

Sebelum memutuskan berutang ke bank, sebenarnya usaha saya sempat dimodali oleh nenek. Modal awal tersebut digunakan untuk memulai usaha ikan hias. Namun, usaha tersebut mengalami kegagalan karena seluruh ikan mati akibat musim hujan dan suhu dingin yang menyebabkan jamur menyerang. Ketika modal habis dan tidak ada sumber dana lain, saya akhirnya nekat meminjam ke bank. Keputusan itu saya ambil karena tidak ingin menganggur, meskipun saya sadar risikonya besar. Bagi saya saat itu, berutang terasa seperti perjudian: jika berhasil maka usaha berjalan, jika gagal maka bangkrut.
Pada masa awal, usaha ini saya jalani lebih karena hobi. Saya menyukai ikan, senang melihat ikan makan, dan menikmati proses merawatnya. Saat itu saya belum terlalu memikirkan kebutuhan hidup, yang penting merasa senang dan bangga. Orang tua pun sempat merasa bangga melihat saya mulai berusaha mandiri. Meski demikian, saya menyadari bahwa latar belakang keluarga saya sederhana. Sejak kecil, saya banyak diasuh oleh kakek dan nenek karena orang tua harus bekerja keras untuk membiayai sekolah saya. Kesadaran itu membuat saya bertekad untuk berusaha sendiri tanpa merepotkan orang tua, dengan harapan kelak kehidupan saya dan keluarga bisa lebih baik.
Menarik Untuk Dibaca : Kenapa Netflix Nafsu Beli Warner Bros ?
Nama saya Alvin, berasal dari Tulungagung. Saya menjalankan usaha ikan hias, dengan fokus utama pada ikan koki atau goldfish. Perjalanan usaha ini dimulai sejak saya lulus sekolah. Pada tahun 2018–2019, saya sempat menjual bibit gurami. Ketika pasar gurami menurun, saya beralih ke ikan cupang pada 2020 hingga 2021. Usaha ikan koki saya jalani sejak 2021, awalnya hanya mengikuti teman dan mencoba-coba. Namun, ternyata usaha ini berkembang dan menjadi fokus utama saya hingga sekarang.
Pada awal merintis, saya meminjam dana bank sebesar tiga juta rupiah secara diam-diam karena tidak ingin membebani orang tua. Saya mulai memasarkan ikan melalui media sosial dan platform jual beli daring. Awalnya hanya satu atau dua pembeli, menjual lima hingga sepuluh ekor ikan secara eceran. Seiring waktu, permintaan meningkat. Saya pernah menjual ikan jenis kualitas kontes dengan harga tinggi, bahkan ada transaksi lima ekor ikan senilai delapan juta rupiah. Hingga kini, ikan-ikan kualitas lomba masih dapat bernilai puluhan juta rupiah per ekor, karena dibeli oleh para penghobi dan peserta kontes.
Pada tahun 2023, saya mulai menjalankan usaha secara mandiri di rumah. Saya membeli ikan langsung dari petani saat panen dan kembali memasarkan secara daring. Alhamdulillah, penjualan semakin stabil. Dalam satu minggu, penjualan bisa mencapai sekitar seribu ekor ikan. Meskipun demikian, usaha ini tidak lepas dari risiko. Risiko terbesar adalah kematian ikan akibat jamur, kualitas air yang buruk, perubahan cuaca ekstrem, serta risiko pembeli yang tidak bertanggung jawab dalam pembayaran.
Pengalaman paling berat bagi saya adalah ketika berurusan dengan bank akibat keterlambatan pembayaran angsuran. Hal tersebut sempat membuat orang tua terkejut ketika pihak bank datang ke rumah. Setelah itu, dengan rezeki dari usaha ikan koki, saya segera melunasi seluruh pinjaman. Sejak saat itu, saya berprinsip untuk sebisa mungkin menghindari utang, kecuali benar-benar untuk kebutuhan usaha yang jelas perputarannya, bukan untuk gaya hidup.
Saat ini, saya memfokuskan usaha pada ikan koki. Jika ada permintaan jenis ikan hias lain, saya bersedia mencarikannya. Dari usaha ini, penghasilan bersih per bulan berkisar antara lima hingga sepuluh juta rupiah, bahkan bisa lebih pada waktu tertentu. Alhamdulillah, dari usaha ikan koki saya bisa menikah, membangun rumah sendiri, membeli kendaraan, dan meninggalkan kehidupan serabutan yang dulu pernah saya jalani.
Dalam pengelolaan ikan, tantangan terbesar adalah menjaga kualitas air dan kestabilan lingkungan. Jamur insang merupakan penyakit paling berisiko, sehingga ikan harus segera dipindahkan ke kolam karantina dan diberi obat khusus. Penanganan awal yang tepat sangat menentukan. Prinsip saya, ikan harus tenang, tidak boleh terlalu sering diobok-obok, dan air harus selalu bersih. Dalam pengiriman, ikan dipuasakan terlebih dahulu agar tidak mengeluarkan kotoran selama perjalanan. Air dikombinasikan dengan garam dan oksigen sesuai standar agar ikan tetap selamat.
Pengiriman ikan telah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Untuk pengiriman luar pulau, saya menggunakan kargo pesawat demi kecepatan dan keselamatan ikan, meskipun biaya lebih tinggi. Saya lebih memilih ongkos kirim mahal asalkan ikan selamat, daripada murah tetapi berisiko kematian. Bagi saya, keselamatan ikan adalah prioritas utama.
Usaha ini saya jalani dengan rasa syukur dan keikhlasan. Saya merasa lebih baik bekerja dan berusaha daripada menganggur. Ke depan, saya memiliki keinginan untuk berbagi, salah satunya melalui kegiatan sosial seperti santunan anak yatim. Nilai hidup yang selalu saya pegang adalah kejujuran, tanggung jawab, dan keterbukaan. Dalam jual beli ikan, kejujuran adalah hal utama. Menyampaikan kondisi ikan apa adanya, saling percaya, dan bertanggung jawab adalah fondasi usaha saya hingga hari ini.
Nama saya Alvin, pemilik Alvin Aquatik, beralamat di Kelurahan Jepun, Tulungagung. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Menarik Untuk Ditonton : Belajar Dari Batik Manuggal
Mau Konsultasi?