siap ditanam dalam skala lebih luas. Jarak tanam yang kami gunakan kurang lebih 20–25 sentimeter, disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.
Dalam proses perawatan, kegiatan utama meliputi penyiangan atau pembersihan gulma serta pemberian nutrisi tanaman. Pada fase awal pertumbuhan, perhatian lebih banyak diberikan pada pertumbuhan daun dan perkembangan tanaman. Setelah memasuki usia sekitar tiga setengah bulan, tanaman mulai memasuki fase menuju panen. Secara umum, umur panen ubi berada di kisaran empat hingga empat setengah bulan. Untuk pemupukan, kami memanfaatkan pupuk organik yang dibuat dari bahan-bahan organik sebagai pupuk dasar dan penyubur. Sementara itu, kebutuhan unsur tertentu seperti kalsium, kalium, dan fosfat diberikan secara terukur melalui penyemprotan sesuai kebutuhan tanaman.
Dalam menjalankan usaha ini, kami juga memberdayakan masyarakat sekitar. Saat ini terdapat sekitar 43 tenaga kerja yang terlibat dalam berbagai aktivitas pertanian, seperti penyiangan, penyemprotan, dan pekerjaan lapangan lainnya. Untuk operasional kios, kami juga berupaya memberdayakan masyarakat terdekat, termasuk anggota keluarga atau masyarakat yang membutuhkan pekerjaan, baik untuk menjaga kios maupun membantu proses distribusi.
Salah satu tantangan terbesar yang pernah kami alami terjadi pada masa pandemi COVID-19. Ketika diberlakukan pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat, tenaga kerja tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. Akibatnya, sekitar empat hektare lahan kami tidak dapat dipanen. Hasil tanaman akhirnya dibiarkan hingga rusak dan tidak memberikan manfaat ekonomi. Peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami bahwa bisnis pertanian memiliki risiko yang besar dan membutuhkan sistem pengelolaan yang matang. Dalam pertanian, keberhasilan tidak dapat dijamin seratus persen karena sangat dipengaruhi oleh kondisi alam, cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, tenaga kerja, serta kondisi pasar. Oleh karena itu, yang dapat dilakukan adalah membangun sistem sebaik mungkin, melakukan ikhtiar secara maksimal, dan mengelola hasil produksi serta pemasaran secara profesional.
Selain mengelola lahan sendiri, kami juga mengembangkan sistem kemitraan dengan petani. Petani yang ingin ikut membudidayakan ubi madu tetapi belum memiliki bibit dapat memperoleh bibit melalui kami. Kami memberikan bibit sekaligus menerapkan standar operasional budidaya yang sama agar kualitas hasil panen dapat terjaga. Sebelum petani mulai menanam, kami juga telah menentukan mekanisme dan harga pembelian minimal sehingga petani memiliki gambaran mengenai harga jual hasil panennya. Setelah masa panen tiba, hasil ubi dari petani mitra kemudian kami serap sesuai dengan ketentuan dan standar kualitas yang telah disepakati. Sistem kemitraan ini diharapkan dapat memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan ubi madu.
Bagi kami, menjalankan usaha pertanian bukan hanya tentang memperoleh keuntungan, tetapi juga tentang memberikan manfaat kepada orang lain. Kami merasa bersyukur apabila usaha yang kami jalankan dapat membantu keluarga, membuka lapangan pekerjaan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Meskipun skalanya masih terus berkembang secara bertahap, kami memiliki komitmen untuk memperluas usaha dan meningkatkan dampak sosial yang dapat diberikan.
Kami berharap usaha ubi madu Wonosobo ini dapat terus berkembang, memperluas pasar, meningkatkan kapasitas produksi, serta menyerap lebih banyak tenaga kerja. Kami juga ingin memberikan motivasi kepada generasi muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z, agar tidak takut untuk terjun ke dunia pertanian. Menurut kami, sektor pertanian memiliki prospek yang cukup menjanjikan karena kebutuhan pangan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, sementara minat generasi muda untuk menjadi petani cenderung menurun. Kondisi tersebut justru menjadi peluang bagi generasi muda untuk membangun usaha pertanian dengan pendekatan yang lebih modern, profesional, dan berbasis pasar.
Dalam menjalankan usaha, kami menerapkan strategi yang kami pelajari dari ayah, yaitu melakukan revolusi dan transformasi usaha tani melalui pengelolaan dari hulu hingga hilir, termasuk pemasaran dan pengembangan pasar ekspor. Dengan sistem tersebut, kami tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga memperhatikan kualitas produk, pengolahan, distribusi, pemasaran, dan hubungan dengan konsumen. Kami percaya bahwa pertanian akan menjadi sektor usaha yang semakin menjanjikan apabila dikelola dengan disiplin, komitmen, kejujuran, inovasi, serta etos kerja yang baik. Karena itu, pesan kami kepada generasi muda adalah jangan takut untuk bertani. Pertanian bukan sekadar pekerjaan tradisional, tetapi dapat menjadi bisnis modern yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial yang besar apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
Menarik Untuk Ditonton : Bisnis Sepi ? Mungkin Kamu Egois !
Mau Konsultasi?