
Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh pemilik bisnis dan manajemen puncak dalam bekerja sama dengan fungsi pemasaran adalah kemampuan untuk menilai kualitas seorang marketer, baik yang bekerja secara in-house maupun sebagai konsultan. Tantangan ini semakin besar ketika pemilik bisnis tidak memiliki latar belakang atau pengalaman di bidang pemasaran. Namun demikian, untuk dapat menilai kualitas seorang marketer, tidak selalu diperlukan pemahaman teknis yang mendalam tentang pemasaran. Terdapat sejumlah indikator yang dapat dijadikan acuan dalam menilai apakah seorang marketer memiliki kapabilitas yang baik atau tidak.
Permasalahan ini sering kali berakar dari dua hal utama. Pertama, pemasaran merupakan salah satu bidang yang kompleks tetapi sering dianggap sederhana. Hal ini terjadi karena setiap individu pada dasarnya adalah konsumen, sehingga banyak pihak merasa memahami pemasaran hanya dari sudut pandang pengalaman pribadi. Padahal, praktik pemasaran yang efektif melibatkan proses berpikir yang terstruktur dan mendalam. Kedua, pemasaran merupakan bidang yang tidak memiliki regulasi ketat, sehingga siapa pun dapat mengklaim diri sebagai marketer tanpa standar kompetensi yang seragam. Akibatnya, kualitas praktisi pemasaran sangat beragam, dan pendekatan coba-coba sering kali dianggap wajar karena dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung.
Menarik Untuk Dibaca : Menjadi Culti Brand Imipian Semua Orang
Dalam menilai kualitas seorang marketer, aspek pertama yang perlu diperhatikan adalah pemahaman terhadap konteks konsumen, yang sering kali lebih penting dibandingkan sekadar pengalaman di industri yang sama. Setiap industri memang memiliki karakteristik unik, namun terdapat kesamaan dalam perilaku konsumen dan proses pengambilan keputusan di berbagai kategori. Oleh karena itu, seorang marketer yang memahami perilaku konsumen dan perjalanan pembelian (purchase journey) dapat tetap relevan meskipun berasal dari industri yang berbeda.
Aspek kedua adalah pemahaman terhadap berbagai peran (role) yang terkait dengan pemasaran. Pemasaran merupakan fungsi yang luas dan melibatkan berbagai spesialisasi, mulai dari analitik, digital marketing, brand management, hingga kreativitas konten. Selain itu, pemasaran juga berkaitan erat dengan fungsi lain seperti penjualan, distribusi, dan perencanaan bisnis. Seorang marketer yang baik tidak harus menguasai seluruh peran tersebut, tetapi setidaknya memiliki pemahaman dan pengalaman bekerja lintas fungsi sehingga mampu melihat gambaran besar secara menyeluruh.
Selanjutnya, penting untuk mempertimbangkan pengalaman dalam berbagai “kuadran” profesional, yaitu sebagai praktisi in-house, konsultan, trainer, maupun pelaku bisnis. Masing-masing kuadran memiliki keunggulan dan keterbatasan. Praktisi in-house memahami eksekusi dan realitas operasional, konsultan memiliki perspektif lintas industri, trainer kuat dalam kerangka teori, sementara pelaku bisnis memiliki sensitivitas tinggi terhadap aspek komersial. Semakin luas pengalaman seseorang di berbagai kuadran tersebut, semakin komprehensif pula sudut pandang yang dimilikinya.
Aspek berikutnya adalah business sense atau pemahaman terhadap aspek komersial. Seorang marketer yang baik tidak hanya fokus pada metrik pemasaran seperti impresi, jangkauan, atau engagement, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan dampak nyata terhadap bisnis, terutama penjualan dan profitabilitas. Tanpa pemahaman ini, peran marketer cenderung bergeser menjadi sekadar pelaksana aktivitas, bukan mitra strategis dalam pertumbuhan bisnis.
Terakhir, kemampuan dalam memahami dan menggunakan knowledge serta framework pemasaran juga menjadi indikator penting. Seorang marketer yang kompeten mampu menjelaskan secara logis dan terstruktur bagaimana suatu aktivitas pemasaran berkontribusi terhadap tujuan bisnis. Ia tidak hanya mengandalkan kebiasaan atau pengalaman sebelumnya, tetapi mampu menyesuaikan strategi dengan konteks yang berubah. Kemampuan ini menunjukkan kedewasaan berpikir dan kedalaman pemahaman terhadap pemasaran sebagai disiplin ilmu.
Dengan mempertimbangkan seluruh aspek tersebut—pemahaman konsumen, konteks peran, pengalaman lintas kuadran, business sense, serta penguasaan framework—risiko dalam memilih marketer yang kurang kompeten dapat diminimalkan. Pada akhirnya, seorang marketer yang berkualitas bukan hanya mampu menjalankan aktivitas pemasaran, tetapi juga mampu menjadi mitra strategis yang memberikan kontribusi nyata terhadap arah dan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Menarik Untuk Ditonton : Capek Jualan ?
Mau Konsultasi?