Inspirasi Usaha ~ Pisang Cavendish yang kami kelola memiliki standar kualitas atau grid. Jika kulitnya mulus, maka masuk grade A dan harganya lebih mahal. Sebaliknya, bila ada bintik atau kotor, harganya akan jatuh bahkan bisa tidak laku. Karena itu, untuk pasar pisang Cavendish diperlukan perawatan khusus dan brand yang jelas agar harga tetap stabil. Banyak mitra yang sering mengeluh karena hasil panennya dibeli murah. Padahal sebenarnya harga dipengaruhi oleh kualitas kulit pisang. Kalau petani merawat dengan baik, maka hasilnya mulus dan harganya tinggi.
Perkenalkan, saya Arifin, pengelola brand Pisang Mungking. Kami fokus pada varietas Cavendish. Awalnya kami mencoba tanam pisang raja di lahan 1000 meter. Namun setelah panen, kami sadar bahwa pisang raja sifatnya musiman sehingga harga sering anjlok. Dari situ, kami mencari varietas yang harganya stabil dan akhirnya memilih Cavendish, karena misinya jelas: untuk pangan. Cavendish lebih bisa dikontrol, hasilnya konsisten, dan dibutuhkan pasar sepanjang tahun.
Menarik Untuk Dibaca : Kenapa Banyak Transmart Yang Tumbang
Sekarang kami mengelola sekitar 30 hektar Cavendish yang tersebar di Klaten dan Cilacap. Proses pengembangan kami lakukan bertahap. Dari 1000 meter, naik ke 1 hektar, lalu berkembang terus. Setiap tahap kami pelajari betul cara tanam, perawatan, pemupukan, hingga panen. Bahkan, kami sudah menggunakan sistem komputerisasi untuk memprediksi tonase panen, kualitas grid, dan kesiapan pasar beberapa bulan ke depan. Dengan begitu, panen bisa teratur, tidak serentak, dan pasokan ke pasar selalu stabil.
Strategi pemasaran kami dimulai dari Klaten, lalu meluas ke Solo, Jogja, hingga Jakarta. Untuk masuk pasar modern seperti supermarket, kami menjaga kualitas dan branding agar pisang tetap stabil harganya. Satu hektar lahan rata-rata ditanami 2000–2400 pohon. Semua dihitung detail: biaya tanam per pohon, pemupukan, hasil tonase, sampai harga jual. Dari hitungan inilah kami bisa menentukan HPP dan menjaga agar usaha tetap untung. Memang, modal awal cukup berat karena pisang Cavendish baru bisa panen setelah 9 bulan. Tapi setelah itu, siklus panennya 3 bulan sekali sehingga keuntungan lebih stabil.
Perawatan tanaman kami lakukan ketat: mulai dari pengolahan tanah, pemupukan rutin sebulan sekali, penyemprotan daun dua minggu sekali, hingga pembungkusan buah untuk mencegah serangan hama. Kami juga menggunakan drone agar penyemprotan lebih efektif dan efisien, terutama di lahan luas. Dengan tenaga kerja sekitar 50 orang, pekerjaan dibagi per bidang: ada yang khusus mengurus daun, pembungkusan, hingga panen. Semua diarahkan agar hasil panen bisa mulus, sesuai standar grade A, dan layak masuk pasar modern maupun ekspor.
Menurut kami, kunci keberhasilan bukan hanya soal tanam, tapi juga bagaimana menjaga kualitas buah. Konsumen selalu memilih pisang dengan kulit mulus. Karena itu, kami tekankan kepada mitra bahwa kualitas ditentukan dari perawatan. Jika hanya berharap hasil besar tanpa merawat, hasilnya pasti tidak maksimal. Untuk itu, dalam kemitraan kami selalu buat MOU sejak awal, jelas aturannya, serta ada pendampingan mulai dari tanam hingga penjualan.
Pisang Cavendish dipilih karena pasarnya luas: bisa masuk ekspor, supermarket, pasar induk, toko buah, hingga pasar tradisional. Berbeda dengan pisang raja yang musiman, Cavendish selalu dibutuhkan. Kami yakin bisnis pangan, khususnya pisang Cavendish, akan terus berkembang karena konsumsi terus meningkat. Dengan manajemen yang baik, perawatan konsisten, serta branding yang kuat, harga pisang bisa dijaga stabil, petani untung, dan pasokan pasar tetap terjamin.
Menarik Untuk Ditonton : Sukses Story Ayam Mertua
Mau Konsultasi?