Rasanya semua orang sepakat bahwa Sony adalah perusahaan yang sangat inovatif. Tapi ironisnya, justru para pesainglah yang sering kali menuai keuntungan dari inovasi Sony. Lihat saja, Sony menjadi pionir televisi berkualitas tinggi, namun perusahaan elektronik Korea yang akhirnya menguasai pasarnya. Sony memulai industri musik bergerak lewat Walkman, tapi kemudian Apple yang menguasai dunia musik digital. Hampir selalu, Sony membuka jalan namun berakhir terpinggirkan. Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan yang mampu melihat masa depan, justru tertinggal di belakang.
Sepanjang sejarahnya, Sony adalah sang pionir. Mereka selalu berlari lebih dulu dengan berbagai inovasi, namun banyak berakhir tragis. Televisi Trinitron ciptaan mereka sempat menguasai pasar global selama puluhan tahun, bahkan terjual lebih dari 280 juta unit dan meraih penghargaan Emmy. Namun ketika tren bergeser ke televisi layar datar, Sony terlambat beradaptasi, sementara Samsung dan LG bergerak cepat merebut pangsa pasar. Kisah serupa terulang dengan Walkman. Diluncurkan tahun 1979, perangkat ini mengubah cara orang mendengarkan musik dan menjadi ikon global. Namun ketika dunia masuk ke era digital, Sony tetap bertahan dengan MiniDisc dan software tertutup, sementara Apple meluncurkan iPod dan iTunes yang segera menguasai pasar.
Sony juga bekerja sama dengan Philips menciptakan compact disc (CD) yang menjadi simbol kualitas dan modernitas. Bersama Philips pula, mereka mengembangkan DVD dan Blu-ray yang sempat memenangkan persaingan melawan HD-DVD. Sayangnya, lagi-lagi Sony lambat ketika tren beralih ke streaming. Padahal mereka punya perangkat, film, musik, hingga jaringan distribusi—tapi semua berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya, ketika Netflix dan iTunes menguasai pasar, Sony hanya menjadi penonton.
Ironi berlanjut di industri ponsel. Pada 2004, Sony Ericsson merilis P900, ponsel pintar dengan layar sentuh, stylus, multitasking, bahkan aplikasi pihak ketiga—tiga tahun sebelum iPhone lahir. Namun inovasi ini dibiarkan tanpa dukungan ekosistem, kampanye besar, atau narasi kuat. Ketika Apple menghadirkan iPhone dengan ekosistem App Store, pengalaman mulus, dan brand emosional, Sony kembali kalah. Xperia yang hadir kemudian unggul secara teknis, tetapi gagal membangun ekosistem, hingga pangsa pasarnya anjlok dari 9% menjadi di bawah 1%. Pada 2021, Sony resmi melebur divisi ponsel ke induk perusahaan—tanda berakhirnya kiprah mereka di industri smartphone.
Menarik Untuk Dibaca : Kisah Inspiratif Salmara Madu
Kisah serupa terjadi di dunia baterai. Sony adalah pencipta baterai lithium-ion pada 1991, teknologi yang hari ini menggerakkan ponsel dan mobil listrik. Namun pada 2017, Sony menjual bisnis baterainya ke Murata dan menghilang dari peta industri energi. Sony tampak sering kehilangan momentum. Mereka kurang cepat membaca arah pasar, kurang piawai membungkus teknologi dengan narasi yang kuat, dan jarang membangun ekosistem berkelanjutan. Produk mereka hebat secara teknis, tapi berdiri sendiri-sendiri. Sementara Apple dan Google berhasil menciptakan sistem yang membuat pengguna betah menetap, Sony hanya menjual perangkat tanpa rumah digital yang memikat.
Namun tidak semua kisah Sony berakhir pahit. PlayStation justru menjadi contoh sukses. Awalnya, Sony bekerja sama dengan Nintendo membuat konsol berbasis CD. Setelah Nintendo mundur, Sony memilih jalan sendiri dan melahirkan PlayStation. Berbeda dengan produk Sony sebelumnya, PlayStation tidak hanya menawarkan perangkat, tetapi juga membuka pintu bagi para pengembang game dengan alat yang mudah, murah, dan fleksibel. Dari situ lahir game legendaris seperti Final Fantasy, Tekken, dan Metal Gear Solid. PlayStation menjadi ekosistem dengan komunitas, gaya hidup, dan pengalaman mendalam yang terus berkembang. Inilah satu-satunya inovasi Sony yang berhasil dipelihara hingga kini.
Ada tiga pelajaran berharga dari perjalanan Sony. Pertama, menjadi yang pertama tidak selalu berarti menjadi yang terbesar. Waktu saja tidak cukup—yang menentukan adalah siapa yang mampu membentuk arah, membangun sistem, dan menjaga konsistensi. Kedua, inovasi sejati tidak berhenti pada produk, melainkan harus dibungkus dengan pengalaman, ekosistem, dan strategi yang humanis. Di era terhubung, orang tidak hanya membeli barang, tetapi juga ingin hidup dalam sistem yang memudahkan, nyaman, dan saling terkoneksi. Ketiga, kejelasan arah dan konsistensi lebih penting daripada sekadar kecemerlangan sesaat. Sony kerap terpukau dengan penemuannya sendiri, tapi kurang berkomitmen membesarkannya.
Kisah Sony mengingatkan kita bahwa kemampuan melihat masa depan bukan jaminan untuk mengendalikannya. Ide besar butuh waktu untuk tumbuh, dipandu arah yang jelas, dan dijaga agar tetap relevan. Sesuatu bisa bertahan bukan hanya karena hebat di awal, tetapi karena mampu berkembang bersama kebutuhan pengguna. Tinggal bagaimana kita belajar, menyusun ulang langkah, dan membangun dengan lebih bijak.
Menarik Untuk Ditonton : Cara Menghitung HPP dan Harga Jual
Mau Konsultasi?