

Berita baik terkadang datang dari tempat yang sudah lama kita lupakan. Setelah cukup lama tidak terdengar, Bukalapak kembali muncul ke permukaan dengan kabar yang mengejutkan. Dari Januari hingga September 2025, perusahaan ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,9 triliun secara akuntansi. Padahal, pada kuartal ketiga 2024, Bukalapak masih membukukan kerugian sebesar Rp593,2 miliar. Dalam periode yang sama, pendapatan usaha juga meningkat secara tahunan, dari sekitar Rp3,3 triliun menjadi Rp4,72 triliun.
Pertanyaan pun muncul secara wajar. Bagaimana Bukalapak bisa kembali mencetak laba setelah mundur dari persaingan e-commerce yang selama ini dikenal sangat brutal? Apakah strategi pivot yang mereka lakukan benar-benar berhasil, atau angka ini hanya terlihat indah di atas kertas? Di tengah banyaknya startup yang kerap memoles laporan keuangan, skeptisisme publik menjadi hal yang dapat dimaklumi.
Kabar keuntungan Bukalapak bukan sekadar rumor. Data pendapatan mereka memang menunjukkan tren kenaikan, dan langkah pivot yang diambil mulai memperlihatkan dampaknya. Pada awal 2025, Bukalapak secara resmi menghentikan bisnis e-commerce barang fisik. Keputusan besar ini diumumkan pada Januari dan dieksekusi dengan cepat. Pada Februari, perusahaan berhenti menerima pesanan, dan pada Maret seluruh transaksi diselesaikan. Sejak saat itu, Bukalapak tidak lagi beroperasi sebagai platform belanja barang fisik seperti sebelumnya.
Menarik Untuk Dibaca : Bisnis Agrowisata
Sebagai gantinya, Bukalapak membangun identitas baru melalui empat segmen utama, yaitu gaming, mitra, retail digital, dan pengelolaan investasi. Keempat segmen inilah yang kini menjadi pilar utama dalam perjalanan baru perusahaan. Dari sisi kinerja, segmen gaming mencatat pertumbuhan paling mencolok, dengan pendapatan melonjak 215% menjadi Rp3,8 triliun. Angka ini sulit untuk diabaikan. Sebaliknya, segmen online-to-offline menurun menjadi Rp619 miliar, sementara segmen retail digital masih berada di kisaran Rp80 miliar. Dengan demikian, mesin pendapatan Bukalapak saat ini terutama digerakkan oleh bisnis gaming, sementara segmen lainnya masih dalam tahap pencarian bentuk yang paling optimal.
Namun, terdapat faktor lain yang membuat laba Bukalapak terlihat melonjak signifikan, yaitu keuntungan dari investasi saham. Hingga September 2025, sekitar Rp2,17 triliun dari total laba berasal dari kenaikan nilai portofolio investasi, terutama dari kepemilikan saham di Alo Bank sebesar 11,49%. Harga saham bank digital tersebut melonjak sekitar 111% sejak awal 2025 hingga mencapai kisaran Rp14.480. Kenaikan inilah yang memberikan kontribusi besar terhadap laba Bukalapak.
Dari sini, gambaran besarnya mulai terlihat. Bukalapak memang mencatatkan laba, namun ceritanya jauh lebih kompleks daripada sekadar “untung besar”. Untuk memahami lonjakan ini, kita perlu kembali ke akar persoalan. Sejak awal berdiri, Bukalapak berada di arena e-commerce yang semakin keras dari tahun ke tahun. Praktik bakar uang, promosi agresif, gratis ongkir, dan perang harga membuat profitabilitas menjadi semakin sulit dicapai. Ketika pendanaan mulai mengetat dan tekanan meningkat, bertarung langsung dengan pemain besar seperti Shopee atau Tokopedia menjadi tidak hanya mahal, tetapi juga tidak rasional.
Setelah IPO, Bukalapak mengambil salah satu keputusan paling berani dalam sejarahnya, yaitu menutup bisnis e-commerce dan mencari arah baru. Mereka memusatkan energi pada segmen digital yang lebih ringan dari sisi operasional. Namun, karena mesin bisnis baru membutuhkan waktu untuk tumbuh, perusahaan juga mengambil langkah realistis dengan menempatkan dana IPO ke berbagai instrumen investasi seperti saham, obligasi, dan reksa dana. Langkah ini berfungsi sebagai bantalan finansial selama proses transisi berlangsung.
Strategi semacam ini bukanlah hal baru. Banyak perusahaan yang sedang berada dalam fase transformasi melakukan pendekatan serupa untuk meredam tekanan operasional. Dalam kasus Bukalapak, salah satu investasinya, yakni Alo Bank, mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Dengan kepemilikan lebih dari 11%, setiap kenaikan harga saham bank tersebut secara langsung berdampak pada laporan laba Bukalapak. Dari total laba Rp2,9 triliun, sekitar Rp2,17 triliun berasal dari keuntungan investasi, baik yang telah direalisasikan maupun yang masih bersifat unrealized gain.
Dengan demikian, jelas bahwa Bukalapak memang mencatatkan laba, tetapi bukan karena seluruh mesin bisnis hasil pivot-nya sudah mapan. Sebagian besar angka tersebut berasal dari portofolio investasi yang sedang bersinar. Angka Rp2,9 triliun memang terdengar impresif, namun ketika dibedah lebih dalam, cerita yang muncul justru jauh lebih kompleks. Mayoritas laba bukan berasal dari aktivitas operasional harian, melainkan dari kenaikan nilai aset finansial, yang sebagian besar masih berupa keuntungan di atas kertas, bukan arus kas yang siap digunakan.
Jika komponen investasi tersebut dikeluarkan, kita akan melihat kondisi bisnis inti Bukalapak saat ini. Secara adjusted EBIT, kinerja operasional masih berada di angka negatif sekitar Rp1 miliar. Artinya, secara operasional perusahaan belum menghasilkan keuntungan yang stabil. Bisnis inti masih berada dalam fase pertumbuhan dan belum sepenuhnya matang.
Segmen gaming yang tumbuh pesat juga memiliki karakter margin yang relatif tipis. Volume transaksi yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan profit yang tinggi. Tanpa perbaikan margin, segmen ini akan sulit menjadi tulang punggung profit jangka panjang. Sementara itu, segmen lainnya belum cukup kuat untuk menyeimbangkan ketergantungan pada gaming.
Tantangan berikutnya adalah tingginya ketergantungan terhadap pasar keuangan. Selama laba sangat dipengaruhi oleh naik-turunnya harga saham, kinerja Bukalapak akan terus berfluktuasi. Ketika pasar sedang bullish, laporan keuangan terlihat sangat menarik. Namun, ketika pasar melemah, laba tersebut dapat menguap dengan cepat. Selain itu, publik juga memiliki ekspektasi terhadap penggunaan dana IPO untuk menumbuhkan bisnis inti yang berkelanjutan. Ketika keuntungan lebih banyak berasal dari investasi, muncul pertanyaan penting mengenai kapan mesin operasional Bukalapak dapat berdiri di atas kakinya sendiri.
Dari seluruh tantangan tersebut, arah solusi Bukalapak sebenarnya cukup jelas. Perusahaan perlu membangun profitabilitas yang bersumber dari aktivitas bisnis inti, bukan dari volatilitas pasar keuangan. Selama investasi masih menjadi sumber laba utama, stabilitas jangka panjang akan selalu berada dalam risiko.
Manajemen Bukalapak menyatakan bahwa fokus ke depan adalah memperkuat empat segmen utamanya. Tantangannya bukan hanya memperbesar skala, tetapi juga meningkatkan kualitas pertumbuhan. Segmen gaming membutuhkan strategi monetisasi yang lebih sehat, seperti pengembangan layanan tambahan, bundling produk, dan peningkatan nilai transaksi agar margin menjadi lebih tebal. Segmen mitra warung dan retail digital juga memiliki potensi besar jika dikembangkan ke arah layanan B2B bernilai tinggi, seperti pencatatan keuangan, manajemen stok, pembiayaan mikro, dan logistik. Jika dikelola dengan tepat, segmen ini dapat menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil.
Sementara itu, portofolio investasi tetap penting, tetapi idealnya berfungsi sebagai bantalan pendukung, bukan tumpuan utama. Masa depan Bukalapak akan sangat ditentukan oleh seberapa disiplin perusahaan dalam memperbaiki fondasi operasionalnya. Ketika margin meningkat, monetisasi membaik, dan segmen bisnis semakin mandiri, barulah pivot ini dapat disebut benar-benar berhasil, bukan sekadar terlihat berhasil di laporan keuangan.
Dalam konteks ekosistem digital Indonesia, keberlangsungan Bukalapak membawa pesan penting. Pemain lokal masih memiliki peluang untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali. Keberadaan mereka membantu menjaga keberagaman lanskap teknologi agar tidak sepenuhnya didominasi oleh pemain asing. Namun, jika keuntungan terlalu lama bergantung pada kenaikan nilai aset finansial, dampaknya terhadap ekonomi riil akan tetap terbatas. Investasi memang penting, tetapi tidak dapat menggantikan peran bisnis operasional dalam menggerakkan barang, layanan, dan tenaga kerja.
Harapan yang muncul pun sederhana, agar Bukalapak dapat menemukan model bisnis baru yang benar-benar produktif, profitable, dan berkelanjutan. Bukan dengan kembali menjadi e-commerce seperti sebelumnya, melainkan dengan menjadi perusahaan teknologi Indonesia yang relevan, adaptif, dan memberikan manfaat nyata.
Dari perjalanan ini, terdapat tiga pelajaran penting. Pertama, ada saatnya sebuah pertarungan perlu dihentikan, bukan karena kalah, tetapi karena energi dan sumber daya lebih baik diarahkan ke medan dengan peluang yang lebih jelas. Dalam bisnis, mundur dapat menjadi langkah paling rasional untuk membuka ruang baru. Kedua, perubahan strategi adalah sesuatu yang wajar. Lingkungan berubah, tekanan berubah, dan kebijakan lama tidak selalu relevan untuk masa depan. Kemampuan menyesuaikan arah bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan membaca zaman. Ketiga, laba besar tidak selalu berarti fondasi sudah kuat. Angka dapat naik dengan cepat, tetapi yang benar-benar menentukan adalah kesehatan dan stabilitas bisnis di baliknya.
Pada akhirnya, Bukalapak tidak pernah benar-benar berakhir. Mereka menutup satu lapak besar, namun membuka banyak lapak baru, mulai dari gaming hingga investasi, yang memberi ruang untuk bernapas. Ke depan, harapannya semakin banyak lapak produktif yang dapat dibangun secara lebih stabil, menguntungkan, dan relevan bagi ekosistem digital Indonesia. Jika itu benar-benar terwujud, maka perjalanan comeback Bukalapak layak dicatat sebagai salah satu kisah transformasi paling menarik dalam sejarah perusahaan teknologi lokal.
Menarik Untuk Ditonton : Bisnis rempah Jogja
Mau Konsultasi?