

Dalam dunia bisnis, salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan oleh para pengusaha pemula adalah mengejar gengsi dan tren semata, tanpa mempertimbangkan keberlanjutan usaha yang dijalankan. Banyak orang lebih tertarik membangun bisnis yang terlihat mewah, viral, dan menjadi pusat perhatian di media sosial, namun mengabaikan aspek terpenting dalam bisnis, yaitu keberlangsungan (sustainability). Padahal, bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang bukanlah bisnis yang paling menarik perhatian, melainkan bisnis yang secara konsisten memenuhi kebutuhan masyarakat.
Fenomena media sosial turut memperkuat anggapan bahwa bisnis yang sukses adalah bisnis yang ramai diperbincangkan, memiliki acara peluncuran yang megah, memperoleh liputan media, serta menampilkan gaya hidup pemiliknya. Akibatnya, banyak orang membangun usaha demi mendapatkan pengakuan, bukan demi menciptakan nilai bagi pelanggan. Padahal, sebagaimana sering disampaikan oleh investor legendaris Warren Buffett, bisnis terbaik justru merupakan bisnis yang sederhana, mudah dipahami, serta memiliki permintaan yang stabil dalam jangka panjang, bukan bisnis yang hanya mengandalkan popularitas sesaat.
Bahkan, dalam praktiknya, bisnis yang terlalu cepat viral terkadang justru menghadapi risiko penurunan yang sama cepatnya. Tidak sedikit usaha yang dibuka dengan kemeriahan, tetapi beberapa waktu kemudian harus tutup karena kehilangan pelanggan. Oleh sebab itu, seorang pengusaha sebaiknya tidak terlalu berorientasi pada popularitas. Yang jauh lebih penting adalah membangun bisnis yang menghasilkan keuntungan secara konsisten meskipun tidak banyak diketahui masyarakat.
Menarik Untuk Dibaca : Petani Cerdas, Hasilkan Uang Dari Galon Bekas
Penyebab utama fenomena tersebut adalah kecenderungan banyak orang untuk mengejar trend. Mereka memilih jenis usaha karena sedang ramai dibicarakan atau viral, bukan karena memahami kebutuhan pasar. Ketika trend berubah, permintaan pun menurun sehingga bisnis sulit bertahan. Berbagai penelitian mengenai perusahaan rintisan menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama kegagalan bisnis adalah tidak adanya kebutuhan pasar yang cukup terhadap produk yang ditawarkan. Oleh karena itu, bisnis seharusnya selalu dimulai dari kebutuhan pasar, bukan dari keinginan pribadi.
Prinsip tersebut juga selaras dengan kisah sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdurrahman bin Auf, yang ketika tiba di Madinah meminta ditunjukkan lokasi pasar agar dapat langsung memulai aktivitas ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa memahami pasar merupakan langkah pertama sebelum menjual suatu produk. Sejalan dengan itu, pakar pemasaran Seth Godin pernah menyatakan bahwa seorang pelaku usaha tidak boleh mencari pasar untuk produknya, melainkan mencari produk yang memang dibutuhkan oleh pasar. Dengan kata lain, kebutuhan pelanggan harus menjadi titik awal dalam membangun bisnis.
Kesalahan berikutnya adalah meremehkan bisnis yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Banyak orang menganggap bisnis sembako, produk kesehatan, kebutuhan rumah tangga, atau produk perawatan diri sebagai bisnis yang kurang menarik karena tidak viral. Padahal, justru kategori inilah yang memiliki tingkat permintaan paling stabil. Dalam industri pemasaran, kategori tersebut dikenal sebagai Fast Moving Consumer Goods (FMCG), yaitu produk-produk yang dikonsumsi secara rutin dan dibutuhkan masyarakat setiap hari.
Pada saat kondisi ekonomi melemah sekalipun, masyarakat mungkin menunda pembelian kendaraan, telepon genggam, pakaian, atau barang mewah lainnya. Namun, mereka tetap harus membeli bahan makanan, obat-obatan, produk kesehatan, serta kebutuhan rumah tangga lainnya. Oleh karena itu, bisnis yang menyediakan kebutuhan pokok cenderung memiliki arus penjualan yang lebih stabil dibandingkan bisnis yang hanya mengandalkan tren.
Selain itu, banyak pelaku usaha justru lebih sibuk mencari validasi daripada membangun pelanggan. Mereka ingin terlihat sukses di mata orang lain, padahal pengakuan tidak dapat menjamin keberlangsungan usaha. Pakar manajemen Peter Drucker pernah menegaskan bahwa tujuan utama sebuah bisnis adalah menciptakan dan mempertahankan pelanggan, bukan menciptakan gengsi. Gengsi tidak menghasilkan keuntungan, sedangkan bisnis yang menguntungkan secara konsisten pada akhirnya akan membangun reputasi dengan sendirinya.
Dalam praktiknya, terdapat banyak contoh merek yang tidak dikenal siapa pemiliknya, tidak aktif membangun citra di media sosial, namun produknya tersedia hampir di setiap pusat perbelanjaan dan terus berkembang hingga sekarang. Sebaliknya, tidak sedikit bisnis milik figur publik atau influencer yang sempat viral, tetapi akhirnya berhenti beroperasi karena tidak mampu mempertahankan permintaan pasar. Hal ini menunjukkan bahwa popularitas bukanlah jaminan keberhasilan sebuah usaha.
Karakteristik lain dari bisnis yang kuat adalah memiliki tingkat pembelian ulang (repeat order) yang tinggi. Produk yang dikonsumsi secara rutin, seperti susu kambing, minyak kelapa murni (VCO), produk herbal, suplemen kesehatan, kosmetik, maupun kebutuhan harian lainnya, memiliki peluang pembelian ulang setiap beberapa minggu atau beberapa bulan. Berbeda dengan produk seperti rumah, kasur, atau kendaraan yang dibeli dalam rentang waktu sangat panjang. Semakin tinggi frekuensi pembelian ulang, semakin besar peluang bisnis memperoleh pendapatan yang stabil.
Oleh sebab itu, terdapat beberapa prinsip praktis yang dapat dijadikan pedoman dalam memilih bisnis. Pertama, pilihlah produk yang memiliki tingkat repeat order tinggi, idealnya setiap satu hingga tiga bulan sekali, bahkan lebih baik apabila dapat dibeli setiap beberapa minggu. Kedua, pilihlah produk yang permintaannya stabil dan tidak bergantung pada tren sesaat. Ketiga, jangan merasa malu menjalankan bisnis yang sederhana meskipun tidak terlihat bergengsi. Menjadi reseller, agen, atau distributor produk yang dibutuhkan masyarakat jauh lebih bernilai daripada mengejar citra bisnis yang mewah tetapi tidak menghasilkan keuntungan.
Seorang pelaku usaha juga perlu mengabaikan berbagai komentar negatif dari lingkungan sekitar. Tidak sedikit orang yang meremehkan profesi sebagai reseller atau penjual produk kesehatan karena dianggap kurang prestisius. Padahal, yang menentukan keberhasilan bukanlah seberapa keren bisnis tersebut terlihat, melainkan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada pelanggan dan seberapa konsisten bisnis tersebut menghasilkan keuntungan.
Pengalaman menunjukkan bahwa fokus pada kebutuhan pasar dapat menghasilkan pertumbuhan bisnis yang sangat signifikan. Banyak pelaku usaha yang awalnya hanya memiliki omzet kecil mampu meningkatkan pendapatannya hingga ratusan juta rupiah per bulan setelah menjalankan bisnis dengan produk yang memiliki permintaan stabil dan tingkat pembelian ulang tinggi. Bahkan, terdapat peserta pendampingan bisnis yang sebelumnya belum pernah mencapai omzet ratusan juta rupiah, kemudian berhasil menembus omzet miliaran rupiah hanya dalam waktu enam bulan berkat strategi yang berorientasi pada kebutuhan pasar.
Pada akhirnya, keberhasilan bisnis tidak ditentukan oleh seberapa viral sebuah produk, seberapa megah peluncurannya, atau seberapa besar pengakuan yang diperoleh pemiliknya. Kesuksesan justru dibangun melalui pemahaman terhadap kebutuhan pasar, pemilihan produk yang memiliki permintaan berkelanjutan, serta kemampuan mempertahankan pelanggan melalui pembelian ulang. Oleh karena itu, seorang pengusaha sebaiknya mengesampingkan gengsi dan lebih memfokuskan diri pada bisnis yang memberikan nilai nyata, memiliki permintaan yang stabil, serta mampu menghasilkan keuntungan secara konsisten dalam jangka panjang.
Menarik Untuk Ditonton : Jualan Ramai Tapi Tetep Bokek
Mau Konsultasi?