Meta lagi agresif membajak para peneliti elit dari OpenAI, DeepMind, Anthropic, dan juga Apple. Tidak tanggung-tanggung, Meta menawarkan kompensasi sampai 100 juta dolar AS per orang. Langkah brutal ini menyulut perang talenta AI terbesar sekaligus termahal sepanjang sejarah. Semua bermula dari pembangunan Meta Super Intelligence Labs, divisi riset baru dengan misi ambisius: menciptakan sistem AI yang kecerdasannya melebihi manusia. Jika tujuan ini tercapai, peta persaingan industri AI akan berubah drastis. Divisi ini dipimpin Alexander Weng, sosok yang dikenal piawai mengelola proyek teknologi secara cepat dan efisien meski bukan ilmuwan.
Tak lama setelah pengumuman itu, dunia riset AI geger karena Meta mulai merekrut peneliti top dari berbagai perusahaan. Salah satunya Zengja Zaw, salah seorang pencipta GPT-4 dan model penalaran AI bernama O-Wat. Ia diangkat sebagai Chief Scientist di Meta Super Intelligence Lab. Selain itu, Meta juga membajak peneliti penting dari kantor OpenAI di Zurich dan ahli AI multimodal. Untuk mendukung langkah ini, Meta merogoh dana sangat besar: bonus 100 juta dolar AS per ahli, investasi 14 miliar dolar ke Scale AI, serta pembangunan pusat pelatihan AI raksasa di Ohio dengan kapasitas listrik 1 GW dalam proyek bernama Prometheus yang ditargetkan selesai 2026.
Menarik Untuk Dibaca : Tradisi Jumputan Dalam Gaya Modern
Langkah agresif ini lahir dari tekanan. Sejak 2023, Meta tertinggal dalam perlombaan AI generatif dibandingkan ChatGPT (OpenAI), Claude (Anthropic), dan Gemini (Google DeepMind). Model LLaMA 2 dan 3 secara teknis menjanjikan, tapi gagal membangun ekosistem developer yang kuat. Bahkan acara LLaMACon 2025 berakhir antiklimaks karena developer menilai Meta tak punya arah inovasi jelas. Sementara itu, lab riset utama mereka, FAIR, dianggap terlalu akademis dan kurang relevan dengan kebutuhan pasar. Kondisi internal juga tak kondusif—banyak talenta resign dan pindah ke pesaing atau mendirikan startup.
Rekrutmen Meta yang begitu agresif menghebohkan industri. Mereka membidik peneliti berpengalaman, menghubungi lewat jalur pribadi, lalu menawari kompensasi mencengangkan: gaji besar, saham, bonus, akses penuh ke komputasi, hingga kebebasan riset tanpa birokrasi. Bagi sebagian peneliti, tawaran ini terasa seperti mimpi. Forum-forum teknologi bahkan membahas pergerakan para peneliti layaknya bursa transfer atlet, lengkap dengan analisis performa dan nilai tawar.
Tak heran pesaing Meta bereaksi keras. OpenAI memperkuat sistem retensi: menaikkan kompensasi, memperpanjang kontrak, dan menekankan misi membangun AI yang aman. CEO Sam Altman bahkan mengirim memo internal: budaya misi tak boleh kalah oleh tawaran uang. Anthropic menyusun ulang skema insentif jangka panjang, sedangkan Google dan DeepMind menggabungkan tim riset, memperluas kolaborasi dengan kampus, dan membuka beasiswa riset AI. Para analis juga khawatir strategi Meta menciptakan ketimpangan: hanya segelintir perusahaan mampu membeli talenta terbaik, sementara universitas dan startup makin kesulitan mempertahankan orang-orang berbakat.
Meta memahami bahwa faktor penentu keberhasilan AI bukan sekadar data atau infrastruktur, melainkan manusia: peneliti dan engineer papan atas. Karena itu, mereka berani menggelontorkan dana besar, bahkan Mark Zuckerberg turun langsung melakukan pendekatan personal ke kandidat. Akibatnya, perang talenta AI pecah. Universitas kehilangan peneliti muda sebelum lulus, startup harus menawarkan saham besar atau status co-founder demi menarik ahli. Rekrutmen AI kini berubah jadi pertarungan sengit, mahal, dan emosional.
Fenomena ini melahirkan dua kelompok berbeda. Pertama, peneliti elit yang diperebutkan perusahaan dengan kompensasi fantastis. Kedua, engineer biasa yang perannya makin tergeser oleh alat bantu seperti Copilot dan Code LLM. Dengan ini, Meta seolah sedang mengonsep ulang aturan main industri AI. Namun keberhasilan langkah mereka masih dipertanyakan. Membajak talenta memang penting, tapi tantangan sesungguhnya adalah menyatukan tim bintang dengan kultur riset yang kuat, kepemimpinan jelas, dan misi yang bermakna. Tanpa itu, perekrutan besar bisa berbalik jadi bumerang.
Ada tiga perenungan penting dari kasus ini. Pertama, di era AI, mata uang paling berharga adalah manusia, bukan sekadar data atau chip. Kedua, tim berisi superstar belum tentu produktif karena ego dan visi berbeda bisa menghambat kolaborasi. Ketiga, lomba gaji dan bonus besar bisa menciptakan bubble baru yang berisiko runtuh seperti “tech winter” jika hasil tak sepadan dengan ekspektasi.
Meta kini berhadapan dengan pesaing tangguh. OpenAI menguasai pasar dengan ChatGPT, Anthropic menonjol dalam keamanan AI, DeepMind unggul dalam riset mendalam, dan Apple memperkuat integrasi AI ke ekosistem produknya. Meta memilih jalur berbeda: fokus membangun personal super intelligence, AI personal yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari lewat perangkat seperti kacamata pintar dan platform sosial. Strategi ini aplikatif, tapi tetap penuh tantangan besar.
Pertanyaannya: apakah Meta sedang membuka jalan baru dalam AI atau hanya menciptakan gemuruh sesaat? Merekrut nama besar penting, tapi membangun sesuatu yang benar-benar berdampak butuh lebih dari sekadar tim hebat. Jawabannya akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.
Menarik Untuk Ditonton : Mendesain Model Bisnis
Mau Konsultasi?