

Ketika melihat data penjualan yang awalnya hanya menghasilkan angka kecil, kemudian berkembang menjadi puluhan hingga ratusan juta rupiah, tentu muncul pertanyaan: bagaimana seseorang yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman berjualan secara online dapat mencapai hasil tersebut dalam waktu relatif singkat? Apakah untuk mencapai omzet puluhan bahkan ratusan juta rupiah seseorang harus terlebih dahulu menjadi ahli dalam berjualan? Pengalaman Kang Ismi menunjukkan bahwa jawabannya tidak selalu demikian. Ia merupakan salah satu contoh bahwa seseorang yang pada awalnya belum memahami cara berjualan di marketplace dapat berkembang menjadi penjual yang mampu melakukan penjualan dan closing secara konsisten.
Sebelum terjun secara serius ke dunia marketplace, Kang Ismi sebenarnya sudah memiliki latar belakang sebagai pengusaha. Selama hampir satu dekade, ia telah mencoba menjalankan berbagai lini bisnis, mulai dari usaha makanan dan minuman hingga produk digital. Namun, perjalanan tersebut belum memberikan hasil yang konsisten. Omzet bisnisnya cenderung naik turun dan pada akhirnya mengalami stagnasi. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya mentor atau pihak yang dapat memberikan arahan secara sistematis dalam menjalankan bisnis.
Ketika menghadapi kondisi tersebut, Kang Ismi mulai menyadari pentingnya bergabung dengan komunitas untuk belajar. Ia sebenarnya sudah cukup lama mengikuti berbagai materi dari Kang Dewa, tetapi pada awalnya hanya menyerap informasi secara online dan belum mengikuti proses mentoring secara intensif. Dari sinilah ia kemudian mencoba mencari komunitas yang dapat membantunya berkembang. Ia bergabung dengan komunitas seller marketplace di Bandung untuk mempelajari bagaimana orang lain menjalankan bisnis melalui marketplace.
Menarik Untuk Dibaca : Pelajaran Tentang Manajemen Reputasi
Pada saat bergabung, Kang Ismi bahkan belum memiliki produk yang akan dijual. Ia memilih untuk mempelajari pasar terlebih dahulu, melihat bagaimana para seller menjalankan bisnis, serta mengamati produk-produk apa yang memiliki permintaan dan margin yang menarik. Ia menyadari bahwa marketplace memiliki berbagai biaya dan potongan sehingga produk yang dipilih harus memiliki margin yang cukup untuk menghasilkan keuntungan.
Dalam proses mencari produk tersebut, ia mengikuti sebuah webinar gratis. Dari sana ia mulai mengenal sebuah produk yang kemudian menarik perhatiannya. Pada awalnya, ia tidak langsung tertarik dengan sistem kemitraannya. Fokus utamanya adalah mencari produk yang layak dijual, bukan mencari sistem bisnis atau jaringan kemitraan. Setelah mempelajari lebih lanjut, ia akhirnya memutuskan untuk mencoba produk tersebut sebagai reseller.
Perjalanannya sebagai reseller dimulai sekitar Oktober 2025. Pada tahap awal, ia tidak langsung berorientasi pada keuntungan besar. Produk tersebut terlebih dahulu dicoba untuk kebutuhan keluarganya sendiri. Kebetulan, anak keduanya memiliki alergi terhadap susu sapi sehingga ia mencoba menggunakan susu kambing sebagai alternatif. Setelah digunakan, ia melihat bahwa produk tersebut dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan masalah seperti yang sebelumnya terjadi ketika mengonsumsi susu sapi.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bentuk validasi awal bagi Kang Ismi. Ia tidak hanya menjual produk yang belum dikenalnya, tetapi terlebih dahulu memastikan bahwa produk tersebut memang memiliki manfaat dan dapat digunakan oleh konsumen. Setelah merasa yakin dengan kualitas produk, ia mulai melihat peluang untuk menjualnya kepada orang lain.
Pada tahap reseller, margin yang diperoleh sekitar 20 persen. Sementara itu, biaya administrasi dan berbagai potongan marketplace dapat menghabiskan sebagian besar margin tersebut. Bahkan dalam kondisi tertentu, penjualan dapat menghasilkan keuntungan yang sangat kecil atau bahkan mengalami kerugian.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat Kang Ismi berhenti. Ia justru menerapkan prinsip yang dipelajarinya mengenai pentingnya membangun bisnis melalui tindakan nyata. Menurutnya, pada tahap awal yang paling penting adalah berani mencoba dan melakukan validasi pasar. Ketika sebuah produk terbukti layak, memiliki permintaan, dan mendapatkan respons positif dari konsumen, barulah bisnis tersebut dapat dikembangkan secara lebih serius.
Karena itu, kerugian pada tahap awal tidak langsung dianggap sebagai kegagalan. Kerugian tersebut dipandang sebagai bagian dari proses belajar dan biaya untuk mendapatkan data. Selama masih dalam batas yang dapat dikendalikan, proses tersebut memberikan informasi penting mengenai produk, pasar, harga, permintaan, dan perilaku konsumen.
Setelah beberapa waktu menjalankan bisnis sebagai reseller, Kang Ismi kemudian meningkatkan level kemitraannya. Ia tidak hanya ingin mengetahui apakah produk tersebut dapat dijual, tetapi juga ingin memastikan keberlanjutan bisnisnya. Salah satu hal yang diperhatikan adalah apakah konsumen yang sebelumnya membeli akan melakukan pembelian kembali atau repeat order.
Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa terdapat konsumen yang melakukan pembelian ulang. Hal tersebut menjadi salah satu indikator bahwa produk memiliki permintaan yang cukup berkelanjutan. Dengan semakin kuatnya keyakinan terhadap produk dan pasar, ia kemudian memutuskan untuk meningkatkan status kemitraannya menjadi agen agar mendapatkan margin yang lebih besar.
Jika sebagai reseller ia memperoleh margin sekitar 20 persen, sebagai agen ia dapat memperoleh margin sekitar 40 persen. Perubahan tersebut memberikan ruang yang lebih besar untuk mengelola biaya pemasaran sekaligus mendapatkan keuntungan dari setiap transaksi.
Dalam menjalankan bisnis sebagai agen, permintaan terhadap produk ternyata terus mengalami peningkatan. Penjualan tidak hanya bertahan pada kondisi yang sama, tetapi cenderung meningkat secara bertahap. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah keberanian untuk meningkatkan anggaran pemasaran. Ketika iklan dan aktivitas pemasaran ditingkatkan secara terukur, peluang untuk memperoleh penjualan juga semakin besar.
Hal menarik lainnya adalah bahwa pada saat itu Kang Ismi sebenarnya masih relatif baru dalam dunia marketplace. Ia belum bertahun-tahun menjalankan bisnis online. Namun, dalam beberapa bulan praktik, omzetnya sudah mampu mencapai puluhan juta rupiah. Hal tersebut tidak terjadi hanya karena meningkatkan anggaran iklan, tetapi juga karena adanya proses belajar yang dilakukan secara terus-menerus.
Menurutnya, salah satu hal yang sangat penting adalah memiliki kemauan untuk terus belajar dan membuka diri terhadap berbagai sumber pengetahuan. Ia mempelajari aspek mindset dari berbagai materi yang diperolehnya, kemudian mulai mengikuti kegiatan mentoring secara lebih intensif. Ia menghadiri berbagai kegiatan, baik secara online maupun offline, sehingga memperoleh lebih banyak wawasan mengenai strategi bisnis, pemasaran, mindset, dan pengembangan jaringan.
Semakin banyak belajar, semakin besar pula kepercayaan dirinya untuk mengembangkan bisnis. Pada awalnya, ia merasa bahwa menjadi agen dengan margin sekitar 40 persen sudah cukup. Namun, setelah memahami adanya jenjang pengembangan bisnis yang lebih tinggi, ia mulai melihat peluang untuk meningkatkan kapasitasnya.
Dalam perkembangannya, Kang Ismi kemudian berhasil mencapai posisi sebagai Distributor Utama dan sekaligus mulai berperan sebagai mentor bagi mitra lainnya. Perubahan tersebut tidak hanya mengubah angka penjualan, tetapi juga mengubah cara berpikir dan cara menjalankan bisnis.
Ketika masih menjadi reseller atau agen, fokus utamanya adalah bagaimana menjual produk kepada konsumen. Setelah berada pada tingkat distributor, fokus tersebut berkembang menjadi bagaimana membangun jaringan, mengembangkan mitra, serta membantu orang lain agar mampu menjalankan proses yang sama.
Pada tahap ini, berbagai kemampuan yang sebelumnya telah dipelajari perlu dikembangkan kembali. Kemampuan menjual, berkomunikasi, membangun hubungan, melakukan pemasaran, dan membimbing orang lain menjadi semakin penting. Ilmu yang sebelumnya digunakan untuk mengembangkan bisnis pribadi kemudian mulai dibagikan kepada mitra agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Bagi Kang Ismi, proses tersebut juga memiliki hubungan dengan semangat untuk memberikan kebermanfaatan kepada orang lain. Keberhasilan bisnis tidak hanya dipandang dari besarnya omzet yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuan untuk membantu orang lain berkembang. Karena itu, pengalaman yang telah diperoleh selama menjalankan bisnis kemudian digunakan untuk membantu dan membimbing para mitranya.
Pengalaman tersebut juga memberikan sebuah pelajaran penting bagi orang yang baru ingin memulai bisnis online. Tidak memiliki pengalaman bukan berarti seseorang tidak dapat memulai. Yang lebih penting adalah memiliki kemauan untuk belajar, berani mencoba, melakukan validasi, mengevaluasi hasil, dan terus memperbaiki strategi.
Seseorang tidak harus menjadi ahli terlebih dahulu baru kemudian memulai bisnis. Justru kemampuan sering kali terbentuk melalui proses praktik. Dengan mencoba, seseorang mendapatkan data. Dengan mendapatkan data, seseorang dapat melakukan evaluasi. Dari evaluasi tersebut, strategi dapat diperbaiki. Proses inilah yang kemudian membentuk pengalaman dan kemampuan.
Namun, proses belajar akan menjadi lebih terarah apabila seseorang tidak menjalankannya sendirian. Salah satu pesan penting yang disampaikan Kang Ismi kepada para pengusaha pemula adalah pentingnya mencari mentor dan membangun komunitas.
Menurutnya, pengusaha tidak seharusnya selalu berjuang sendirian. Bergabung dengan komunitas dan memiliki mentor dapat membantu seseorang mendapatkan perspektif yang lebih luas, menghindari kesalahan yang sebenarnya dapat dicegah, serta mengetahui langkah-langkah yang lebih tepat dalam mengembangkan bisnis.
Mentor dapat diibaratkan seperti kompas.
Menarik Untuk Ditonton : Jangan Baper
Mau Konsultasi?