

Konsep pertanian yang saya kembangkan berangkat dari prinsip sederhana: tanamannya sedikit, tetapi nilai ekonominya tinggi. Salah satu teknik yang menurut saya paling mudah, murah, dan menghasilkan secara berkelanjutan adalah sistem galon. Selain karena bahan yang digunakan mudah didapat, teknik ini juga memanfaatkan barang-barang bekas sehingga biaya produksi dapat ditekan secara signifikan, sementara hasil panen tetap melimpah.
Perkenalkan, nama saya Triadiwono, berdomisili di Tambakrejo, Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Saya adalah pemilik Studio Tani Kalisuci, Semanu, Gunungkidul. Sejak awal, kami memang fokus pada rekayasa lahan dan penerapan teknologi sederhana dalam kegiatan pertanian. Konsep yang kami kembangkan kami sebut sebagai “Petani Cerdas Air”. Proses menemukan teknik ini tidak singkat. Saya membutuhkan waktu kurang lebih tujuh tahun hingga akhirnya sistem galon ini benar-benar siap diterapkan secara optimal.
Sebelum terjun ke dunia pertanian, saya bekerja sebagai juru parkir di salah satu pasar. Lima tahun terakhir barulah saya mulai serius melihat potensi pertanian di wilayah Semanu. Saya melakukan pendataan sederhana dan menemukan bahwa kebutuhan sayuran di pasar cukup besar setiap harinya. Dari situ saya menyadari bahwa jika kami mampu memenuhi sebagian kecil saja dari kebutuhan pasar tersebut secara konsisten, maka pertanian sudah sangat layak dijadikan sumber penghidupan.
Menarik Untuk Dibaca : Ide Bisnis Rumahan
Di Studio Tani Kalisuci, kami telah mencoba berbagai teknik budidaya, seperti polybag, planter bag, dan sistem lainnya. Namun, dari seluruh metode yang dicoba, sistem petani cerdas air berbasis galon dinilai paling tepat dan efisien oleh kelompok tani Kampung Tangguh Kalisuci. Teknik ini meminimalkan hambatan utama dalam bertani, yaitu keterbatasan waktu dan air. Proses pengairan sangat sederhana, cukup dengan membuka dan menutup kran tanpa harus menarik selang atau mengangkat gembor. Bahkan untuk tanaman seperti seledri, penyiraman cukup dilakukan lima hingga tujuh hari sekali.
Dalam pemilihan komoditas, kami berfokus pada tanaman dengan kebutuhan lahan relatif kecil tetapi bernilai ekonomi tinggi. Beberapa di antaranya adalah seledri, loncang, bawang merah, padi, serta budidaya ikan seperti lele. Setiap komoditas memiliki teknik yang berbeda, namun tetap berada dalam satu konsep besar, yaitu petani cerdas air. Untuk tanaman seledri, misalnya, kami mengombinasikannya dengan jahe dan loncang dalam satu media tanam yang kami sebut sebagai sistem “Jelas” (jahe, loncang, seledri). Dalam satu area tanam, sistem ini memungkinkan panen hingga tiga komoditas sekaligus, sehingga lebih efisien dan menguntungkan.
Sistem pengairan dirancang agar air tidak terbuang sia-sia. Air yang mengalir dari galon akan menyiram tanaman di bagian atas, lalu mengalir ke bawah untuk memenuhi kebutuhan tanaman lain, seperti jahe. Media tanam yang digunakan bersifat fleksibel, bisa menggunakan tanah atau media lain sesuai dengan jenis tanaman. Kami juga memiliki formula pupuk padat sendiri yang berasal dari bahan-bahan alami seperti gedebok pisang dan bahan organik lainnya, yang terbukti mampu menghasilkan tanaman dengan kualitas baik.
Selain hortikultura, kami juga mengembangkan pertanian padi dengan konsep “Pacar Tanpa Utang” atau Petani Cerdas Air Tanam Padi Satu Batang melalui rekayasa lahan. Di wilayah Gunungkidul yang memiliki keterbatasan air, pencetakan sawah menjadi kunci keberhasilan. Tekniknya relatif sederhana, yaitu dengan mengeruk tanah sekitar 30 sentimeter, melapisinya dengan plastik UV, kemudian mengembalikan tanah ke posisi semula dan menambahkan pupuk. Dengan metode ini, kami membuktikan bahwa sistem mina padi dapat diterapkan meskipun sumber air terbatas.
Di sektor perikanan, kami membudidayakan ikan nila, bawal, dan gurami. Untuk lele, kami mengembangkan metode khusus yang kami sebut “Lelaki Suspek” (Lele Lahan Kering Sistem Petani Cerdas). Dalam sistem ini, kepadatan tebar ikan tinggi, tetapi air tetap tidak berbau dan dapat langsung dimanfaatkan untuk menyiram tanaman sebagai pupuk cair. Hal ini dimungkinkan karena kami menggunakan formulasi bakteri dan mikroba yang telah kami rancang sendiri, sehingga kesehatan ikan tetap terjaga dan limbah air tidak terbuang percuma.
Kami menyebut konsep ini mudah, murah, dan melimpah karena seluruh elemennya saling berkaitan: konsep yang jelas, teknik yang tepat, dan biaya yang terjangkau. Bahan yang digunakan mudah diperoleh dan sebagian besar merupakan barang bekas, seperti galon air. Dari sisi bisnis, keberlanjutan produksi menjadi kunci utama. Pertanian harus mampu berproduksi baik di musim hujan maupun musim kemarau agar pasokan ke pasar tetap terjaga. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi seperti rumah kaca dan rekayasa lahan menjadi hal yang wajib jika ingin menjadikan pertanian sebagai usaha yang berorientasi pasar.
Dalam hal pemasaran, saya memilih pendekatan sederhana dengan menguasai satu pedagang atau satu komunitas pasar terlebih dahulu. Misalnya, dari komoditas seledri, kami dapat memanen sekitar lima kilogram per hari dengan harga Rp18.000–Rp20.000 per kilogram. Artinya, pendapatan harian dapat mencapai sekitar Rp90.000 hingga Rp100.000, yang jika dikalkulasikan secara bulanan sudah melampaui upah minimum regional di Gunungkidul. Ini membuktikan bahwa pertanian dengan sistem yang tepat dapat menjadi usaha yang layak dan berkelanjutan.
Bagi siapa pun yang ingin terjun ke dunia pertanian, saya meyakini bahwa kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi adalah kunci utama keberhasilan. Teknologi dan rekayasa lahan sangat menentukan keberlangsungan dan keberhasilan usaha pertanian. Bagi yang ingin belajar lebih lanjut, dapat berkunjung ke Studio Tani Kalisuci atau Kampung Tangguh Kalisuci. Saya juga dapat dihubungi melalui WhatsApp di nomor 0821-3431-8607.
Menarik Untuk Ditonton : Strategi Mengembangkan Bisnis Kuliner
Mau Konsultasi?