
Bisnis yang bertumpu pada viralitas umumnya memang mampu tumbuh dengan cepat. Antrean panjang, pembicaraan ramai, dan lonjakan penjualan sering kali terjadi dalam waktu singkat. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa bisnis semacam ini juga kerap menghilang secepat kemunculannya. Fenomena ini perlu diwaspadai, terutama menjelang tahun 2026. Semakin banyak masalah yang dihadapi masyarakat, justru semakin besar pula potensi peluang bisnis yang dapat digarap. Sebaliknya, apabila satu-satunya alasan konsumen membeli adalah harga yang murah, maka sangat besar kemungkinan mereka akan berpindah ke kompetitor begitu menemukan alternatif dengan harga yang lebih rendah. Pola bisnis seperti ini berisiko tinggi untuk tumbang dalam waktu singkat.
Banyak calon pengusaha memulai perjalanan bisnis dengan pertanyaan yang serupa: bisnis apa yang sedang viral, cepat balik modal, membutuhkan modal kecil, dan ramai diperbincangkan di media sosial seperti TikTok. Pertanyaan semacam ini pada dasarnya tidak keliru. Namun, jika indikator tersebut menjadi satu-satunya landasan pengambilan keputusan, maka hal itu justru dapat menjadi bumerang. Terlebih pada tahun 2026, ketika biaya operasional terus meningkat, margin keuntungan semakin menipis, konsumen menjadi lebih selektif, dan jumlah kompetitor bertambah. Data dari World Bank menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi global dan tekanan biaya diperkirakan masih berlanjut hingga 2026, sehingga banyak faktor eksternal berada di luar kendali pelaku usaha.
Dalam analisis makroekonomi, dikenal kerangka PEST yang mencakup faktor politik, ekonomi, sosial, dan teknologi. Kebijakan politik dapat memengaruhi regulasi bisnis, faktor ekonomi berdampak pada harga bahan baku, pajak, dan daya beli, kondisi sosial seperti bencana alam dapat melemahkan aktivitas ekonomi di suatu wilayah, sementara perkembangan teknologi—termasuk kecerdasan buatan—tidak mungkin dihindari. Keempat faktor ini berada di luar kendali individu. Oleh karena itu, yang terpenting bukanlah mengendalikan faktor eksternal tersebut, melainkan menyiapkan bisnis yang mampu beradaptasi dan bertahan di tengah perubahan.
Menarik Untuk Dibaca : Bisnis Produk Organik
Data dari McKinsey Global Consumer Survey menunjukkan bahwa konsumen saat ini semakin rasional dan berfokus pada nilai serta kebutuhan inti, bukan sekadar tren sesaat. Narasi dan strategi pemasaran boleh saja digunakan untuk menarik perhatian di awal, namun keberlanjutan bisnis sangat ditentukan oleh nilai fungsional produk atau layanan. Konsumen mungkin membeli karena gengsi atau rasa penasaran, tetapi mereka akan melakukan pembelian ulang karena kualitas, fungsi, dan pengalaman yang memuaskan. Prinsip ini berlaku lintas industri, mulai dari teknologi hingga kuliner. Repeat order tidak lahir dari cerita yang menarik semata, melainkan dari kualitas yang konsisten dan harga yang sepadan dengan manfaat.
Terdapat beberapa pola pikir keliru yang perlu dihindari. Pertama, mengejar bisnis yang viral tanpa mempertimbangkan kebutuhan nyata pasar. Bisnis viral sering kali hanya menarik konsumen yang didorong rasa penasaran, bukan kebutuhan. Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, konsumen tidak akan kembali. Data dari CB Insights menunjukkan bahwa 42 persen bisnis gagal karena tidak adanya kebutuhan pasar yang jelas. Oleh karena itu, fokus utama seharusnya adalah memahami masalah konsumen secara spesifik. Semakin jelas masalah yang dipecahkan, semakin besar peluang bisnis untuk bertahan dan berkembang.
Kedua, pola pikir yang hanya berorientasi pada cepat balik modal tanpa perencanaan jangka panjang. Banyak bisnis gagal karena perencanaan yang dangkal, proyeksi keuangan yang tidak jelas, serta strategi harga yang tidak berkelanjutan. Usaha yang hanya fokus pada keuntungan jangka pendek terbukti lebih rentan tutup dalam tiga tahun pertama. Profit jangka panjang justru didorong oleh pelanggan yang melakukan pembelian berulang, bukan oleh transaksi awal semata. Oleh karena itu, perencanaan bisnis harus mencakup strategi retensi pelanggan, sistem referensi, serta pengalaman pelanggan yang konsisten.
Ketiga, menjalankan bisnis tanpa keunggulan yang jelas dan hanya sekadar ikut-ikutan. Bisnis tanpa diferensiasi tidak memiliki alasan kuat bagi konsumen untuk memilihnya. Bersaing hanya di harga, sebagaimana dikemukakan Michael Porter, menciptakan kompetisi yang destruktif dan berisiko mematikan bisnis itu sendiri. Diferensiasi dapat dibangun melalui banyak aspek, seperti kualitas produk, cerita di balik brand, kemasan, layanan, sistem distribusi, teknologi, maupun pengalaman pelanggan. Prinsipnya, sedikit berbeda lebih baik daripada sedikit lebih baik.
Dengan demikian, peluang bisnis di tahun 2026 harus memenuhi beberapa kriteria utama. Pertama, memiliki kebutuhan pasar yang jelas dan potensi pembelian ulang yang tinggi. Kedua, memiliki margin keuntungan yang masuk akal agar bisnis dapat berkelanjutan. Ketiga, tidak hanya mengandalkan viralitas awal, tetapi memiliki daya tahan jangka panjang yang didukung oleh fondasi industri yang kuat. Pertumbuhan bisnis tidak harus instan, namun perlu dirancang secara bertahap dengan visi jangka panjang.
Kesimpulannya, bisnis yang sehat bukanlah bisnis yang sekadar ramai di awal, melainkan bisnis yang mampu bertahan, berkembang, dan naik kelas secara konsisten. Tahun 2026 menuntut pelaku usaha untuk berpikir lebih rasional, strategis, dan berorientasi jangka panjang. Viralitas boleh menjadi pintu masuk, tetapi kebutuhan pasar, diferensiasi, dan keberlanjutanlah yang akan menentukan apakah sebuah bisnis mampu bertahan atau justru tumbang.
Menarik Untuk Ditonton : Rahasia Jualan Seragam Sekolah Laris Manis
Mau Konsultasi?