

Tiga perusahaan yang menguasai sebagian besar produksi chip memori dunia baru saja menghadapi gugatan dengan tuduhan serius. Samsung Electronics, SK hynix, dan Micron Technology disebut menguasai sekitar 90% produksi DRAM global. Menurut Counterpoint Research, pada kuartal pertama 2026, pangsa pasar ketiganya masing-masing berada di kisaran 38%, 29%, dan 22%. Sepanjang 2026, ketiga perusahaan tersebut mengalihkan sebagian besar kapasitas produksinya ke High Bandwidth Memory (HBM), yaitu jenis memori bertumpuk yang menjadi salah satu komponen penting dalam akselerator kecerdasan buatan (AI). Pada saat yang sama, produksi DRAM konvensional yang banyak digunakan pada smartphone, laptop, dan konsol gim mengalami keterbatasan. Dampaknya langsung terasa di sepanjang rantai pasok hingga konsumen. Harga DRAM komoditas disebut telah melonjak sekitar 700% dalam empat tahun terakhir sejak 2022. Kelangkaan bahkan merembet ke format memori lama seperti DDR2 yang seharusnya sudah tidak menjadi pusat perhatian pasar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasokan tidak hanya berkaitan dengan teknologi memori terbaru, tetapi juga mulai memengaruhi produk-produk yang sudah lebih lama digunakan.
Produsen perangkat elektronik di berbagai negara pun mulai mengalami kesulitan memperoleh pasokan memori. Di kalangan industri teknologi bahkan muncul istilah tidak resmi untuk menggambarkan situasi tersebut. Apple, meskipun tidak termasuk tergugat dalam kasus ini, telah menaikkan harga sejumlah produknya. Salah satunya adalah MacBook Pro dengan harga terendah yang disebut mengalami kenaikan sekitar US$400 menjadi US$1.999. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya biaya memori dan penyimpanan yang semakin sulit diserap sepenuhnya oleh perusahaan.
Pada 25 Juni 2026, sebuah gugatan class action resmi diajukan di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Utara California. Kasus tersebut tercatat dengan nama Garcia-Gire v. Samsung Electronics dan melibatkan 17 penggugat yang terdiri atas konsumen individu dan usaha kecil. Gugatan tersebut menuduh Samsung Electronics, SK hynix, dan Micron melanggar Section 1 Sherman Act, salah satu undang-undang antimonopoli utama di Amerika Serikat, dengan dugaan melakukan koordinasi untuk membatasi produksi DRAM konvensional sembari mengejar margin keuntungan yang lebih tinggi dari produksi HBM.
Menarik untuk Dibaca : Inspirasi Petani Ubi Madu Wonosobo
Para penggugat meminta dua bentuk pemulihan utama kepada pengadilan. Pertama, perintah untuk menghentikan dugaan pembatasan pasokan yang terkoordinasi. Kedua, ganti rugi sebesar tiga kali lipat dari kerugian yang mereka klaim telah dialami. Namun, perkara ini bukan sepenuhnya persoalan baru. Industri memori pernah menghadapi kasus serupa pada awal 2000-an ketika Samsung dan perusahaan yang saat itu bernama Hynix mengaku bersalah dalam kasus kolusi harga DRAM. Samsung ketika itu membayar denda sekitar US$300 juta, sementara Hynix membayar sekitar US$185 juta. Micron justru terhindar dari hukuman karena memilih bekerja sama dengan penyidik. Sejumlah eksekutif perusahaan juga sempat dijatuhi hukuman penjara.
Yang membuat persoalan saat ini semakin menarik adalah bahwa regulator China ternyata telah menyelidiki dugaan pelanggaran antimonopoli yang melibatkan ketiga perusahaan tersebut sejak Mei 2018, jauh sebelum gugatan di California diajukan. Investigasi tersebut dilaporkan masih berlangsung hingga akhir 2025. Artinya, dugaan terhadap perilaku ketiga perusahaan tersebut telah menarik perhatian otoritas di setidaknya dua wilayah ekonomi besar selama bertahun-tahun sebelum gugatan terbaru menjadi perhatian publik.
Namun, kasus terbaru ini juga memiliki tantangan pembuktian yang berbeda dibandingkan kasus pada awal 2000-an. Dalam kasus lama, terdapat bukti langsung berupa email dan kesepakatan tertulis antar-eksekutif. Sementara itu, kasus terbaru harus membuktikan bahwa keputusan produksi ketiga perusahaan benar-benar dikoordinasikan, bukan sekadar tiga perusahaan yang secara independen mengambil keputusan bisnis yang sama karena melihat peluang keuntungan yang lebih besar dari HBM.
Perbedaan tersebut sangat penting. Mengalihkan kapasitas produksi menuju produk dengan margin lebih tinggi pada dasarnya merupakan keputusan bisnis yang sah. Masalah hukum muncul apabila keputusan tersebut dilakukan melalui koordinasi rahasia dengan kompetitor untuk membatasi pasokan dan memengaruhi harga pasar. Dengan demikian, inti perkara bukan sekadar apakah ketiga perusahaan mengurangi produksi DRAM konvensional, tetapi apakah terdapat koordinasi antarkompetitor yang bertujuan membatasi pasokan secara tidak wajar.
Micron telah membantah tuduhan tersebut secara tegas. Perusahaan menyatakan bahwa mereka bersaing secara adil dan sesuai dengan hukum di seluruh pasar tempat mereka beroperasi. Sementara itu, Samsung dan SK hynix belum memberikan tanggapan publik secara rinci terhadap seluruh tuduhan dalam gugatan tersebut. Namun, keduanya telah memperingatkan pasar bahwa keterbatasan pasokan memori yang didorong oleh meningkatnya permintaan AI dapat berlangsung hingga 2027 dan bahkan lebih lama.
Pernyataan tersebut dapat dipandang sebagai peringatan bisnis mengenai ketatnya pasokan akibat pertumbuhan permintaan AI. Namun, dalam konteks gugatan yang sedang berjalan, pernyataan mengenai keterbatasan pasokan jangka panjang juga menjadi bagian dari kondisi pasar yang akan diperhatikan oleh para pihak. Bagaimanapun, peringatan mengenai kelangkaan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya koordinasi antarkompetitor. Pembuktian mengenai hal tersebut tetap bergantung pada bukti dan proses hukum.
Sementara proses hukum berjalan, ketiga perusahaan juga bergerak melalui jalur lain, termasuk melalui kelompok lobi industri semikonduktor, untuk menyuarakan keberatan terhadap rencana intervensi pemerintah yang berkaitan dengan pasokan memori domestik. Di sisi lain, Jefferies memperkirakan harga DRAM masih berpotensi meningkat sekitar 40–50% pada kuartal ketiga dan kembali naik sekitar 30–40% pada kuartal keempat 2026, dengan pemulihan pasokan yang berarti diperkirakan belum terjadi sebelum 2028.
Jika proyeksi tersebut benar, dampaknya dapat dirasakan jauh sebelum proses hukum menghasilkan keputusan akhir. Konsumen dan produsen perangkat elektronik berpotensi menanggung biaya memori yang lebih tinggi selama beberapa tahun sebelum terjadi koreksi harga atau peningkatan pasokan yang signifikan.
Kasus ini memberikan pelajaran penting mengenai struktur industri. Ketika hanya segelintir pemain menguasai infrastruktur inti sebuah industri—dalam kasus ini sekitar 90% pasar DRAM global berada di tangan tiga perusahaan—perubahan keputusan produksi dari masing-masing perusahaan dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap seluruh rantai pasok. Kelangkaan dalam kondisi seperti itu dapat muncul karena dinamika pasar yang normal, tetapi secara teoritis juga dapat menjadi konsekuensi dari keputusan strategis yang menguntungkan produsen tertentu. Karena itu, perhatian regulator menjadi penting untuk membedakan antara keputusan bisnis yang sah dan perilaku yang melanggar hukum persaingan.
Prinsip tersebut tidak hanya berlaku pada industri chip. Struktur oligopoli juga dapat ditemukan dalam berbagai sektor, mulai dari pelayaran kontainer hingga produksi pupuk. Dalam industri dengan jumlah pemain yang sangat terbatas, batas antara keputusan bisnis yang sah dan koordinasi antarkompetitor dapat menjadi persoalan hukum yang kompleks. Perusahaan tentu bebas memilih produk yang menawarkan margin lebih tinggi. Namun, persoalannya berubah ketika keputusan tersebut dikoordinasikan secara rahasia dengan kompetitor yang seharusnya saling bersaing.
Kehadiran penyelidikan regulator di berbagai yurisdiksi juga membuat kasus ini semakin menarik. Namun, fakta bahwa beberapa regulator menyelidiki perusahaan yang sama tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa pola perilaku dan kondisi pasar tersebut telah menarik perhatian otoritas persaingan di lebih dari satu negara, sementara kesimpulan mengenai pelanggaran tetap harus ditentukan berdasarkan bukti masing-masing perkara.
Kasus ini sekaligus mengingatkan bahwa sejarah perusahaan tidak selalu dapat dipisahkan dari persoalan hukum yang muncul di kemudian hari. Rekam jejak perkara kolusi DRAM pada dua dekade sebelumnya dapat menjadi konteks yang relevan dalam memahami industri tersebut, meskipun perkara lama tidak secara otomatis membuktikan bahwa perusahaan melakukan pelanggaran yang sama dalam kasus terbaru.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan sekadar mengapa harga memori meningkat atau mengapa perusahaan mengalihkan kapasitas produksi ke HBM. Pertanyaan hukumnya adalah apakah keputusan tersebut merupakan respons bisnis yang dilakukan secara independen terhadap ledakan permintaan AI, atau terdapat koordinasi antarkompetitor untuk membatasi pasokan DRAM dan memengaruhi harga. Jawaban atas pertanyaan tersebut akan bergantung pada bukti yang muncul selama proses hukum dan bagaimana pengadilan menilai bukti tersebut.
Menarik Untuk Ditonton : Obat Mental Pas Tabungan Tiris
Mau Konsultasi?