


Ketika bisnis media sedang menghadapi tekanan yang cukup berat, Grup Djarum justru mengambil langkah yang semakin agresif dengan memperbesar investasinya di industri tersebut. Melalui PT Global Digital International (GDI), yang berada di bawah GDP Venture milik Grup Djarum, pada 8 September 2026 mereka resmi mengambil alih Narasi, media yang didirikan oleh Najwa Shihab. Menariknya, keputusan tersebut dilakukan ketika Grup Djarum sebenarnya telah memiliki sejumlah aset di industri media, seperti Kumparan dan Historia. Harga transaksi maupun rincian kepemilikan setelah akuisisi belum diumumkan secara terbuka. Namun, hubungan antara Djarum dan Narasi sebenarnya telah berlangsung selama sekitar delapan tahun. Djarum pertama kali masuk sebagai investor pada 2018, kemudian memberikan pinjaman pada Oktober 2021, dan utang tersebut dikonversi menjadi saham pada Desember 2025. Baru pada September 2026, pengambilalihan kendali atas Narasi diumumkan kepada publik.
Langkah tersebut terjadi ketika industri media sedang menghadapi tekanan yang cukup besar. Sepanjang 2025, AJI mencatat sebanyak 549 jurnalis kehilangan pekerjaan. Pada 2026, Reuters Institute juga mencatat bahwa 64% responden di Indonesia mendapatkan berita melalui media sosial, yang pada saat bersamaan dipenuhi oleh konten hiburan dan aktivitas belanja. Kondisi ini menciptakan tantangan baru bagi perusahaan media. Mengirim wartawan ke lapangan membutuhkan biaya, melakukan verifikasi informasi membutuhkan waktu, dan operasional redaksi harus tetap berjalan. Sementara itu, hasil kerja jurnalistik mereka akhirnya muncul di layar yang sama dengan video hiburan singkat, konten ringan, hingga unggahan ulang. Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata apakah perhatian audiens masih tersedia. Perhatian tersebut sebenarnya masih ada. Tantangan yang semakin besar adalah bagaimana mengubah perhatian itu menjadi pendapatan yang cukup untuk membiayai produksi berita dan liputan berikutnya.
Menarik Untuk Dibaca : Gagasan Selamatkan UMKM
Grup Djarum sendiri sudah cukup lama masuk ke industri media dan hiburan. Pada 2021, GDP Venture tercatat telah berinvestasi di sedikitnya 23 perusahaan media dan hiburan, termasuk Kaskus, Kumparan, IDN Media, Historia, dan Visinema. Pada akhir 2024, mereka juga mengambil alih Kumparan. Karena itu, pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa Grup Djarum justru semakin memperbesar taruhannya di industri yang sedang menghadapi tekanan?
Untuk memahami logikanya, kita perlu kembali ke sekitar 2012. GDP Venture baru berdiri sekitar dua tahun ketika Martin Hartono menyampaikan pandangannya mengenai perubahan perilaku pengguna internet. Menurutnya, pengguna internet akan berpindah dari satu situs ke situs lainnya. Karena itu, pendekatan yang dibangun bukan hanya mengandalkan satu merek, melainkan memberikan kepercayaan kepada banyak merek sekaligus dan bersedia menunggu setidaknya lima tahun untuk melihat hasilnya. Sejak awal, pendekatan tersebut memang memberikan ruang bagi banyak perusahaan dan merek untuk tumbuh secara berdampingan.
Jika melihat perilaku konsumen sehari-hari, pendekatan tersebut cukup mudah dipahami. Pada pagi hari seseorang mungkin membaca berita singkat, pada siang hari mencari informasi mengenai hobi atau minat tertentu, kemudian pada malam hari menonton wawancara panjang. Kebutuhan informasi berubah sepanjang hari, sehingga media yang digunakan pun dapat ikut berubah. Dalam konteks tersebut, banyaknya merek dalam portofolio GDP Venture dapat dilihat sebagai upaya membangun berbagai hubungan dengan kelompok audiens yang memiliki kebutuhan berbeda, meskipun berada dalam ekosistem pengguna yang sama.
Pada 2025, GDP Venture menyebut pendekatan tersebut sebagai venture builder, yaitu membangun dan menghubungkan perusahaan dalam satu ekosistem yang mencakup lima bidang utama: perdagangan digital, produk konsumen, media, hiburan, dan solusi. Kajian Mitsui pada 2022 bahkan membaca pembentukan GDP sebagai salah satu upaya untuk membangun sumber bisnis inti baru bagi Grup Djarum. Artinya, di balik rangkaian investasi tersebut terdapat pencarian terhadap sumber pertumbuhan baru yang dapat menopang bisnis grup dalam jangka panjang.
Salah satu konsep yang dapat menjelaskan logika tersebut adalah strategic complementarity atau saling melengkapi secara strategis. Intinya, dua kemampuan yang berbeda dapat memberikan nilai lebih besar ketika digabungkan. Sebuah produk yang bagus, misalnya, akan memiliki peluang berkembang lebih besar ketika didukung jaringan distribusi yang kuat. Pola tersebut sebenarnya sudah terlihat dalam sejumlah investasi GDP Venture. Pada 2017, mereka mengakuisisi Tiket.com, kemudian pada 2021 masuk ke bisnis supermarket melalui Ranch Market. Dengan demikian, aktivitas perjalanan, belanja, dan kebutuhan rumah tangga dapat berada dalam ekosistem yang lebih luas. Integrasi semacam ini juga membuka peluang terjadinya penjualan silang antarproduk dan layanan sekaligus meningkatkan efisiensi pemasaran.
Dalam konteks tersebut, Narasi memiliki karakter yang relatif berbeda dibandingkan aset lain dalam portofolio tersebut. Narasi tidak hanya memiliki platform digital atau kemampuan produksi konten, tetapi juga memiliki Najwa Shihab, Mata Najwa, serta reputasi jurnalistik yang telah dibangun dalam waktu panjang. Reuters Institute pada 2025 menyebut Narasi sebagai salah satu media digital yang dihormati karena pemberitaannya yang independen dan investigatif. Sementara itu, GDP Venture juga pernah menyampaikan bahwa investasi mereka di sektor media diarahkan untuk menghadirkan pemberitaan yang kredibel di tengah maraknya informasi palsu dan hoaks.
Di sinilah bagian yang menarik dari akuisisi tersebut. Survei Reuters Institute pada 2026 mencatat bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap berita secara umum mengalami penurunan dari 36% menjadi 32%. Namun, tingkat kepercayaan terhadap merek media tertentu masih dapat bertahan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat semakin skeptis terhadap informasi secara umum, nama media yang masih dipercaya dapat menjadi alasan bagi audiens untuk kembali mengakses dan mengikuti pemberitaan mereka.
Grup Djarum tentu memiliki kemampuan untuk membiayai studio baru, merekrut tim produksi, memperluas distribusi, maupun menjalankan kampanye pemasaran dalam skala besar. Namun, setelah sebuah video dipublikasikan, terdapat pertanyaan lain yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan modal. Apakah audiens bersedia berhenti menggulir layar, memberikan perhatian, mendengarkan, dan pada akhirnya mempercayai informasi yang disampaikan? Uang dapat membuat sebuah suara terdengar lebih keras, tetapi kepercayaan membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Dalam konteks tersebut, Narasi memiliki aset yang sangat bernilai, yaitu rekam jejak dan kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Salah satu contohnya adalah penyelenggaraan acara nonton bersama debat calon presiden pada 2024 yang mampu mengajak audiens hadir secara langsung.
Karena itu, secara bisnis, Narasi justru dapat menjadi semakin bernilai apabila tetap mempertahankan karakter yang membuatnya dipercaya oleh audiens. Mengubah Narasi menjadi salinan dari media lain berpotensi menghilangkan alasan utama mengapa seseorang memilih Narasi sejak awal. Namun, di sisi lain, terdapat risiko yang juga tidak dapat diabaikan. Kajian ISEAS menyoroti adanya kepentingan ekonomi dan politik dalam struktur industri media Indonesia. Jika kepercayaan merupakan bagian dari nilai yang sebenarnya dibeli dalam sebuah akuisisi media, maka menjaga jarak yang sehat antara kepemilikan dan keputusan redaksional justru dapat menjadi kepentingan bisnis bagi pemilik baru.
Dari sini terdapat pelajaran penting bagi siapa pun yang ingin membeli atau mengambil alih sebuah bisnis: pahami terlebih dahulu alasan yang membuat konsumen memilih perusahaan tersebut sebelum terburu-buru mengubah seluruh sistem di dalamnya. Angka penjualan, jumlah pelanggan, jumlah pengguna, maupun aset perusahaan memang penting. Namun, di balik semua angka tersebut terdapat kepercayaan yang jauh lebih mudah rusak daripada dibangun kembali.
Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa akuisisi Narasi pasti akan menguntungkan Grup Djarum. Modal memang memberikan kesempatan untuk tumbuh, tetapi hasil akhirnya sangat bergantung pada bagaimana modal dan sumber daya tersebut digunakan. Bayangkan apabila pemilik baru mampu memperbaiki teknologi, memperkuat sistem distribusi dan penjualan, serta memberikan ruang yang lebih besar kepada redaksi untuk menghasilkan liputan berkualitas. Dalam kondisi tersebut, perusahaan dapat berkembang tanpa kehilangan alasan utama mengapa audiens mempercayainya. Sebaliknya, apabila seluruh indikator bisnis terlihat semakin baik, tetapi audiens mulai merasa bahwa terdapat pertanyaan tertentu yang sengaja dihindari atau isu tertentu yang tidak lagi mendapatkan ruang yang sama, maka efisiensi jangka pendek dapat dibayar dengan hilangnya hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Pada akhirnya, ujian sebenarnya terhadap akuisisi ini bukan hanya terlihat dari angka pendapatan, jumlah pengguna, atau pertumbuhan bisnis setelah transaksi diumumkan. Ujian tersebut akan terlihat dari pekerjaan redaksi setelah pengambilalihan berlangsung: isu apa yang tetap berani diangkat, siapa yang masih dapat dikritik, seberapa jauh independensi jurnalistik dipertahankan, dan bagaimana pemilik baru menjaga kepercayaan audiens. Di situlah nilai terbesar Narasi sekaligus tantangan terbesar bagi pemilik barunya akan diuji: bagaimana mengembangkan bisnis tanpa menghilangkan alasan utama mengapa masyarakat memilih untuk mempercayainya.
Menarik Untuk Ditonton : Apakah Usahamu Diremehkan ?
Mau Konsultasi?