

Fenomena kembalinya generasi muda ke dunia pertanian sering kali dipertanyakan, terutama ketika latar belakang pendidikan mereka berasal dari institusi yang prestisius. Hal ini dialami oleh Ibnu Riza, seorang lulusan Universitas Al-Azhar yang memilih untuk terjun ke sektor pertanian cabai di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Keputusan tersebut pada awalnya menuai berbagai komentar negatif dari lingkungan sekitar, mulai dari anggapan bahwa pertanian tidak menjanjikan secara ekonomi hingga dianggap kurang bergengsi dibandingkan profesi lain seperti pengajar atau pegawai negeri. Namun, pandangan tersebut justru menjadi pemicu semangat untuk membuktikan bahwa sektor pertanian memiliki potensi besar apabila dikelola dengan pola pikir dan sistem yang tepat.
Menurutnya, permasalahan utama dalam dunia pertanian bukan terletak pada sektor itu sendiri, melainkan pada pola pikir dan sistem yang belum optimal. Pertanian sering kali dipandang sebagai pekerjaan yang tidak mampu memberikan kesejahteraan, padahal dengan pendekatan yang terstruktur, berbasis pengetahuan, dan manajemen yang baik, sektor ini dapat menjadi sumber profit sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Ibnu Riza menekankan pentingnya perubahan cara pandang generasi muda terhadap pertanian, dari sekadar pekerjaan tradisional menjadi sebuah peluang bisnis yang strategis dan berkelanjutan.
Menarik Untuk Ditonton : Uang Miliaran Hangus Gara-Gara Satu Kertas
Perjalanan awal dalam menjalankan usaha pertanian tidaklah mudah. Meskipun berasal dari keluarga petani, keterampilan teknis tetap harus dipelajari dari awal, mulai dari proses penyemprotan hingga manajemen biaya produksi. Tantangan seperti kegagalan panen, ketidaksesuaian hasil dengan modal yang dikeluarkan, serta tekanan sosial menjadi bagian dari proses yang harus dilalui. Namun, dengan dukungan keluarga, khususnya orang tua, serta prinsip untuk terus belajar dan tidak berhenti berproses, tantangan tersebut dapat dihadapi secara bertahap.
Dalam praktiknya, ia juga menemukan relevansi nilai-nilai spiritual dalam dunia pertanian, khususnya terkait konsep syukur, ikhtiar, dan tawakal. Ia menyadari bahwa manusia hanya dapat berusaha melalui pengolahan lahan, pemberian pupuk, dan perawatan tanaman, sementara hasil akhir tetap berada di luar kendali manusia. Pemahaman ini memberikan ketenangan batin sekaligus mendorong munculnya ide-ide kreatif dalam mengembangkan usaha. Dengan demikian, keseimbangan antara usaha rasional dan spiritual menjadi fondasi penting dalam menjalankan bisnis pertanian.
Dari sisi teknis, keberhasilan pertanian sangat ditentukan oleh beberapa faktor utama, yaitu pemilihan lahan, kualitas benih, dan perawatan tanaman. Kondisi tanah menjadi fondasi utama yang tidak dapat diabaikan, karena sebaik apa pun benih dan perawatan yang dilakukan, hasil tidak akan optimal apabila kualitas tanah tidak mendukung. Selain itu, tantangan seperti perubahan cuaca, serangan hama, dan penyakit tanaman juga memerlukan penanganan yang tepat melalui pengamatan intensif dan penggunaan input pertanian yang sesuai.
Secara ekonomi, sektor pertanian—khususnya cabai—memiliki potensi yang besar. Permintaan pasar yang tinggi, baik di dalam negeri maupun untuk kebutuhan industri, menunjukkan adanya peluang yang masih terbuka luas. Bahkan, Indonesia masih melakukan impor produk turunan cabai, yang menandakan adanya kesenjangan antara produksi dan kebutuhan pasar. Dengan luas lahan yang tersedia, kondisi ini seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai peluang strategis bagi generasi muda untuk masuk dan berkembang di sektor pertanian.
Lebih lanjut, Ibnu Riza menyoroti bahwa rendahnya minat generasi muda, khususnya lulusan perguruan tinggi, untuk terjun ke dunia pertanian menjadi salah satu tantangan utama. Padahal, kehadiran sumber daya manusia yang terdidik sangat dibutuhkan untuk mendorong inovasi, efisiensi, dan modernisasi sektor ini. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa modal utama dalam bertani bukan hanya finansial, melainkan juga mentalitas, pola pikir, dan kemampuan untuk terus belajar serta beradaptasi.
Pada akhirnya, keberhasilan dalam pertanian—sebagaimana dalam bidang lainnya—ditentukan oleh kombinasi antara pola pikir yang tepat, kerja keras, lingkungan yang mendukung, serta kemauan untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Ia mengajak generasi muda untuk tidak terjebak dalam stigma negatif terhadap pertanian, melainkan melihatnya sebagai peluang masa depan yang menjanjikan. Dengan pendekatan yang serius, terstruktur, dan berorientasi pada pembelajaran berkelanjutan, sektor pertanian dapat menjadi jalan untuk mencapai kemandirian ekonomi sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menarik Untuk Dibaca : Daya Saing Indonesia Lemah Apa Solusinya ?
Mau Konsultasi?