

Generasi (Gen) selalu menjadi pasar yang menantang dan sering kali terasa misterius bagi banyak merek. Dinamika perilaku, nilai, serta preferensi mereka terus berubah. Kini, dengan hadirnya Generasi Beta, lanskap generasi kembali mengalami pergeseran. Kelahiran Gen Beta diprediksi akan membawa perubahan signifikan terhadap peta Gen Z, terutama dalam konteks peran sosial dan ekonomi mereka sebagai orang tua generasi berikutnya.
Gen Beta merupakan kelanjutan dari lima generasi yang saat ini hidup berdampingan. Kita mengenal Baby Boomers yang lahir pada 1946–1964, disusul Generasi X pada 1965–1980 yang kerap disebut sebagai generasi MTV. Setelah itu hadir Generasi Y atau Milenial yang lahir sekitar 1981–1996, lalu Generasi Z yang lahir antara 1997 hingga sekitar 2010. Generasi paling muda sebelum Beta adalah Generasi Alpha, yakni anak-anak yang lahir setelah 2010. Setiap generasi umumnya menjadi sorotan utama dunia pemasaran selama kurang lebih 15 tahun. Dengan dimulainya era Gen Alpha pada 2010, secara siklus logis pada 2025–2026 akan lahir generasi keenam, yaitu Gen Beta.
Istilah Gen Alpha dan Gen Beta diperkenalkan oleh demografer dan analis sosial Mark McCrindle. Ia menjelaskan bahwa penamaan generasi tidak berhenti pada Z, melainkan berlanjut kembali ke alfabet Yunani karena generasi akan terus muncul secara berkelanjutan. Menurut McCrindle, Gen Beta dimulai pada tahun 2025. Artinya, saat ini kita sudah mulai memasuki fase awal terbentuknya Generasi Beta, termasuk di Indonesia.
Jika merujuk pada data Kementerian Kesehatan, jumlah bayi yang lahir di Indonesia mencapai sekitar 4,8 juta per tahun. Dengan angka ini, pada akhir 2025 Indonesia diperkirakan telah memiliki sekitar 4,8 juta Gen Beta, dan pada 2026 akan bertambah jumlah yang sama. Dalam dua tahun saja, hampir 10 juta Gen Beta akan hadir di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa Gen Beta merupakan pasar potensial yang sangat besar, meskipun saat ini mereka masih berada pada fase bayi.
Menarik Untuk Dibaca : Tahun Baru Cuan Baru
Sejarah Baby Boomers memberi gambaran penting. Ketika generasi tersebut lahir dalam jumlah besar, fokus pemasaran bergeser ke produk bayi, keluarga, dan rumah tangga karena orang tua mereka mengalami perubahan pola hidup. Pola serupa berpotensi terulang pada Gen Beta, dengan perbedaan konteks lingkungan yang jauh lebih kompleks.
Untuk memahami lingkungan tumbuh kembang Gen Beta, analisis ini menggunakan pendekatan 5D, yaitu lima penggerak perubahan utama: teknologi, politik dan hukum, ekonomi, sosial budaya, serta dinamika pasar. Dari sisi teknologi, Gen Beta akan menjadi generasi AI-native. Sejak lahir, kecerdasan buatan sudah menjadi bagian normal dari kehidupan mereka. Mereka juga akan tumbuh dalam ekosistem teknologi berkelanjutan, seperti kendaraan listrik dan sistem hemat energi.
Dari aspek politik dan hukum, Gen Beta akan tumbuh dalam konteks geopolitik global yang penuh ketidakpastian. Di tingkat nasional, hal ini mendorong fokus pada ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, dan stabilitas domestik. Selain itu, perubahan iklim akan menjadi realitas sehari-hari mereka, ditandai dengan meningkatnya bencana alam dan cuaca ekstrem.
Secara ekonomi, Gen Beta akan tumbuh dalam fase menuju visi Indonesia Emas 2045. Dua dekade pertama kehidupan mereka akan beririsan langsung dengan upaya Indonesia memanfaatkan bonus demografi. Mereka juga akan menyaksikan dominasi ekonomi digital yang semakin kuat dan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan stabil di kisaran 5–8 persen.
Dari sisi sosial budaya, Gen Beta akan hidup di tengah banjir konten sintetis yang dihasilkan oleh AI. Misinformasi dan disinformasi berpotensi menjadi tantangan serius, memicu kebingungan serta polarisasi sosial. Lingkungan ini akan membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan sejak usia dini.
Dari perspektif pasar, jumlah Gen Beta diprediksi tidak akan sebesar puncak populasi Milenial atau Gen Z karena tren kelahiran yang menurun. Selain itu, urbanisasi akan semakin meningkat, sehingga mayoritas Gen Beta akan tumbuh di wilayah perkotaan dan suburban. Semua konteks ini akan membentuk preferensi dan perilaku konsumsi mereka di masa depan.
Namun, aspek paling menarik dari lahirnya Gen Beta adalah siapa orang tua mereka. Sebagian besar orang tua Gen Beta berasal dari Generasi Z, yang selama ini dipersepsikan sebagai generasi muda tanpa tanggungan. Faktanya, Gen Z kini mulai memasuki fase dewasa dan berkeluarga. Pada 2026, usia Gen Z berada di rentang 16–29 tahun. Data menunjukkan bahwa hampir separuh perempuan Indonesia memiliki anak pada usia 20–24 tahun, dan seperempatnya pada usia 15–19 tahun. Ini menunjukkan bahwa sebagian signifikan Gen Z telah atau akan segera menjadi orang tua.
Dalam menganalisis sebuah generasi, penting untuk memahami fase hidup. Secara tradisional, fase hidup terbagi menjadi empat: fase belajar, fase berkarya, fase mengayomi, dan fase menikmati hidup. Masing-masing fase umumnya berlangsung sekitar 20 tahun. Namun pada Gen Z, Gen Alpha, dan Gen Beta, siklus ini cenderung memendek. Proses belajar lebih cepat, masuk dunia kerja lebih dini, dan aspirasi untuk mencapai kebebasan finansial juga hadir lebih awal.
Fenomena ini dikenal sebagai “kids getting older younger”, yaitu kecenderungan generasi muda untuk mendewasa lebih cepat. Pola ini menjadi fondasi penting dalam memprediksi karakter orang tua Gen Z dan dampaknya terhadap Gen Beta.
Terdapat lima perubahan utama dalam karakter Gen Z sebagai orang tua. Pertama, mereka bersifat otodidak. Pembelajaran parenting dilakukan secara mandiri melalui kanal digital. Ini meningkatkan risiko paparan informasi yang tidak akurat. Kedua, mereka mulai membatasi penggunaan teknologi di rumah, dengan pengaturan screen time dan seleksi konten yang lebih ketat. Ketiga, mereka sangat peduli terhadap kesehatan mental anak, menjadikan rumah sebagai ruang aman bagi ekspresi dan dialog. Keempat, prioritas belanja bergeser ke kebutuhan keluarga, terutama pengalaman bersama keluarga. Kelima, mereka cenderung menjalani gaya hidup minimalis dan frugal, dipengaruhi oleh kesadaran lingkungan dan kekhawatiran finansial.
Perubahan ini menghadirkan tantangan besar bagi dunia pemasaran. Meski Gen Z akan mendewasa, karakter dasar mereka tidak akan sepenuhnya berubah menjadi seperti Milenial. Mereka bukan segmen statis. Namun ketika berubah, mereka tetap membawa nilai, cara berpikir, dan preferensi khas Gen Z. Oleh karena itu, pendekatan pemasaran tidak bisa sekadar mengulang strategi lama. Memahami transisi ini menjadi kunci untuk menjangkau Gen Z sebagai orang tua dan Gen Beta sebagai generasi berikutnya.
Menarik Untuk Ditonton : Ide Usaha Rumahan Omset Menggiurkan
Mau Konsultasi?