Kamu pernah enggak punya tugas penting banget, tapi malah sibuk buka YouTube, scroll TikTok, atau nonton video kucing dua jam, terus makin sore makin stres, makin nunda, dan ujung-ujungnya nyalahin diri sendiri? Rasanya kayak pemalas banget, padahal sebenarnya ini bukan salah kamu sepenuhnya, tapi cara kerja otak kamu.
Saat kamu menunda, otak kamu lagi perang antara dua bagian: prefrontal cortex yang ngatur logika, rencana, dan keputusan, melawan amigdala yang jadi satpam emosional lebay. Begitu ketemu tugas berat atau bikin stres, amigdala langsung panik dan kasih sinyal bahaya, bikin kamu kabur ke hal-hal yang lebih nyaman kayak main HP atau nonton video lucu.
Karena otak cenderung nyari rasa aman, amigdala sering menang. Akibatnya, makin sering diturutin, makin kuat jalurnya di otak. Inilah yang disebut neuroplasticity: kebiasaan yang diulang bakal membentuk jalur kuat di otak, entah itu kabur dari tugas atau tetap jalan meski sedikit.
Menarik Untuk Dibaca : Fashion wastra
Masalahnya, banyak orang kira prokrastinasi itu soal manajemen waktu yang jelek, padahal lebih ke soal emosi. Kamu nunda bukan karena enggak tahu cara atur waktu, tapi karena ada rasa enggak enak yang nyangkut ke tugas itu: takut gagal, takut dinilai, atau trauma pernah dimarahin. Otak otomatis ngasih solusi cepat: cari kenyamanan instan.
Kalau ini terus dilakukan, kamu masuk ke lingkaran setan: nunda → bersalah → stres → makin pengin kabur → nunda lagi. Bahkan, perfeksionisme juga bisa jadi penyebab. Karena takut hasil enggak sempurna, akhirnya kamu enggak mulai sama sekali. Jadi, prokrastinasi itu seringkali bukan soal malas, tapi soal ketakutan dan ekspektasi yang belum kelola.
Cara ngatasinnya bukan sekadar bikin jadwal, tapi kenali dulu emosi di balik penundaan. Coba tanya diri kamu, apa yang bikin saya malas? Takut dinilai? Takut enggak selesai? Atau ngerasa enggak cukup pintar? Dengan sadar emosi, kamu bisa cari solusi lebih sehat.
Misalnya, kalau takut gagal, izinin diri kamu buat coba dulu tanpa harus sempurna. Kalau overwhelmed, pecah tugas jadi kecil-kecil. Kalau takut dinilai, fokus aja mulai kerja tanpa mikirin hasil akhirnya. Dan jangan lupa kasih otak reward kecil biar tetap semangat, karena tanpa itu, otak bakal nyari dopamin di tempat lain.
Disiplin sendiri bukan soal bakat, tapi bisa dilatih lewat cara kerja otak. Pertama, latih delayed gratification dengan aturan 5–10 menit: coba kerja dulu sebentar, biasanya malah keterusan. Kedua, gunakan mini habit, turunin ekspektasi biar tugas terasa ringan, cukup mulai dari hal kecil.
Ketiga, bangun identitas, bukan cuma target: jadi orang yang konsisten walau sedikit, bukan sekadar kejar hasil. Keempat, desain lingkungan biar minim godaan, kayak jauhin HP atau siapin dokumen kerja dari malam. Kelima, kasih reward yang nyambung sama habit positif. Keenam, jangan nunggu motivasi, tapi bikin sistem dan ritual kecil yang jelas waktunya.
Intinya, prokrastinasi itu bukan berarti kamu pemalas, tapi otak kamu lagi berusaha menghindari rasa enggak nyaman. Kabar baiknya, otak bisa dilatih. Disiplin itu bukan soal jadi kuat, tapi soal bikin jalan paling gampang buat ngelakuin hal yang benar. Mulai dari langkah kecil: satu kalimat, lima menit, atau satu aksi sederhana. Karena setiap tindakan kecil bukan cuma nyelesaiin tugas, tapi juga lagi ngebentuk siapa diri kamu enam bulan dari sekarang.
Menarik Untuk Ditonton : Cara Memasarkan Produk Dengan Canvasing
Mau Konsultasi?