“Waktu terkena kanker saya shock. Kebetulan suami saya adalah seorang peneliti kanker sejak tahun 1996. Saya sering ikut menemani suami ketika penelitian. Jadi saya tahu bagaimana proses terjadinya kanker, bagaimana kegagalan, pengobatan dan sebagainya. Melihat kondisi saya dengan berbagai pertimbangan akhirnya suami memiliki kebijakan mencoba hasil penelitiannya untuk pengobatan saya.” tutur Andriani
Prof. Dr. H. Djoko Agus Purwanto Apt., M.Si telah bertahun-tahun meneliti teh. Dalam risetnya belia terus berinovasi bagaimana EGCG ( Epigallocatechin Gallate ) dari teh hijau bisa memblokir perkembangan sel kanker. Hasil penelitian inilah yang dijadikan obat untuk istrinya. Pun suami tidak lupa terus berdoa kepada Allah agar istrinya bisa sehat sedia kala.
Pada saat itu yang diprediksi usia Andriani hanya tinggal 3 bulan, bisa bertahan 6 bulan, dan terus berlanjut dalam satu tahun. Hingga akhirnya sembuh.
“ Saat itu kami yakin saja, bahwa Allah Maha Penyembuh, punya rencana terbaik untuk kami. Satu-satunya yang kami lakukan yakin.” imbuh Andriani.
Setelah sembuh, suaminya dikukuhkan menjadi guru besar farmasi. Banyak yang ingin bertemu dengan Prof. Djoko. Dari hasil diskusi akhirnya suami Andriani sepakat untuk memproduksi lebih banyak ekstrak teh hijau. Akhirnya muncullah nama produk Meditea dalam bentuk serbuk dan kapsul. Harapannya adalah agar bisa membantu banyak orang yang sedang mengalami penyakit kanker seperti yang diderita Andriani sebelumnya.
“Jadi, Meditea adalah ekstrak EGCG yang berasal dari teh hijau. Teh hijau diekstraksi, beberapa zat dibuang, dan diambil EGCG nya saja. Nah, EGCG ini adalah anti oksidan yang tertinggi, 100 lebih tinggi dari vitamin C dan 25 kali lebih tinggi dari vitamin E. Lantas fungsi dari anti oksidan ini untuk mengembalikan fungsi fisiologis tubuh kembali normal.” Tambah Andriani.
Meditea ini beda dengan teh biasa, karena berbentuk serbuk dan tidak berampas. Pun kandungan kafeinnya sangat rendah sehingga aman untuk lambung.
Tantangan awal ketika produksi Meditea harga EGCG nya tinggi. Andriani dan suami encari cara agar harganya terjangkau untuk masyarakat luas. Akhirnya saat ini harganya bisa dijangkau oleh masyarakat luas.
“ Awalnya Meditea ini untuk kalangan sendiri, untuk teman-teman penyintas kanker. Jadi kami sama sekali tidak beriklan. Kami melakukan marketingnya dengan MLK ( Multi Level Kebaikan ). Kami berusaha menebar kebaikan sebanyak mungkin lewat edukasi-edukasi tentang ginjal, hati dan sebagainya. Kami ingin bisnis ini harus ada muatan sosialnya yang tinggi.” kata Andriani
“Penjualan salah satunya saya edukasi lewat media sosial. Kami juga punya komunitas Meditea dimana mereka adalah penderita kanker dan penyintas penderita kanker. Pun ada dokter di komunitas tersebut untuk memberikan support kepada anggota komunitas. Mereka juga banyak yang menjadi reseller produk Meditea. Wadah kami bentuk untuk salih membantu dalam kebaikan. Untuk saling menyemangati antar personal.”
Andriani menyebutkan bahwa keberhasilan produk Meditea murni karena Allah SWT. Meditea hanya sebagai wasilah atau sarana untuk proses kesembuhan.
“ Khususnya yang masih mengawali bisnis, pekerjaan itu tidak hanya keuntungan semata. Sebagai muslim kita harus mengutamakan mengejar kebaikan. Karena dengan kebaikan itulah Allah akan memberikan rezeki. Apa yang kita cari dalam hidup ini selain keberkahan ? Jadi jangan takut kekurangan rezeki. Jangan takut juga untuk berbagi. Sepanjang hidup kita, kita harus berjuang untuk beribadah, untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.” tutup Andriani
Dari cerita usaha ibu Andriani semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajarannya. Kunci sukses dari ibu Andriani adalah yakin dan terus menebar kebaikan untuk sesama.
Salam sukses, salam Satoeasa untuk Indonesia.
Meditea store :
Alamat : Wisma penjaringansari, Jl Pandugo Baru R-14 Rungkut, Surabaya
WhatsApp : 081235636878
Website : www.meditea.co.id
Mau Konsultasi?
1 Comment
Keep up the good work.