
Bisnis dapat mengalami kegagalan, kerugian, bahkan kebangkrutan. Hal tersebut merupakan bagian dari dinamika dunia usaha. Kegagalan tidak selalu harus dipandang sebagai akhir, tetapi dapat menjadi proses pembelajaran yang memberikan pengalaman berharga bagi seorang pengusaha. Penyebab kegagalan bisnis pun beragam, mulai dari produk yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, minimnya pelanggan, kekurangan modal, buruknya pengelolaan arus kas, hingga persoalan yang muncul dalam hubungan partnership atau kerja sama bisnis.
Salah satu persoalan yang sering kali tidak diperhitungkan sejak awal adalah konflik antara founder, co-founder, partner, atau anggota keluarga yang menjalankan bisnis bersama. Pada awalnya, hubungan tersebut biasanya dibangun atas dasar kepercayaan, persahabatan, hubungan keluarga, atau semangat yang sama untuk membangun usaha. Namun, ketika bisnis mulai berkembang, nilai transaksi meningkat, keputusan menjadi semakin kompleks, dan tanggung jawab semakin besar, berbagai persoalan yang sebelumnya dianggap kecil dapat berkembang menjadi konflik serius. Tidak jarang, hubungan yang awalnya sangat dekat akhirnya berujung pada perpecahan, saling menyalahkan, bahkan sengketa hukum yang pada akhirnya turut menghancurkan bisnis.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dalam bisnis, kepercayaan memang penting, tetapi kepercayaan saja tidak cukup. Terlalu mudah percaya tanpa melakukan pengecekan justru dapat menjadi sumber masalah. Karena itu, bisnis perlu dijalankan secara rasional dan berdasarkan data. Kepercayaan sebaiknya tetap disertai dengan mekanisme pengecekan, pencatatan, transparansi, dan pengawasan. Dengan demikian, hubungan partnership tidak hanya bergantung pada hubungan personal, tetapi juga memiliki sistem yang dapat melindungi seluruh pihak.
Salah satu akar konflik dalam partnership adalah tidak jelasnya pembagian peran sejak awal. Pada fase awal bisnis, kondisi biasanya masih sederhana. Semua orang saling membantu dan mengerjakan berbagai hal secara bersama-sama. Namun, ketika bisnis semakin besar, jumlah keputusan bertambah dan tanggung jawab semakin kompleks, pola kerja seperti ini dapat menimbulkan masalah.
Mulai muncul pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya berwenang mengambil keputusan, siapa yang bertanggung jawab atas suatu bidang, dan siapa yang memiliki kewenangan terakhir dalam menentukan kebijakan. Seseorang dapat merasa bahwa suatu bidang merupakan wilayah tanggung jawabnya, sementara partner lainnya merasa memiliki hak untuk ikut campur. Jika kondisi tersebut tidak diatur sejak awal, konflik kewenangan sangat mudah terjadi.
Karena itu, pembagian peran harus dibuat secara jelas sejak awal. Misalnya, satu partner bertanggung jawab atas operasional dan produksi, partner lainnya menangani marketing, branding, dan penjualan, sementara bidang keuangan dan legal juga memiliki penanggung jawab yang jelas. Dengan pembagian tersebut, setiap orang mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya, batas kewenangannya, serta keputusan apa saja yang harus dikonsultasikan bersama.
Prinsipnya sederhana: jangan membangun bisnis dengan pola “semua orang mengerjakan semuanya” tanpa batas kewenangan yang jelas. Ketika bisnis masih kecil, pola tersebut mungkin terasa praktis. Namun, ketika bisnis berkembang, ketidakjelasan tersebut dapat menjadi sumber konflik.
Masalah berikutnya adalah pembagian uang yang tidak transparan. Ketika omzet bisnis masih kecil, persoalan pembagian hasil mungkin belum terlalu terasa. Namun, ketika omzet mulai mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah, perbedaan persepsi mengenai kontribusi masing-masing pihak dapat mulai muncul.
Salah satu pihak mungkin merasa bekerja lebih keras, menghabiskan lebih banyak waktu, atau memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Sementara itu, ia melihat partnernya memperoleh bagian yang dianggap terlalu besar dibandingkan kontribusinya. Sebaliknya, partner lainnya mungkin merasa bahwa kontribusinya tidak dihargai karena pekerjaannya tidak terlihat secara langsung.
Persoalan seperti ini sering kali bukan semata-mata mengenai jumlah uang, melainkan mengenai persepsi keadilan. Oleh karena itu, pembagian modal, kepemilikan saham atau equity, gaji, keuntungan, bonus, dan mekanisme pengambilan hasil harus dibicarakan secara terbuka sejak awal.
Jangan menunggu bisnis menghasilkan keuntungan besar baru membicarakan pembagian uang. Justru ketika kondisi bisnis masih sederhana, seluruh kesepakatan harus sudah dibuat dengan jelas agar ketika bisnis berkembang, tidak muncul pertanyaan seperti, “Mengapa bagian saya hanya sebesar ini?” atau “Mengapa dia mendapatkan lebih banyak?”
Menarik Untuk Dibaca : Arah Industri Mobil Listrik China dan Indonesia
Masalah ketiga adalah pertumbuhan kemampuan atau kompetensi partner yang tidak seimbang. Pada awal bisnis, dua orang mungkin sama-sama bersemangat belajar dan berkembang. Namun, setelah beberapa tahun, salah satu pihak dapat berkembang jauh lebih cepat sementara pihak lainnya berhenti belajar.
Perbedaan pertumbuhan tersebut pada akhirnya dapat menciptakan kesenjangan dalam cara berpikir, kemampuan mengambil keputusan, pemahaman terhadap bisnis, serta visi mengenai masa depan perusahaan. Ketika salah satu pihak berkembang sangat cepat sementara pihak lainnya tidak mengalami perkembangan yang sama, komunikasi dan pengambilan keputusan dapat menjadi semakin sulit.
Karena itu, partnership membutuhkan semangat growing together atau tumbuh bersama. Pertumbuhan tidak harus berarti kedua orang memiliki kompetensi yang sama, tetapi keduanya perlu terus meningkatkan kapasitas masing-masing sesuai dengan bidang yang menjadi tanggung jawabnya.
Partner dapat membangun kebiasaan belajar bersama, misalnya dengan membaca buku yang sama, mengikuti pelatihan, mendiskusikan perkembangan industri, atau saling berbagi hasil pembelajaran. Dengan demikian, setiap orang tetap berkembang dan memiliki wawasan yang cukup untuk memahami perubahan yang terjadi dalam bisnis.
Kesalahan berikutnya adalah membiarkan seluruh kesepakatan hanya berdasarkan pembicaraan lisan. Hubungan yang dekat sering membuat seseorang berpikir bahwa perjanjian tertulis tidak diperlukan. “Kami kan teman,” “Kami kan saudara,” atau “Kami kan suami istri.” Pola pikir seperti ini justru dapat menjadi masalah ketika terjadi perbedaan pemahaman.
Dalam bisnis, hubungan personal dan hubungan profesional harus dapat dibedakan. Kepercayaan tetap penting, tetapi kesepakatan harus dituangkan secara tertulis dan memiliki dasar legal yang jelas.
Hal-hal yang perlu dituangkan antara lain pembagian kepemilikan, modal yang disetorkan, pembagian keuntungan, tanggung jawab masing-masing pihak, kewenangan pengambilan keputusan, mekanisme ketika salah satu pihak ingin keluar, penyelesaian konflik, hingga kondisi ketika bisnis mengalami kerugian.
Dokumen tertulis bukan berarti menunjukkan bahwa kita tidak percaya kepada partner. Justru dokumen tersebut merupakan bentuk perlindungan bagi seluruh pihak agar tidak terjadi perbedaan interpretasi di kemudian hari.
Dalam perspektif Islam pun, persoalan muamalah menunjukkan pentingnya pencatatan dalam transaksi. Prinsip yang dapat diambil adalah bahwa sesuatu yang menyangkut hak dan kewajiban sebaiknya tidak hanya bergantung pada ingatan dan kesepakatan lisan, tetapi dibuat secara jelas dan dapat dibuktikan.
Persoalan terakhir adalah konflik personal di antara para founder atau partner. Partnership bukan hanya menyatukan modal dan kompetensi, tetapi juga menyatukan manusia dengan karakter, nilai, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda.
Partner yang ideal bukan selalu orang yang memiliki kemampuan sama dengan kita. Justru partner dapat memiliki kompetensi yang saling melengkapi. Satu orang kuat dalam marketing, sementara yang lain kuat dalam operasional. Satu orang unggul dalam strategi, sementara yang lain unggul dalam eksekusi.
Namun, meskipun kompetensi dapat berbeda, terdapat beberapa hal yang sebaiknya memiliki keselarasan, terutama visi, nilai, prinsip, dan cara memandang bisnis. Jika satu pihak mengejar pertumbuhan agresif sementara pihak lainnya sangat konservatif, atau satu pihak mengutamakan integritas dan keberlanjutan sementara pihak lainnya hanya mengejar keuntungan jangka pendek, konflik dapat muncul ketika bisnis menghadapi tekanan.
Karena itu, memilih partner tidak cukup hanya dengan melihat apakah seseorang memiliki modal atau kemampuan tertentu. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah orang tersebut dapat diajak berjalan bersama ketika bisnis sedang menghadapi masa sulit?
Dari berbagai persoalan tersebut, terdapat satu prinsip penting: partnership yang sehat membutuhkan kombinasi antara kepercayaan dan sistem.
Kepercayaan diperlukan agar hubungan kerja dapat berjalan dengan baik. Namun, sistem diperlukan agar bisnis tidak bergantung pada hubungan personal semata. Pembagian peran harus jelas, keuangan harus transparan, kompetensi harus terus dikembangkan, kesepakatan harus dituangkan secara tertulis, dan mekanisme penyelesaian konflik harus disiapkan sejak awal.
Bahkan dalam hubungan suami istri yang menjalankan bisnis bersama atau couplepreneur, akad pernikahan dan kerja sama bisnis merupakan dua hal yang berbeda. Hubungan sebagai pasangan hidup tetap harus dijaga, tetapi pembagian tanggung jawab bisnis juga perlu dibuat secara profesional.
Misalnya, satu pihak bertanggung jawab terhadap marketing, branding, dan penjualan, sedangkan pihak lainnya bertanggung jawab terhadap operasional, produksi, dan pengelolaan tim. Pembagian keuntungan atau earning juga perlu disepakati secara jelas. Dengan demikian, masing-masing pihak mengetahui tanggung jawab dan batas kewenangannya sehingga tidak terjadi saling mengambil alih pekerjaan.
Prinsipnya bukan menciptakan hubungan bisnis yang penuh kecurigaan, tetapi menciptakan hubungan yang sehat karena seluruh pihak memahami aturan mainnya.
Sebelum memulai kerja sama bisnis, beberapa pertanyaan penting perlu dijawab:
Semakin dekat hubungan personal dengan calon partner, bukan berarti checklist tersebut boleh semakin sedikit. Justru hubungan yang semakin dekat perlu diimbangi dengan kejelasan yang semakin kuat agar hubungan personal tidak rusak ketika terjadi persoalan bisnis.
Kebangkrutan dan kegagalan bisnis dapat terjadi karena berbagai faktor. Namun, banyak persoalan sebenarnya dapat diminimalkan apabila sejak awal bisnis dibangun dengan struktur yang jelas.
Jangan hanya bertanya, “Apakah saya percaya kepada orang ini?” Pertanyaan yang juga harus diajukan adalah, “Apakah sistem bisnis kami mampu melindungi hubungan kami ketika suatu saat terjadi perbedaan pendapat?”
Bisnis yang sehat bukanlah bisnis yang tidak pernah mengalami konflik. Bisnis yang sehat adalah bisnis yang memiliki mekanisme untuk menghadapi konflik sebelum konflik tersebut menghancurkan hubungan dan perusahaan.
Pengalaman kegagalan dalam partnership dapat menjadi pelajaran yang sangat mahal. Namun, pelajaran tersebut tidak harus selalu dibayar oleh setiap pengusaha dengan mengalami kegagalan yang sama. Kita dapat belajar dari pengalaman orang lain, memperbaiki sistem sejak awal, memperjelas peran dan keuangan, serta membangun kesepakatan yang profesional.
Pada akhirnya, memilih partner bukan hanya tentang memilih orang yang dapat diajak sukses bersama, tetapi juga memilih orang yang dapat diajak menyelesaikan masalah ketika bisnis sedang berada dalam kondisi yang sulit.
Menarik Untuk Ditonton : Nunggu Balik Modal ?
Mau Konsultasi?