

Bisnis ayam merupakan kategori usaha yang sejak awal jelas berada dalam segmen daily food. Artinya, ia mengandalkan konsumsi harian, volume tinggi, harga terjangkau, dan repeat order yang konsisten. Oleh karena itu, ketika pelaku usaha masuk ke bisnis ayam namun mengambil positioning yang tidak selaras dengan karakter daily food, risiko kegagalannya menjadi jauh lebih besar. Hal ini perlu dicermati secara serius, terutama dalam konteks tren bisnis ayam yang belakangan tampak sangat ramai di permukaan.
Fenomena ramainya sebuah gerai ayam tidak dapat dijadikan indikator tunggal bahwa bisnis tersebut menguntungkan. Antrean panjang, area parkir penuh, dan omzet yang terlihat besar sering kali menyesatkan jika tidak dibarengi dengan analisis profitabilitas. Banyak bisnis ayam mencatat omzet ratusan juta rupiah per bulan, namun ketika laporan laba rugi (profit and loss) diperiksa secara mendalam, keuntungan bersih per investor justru sangat kecil. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab utama mengapa banyak bisnis ayam tumbang dalam periode 2024–2025.
Sepanjang 2024 hingga 2025, industri ayam cepat saji menunjukkan sinyal tekanan yang sangat kuat. Sejumlah brand besar melakukan penutupan gerai dan efisiensi karyawan secara masif. Bahkan pada Oktober 2025, KFC menutup 19 gerai dan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 400 karyawan. Ini merupakan sinyal industri yang tidak bisa diabaikan, karena tekanan tersebut tidak hanya dialami oleh pemain kecil, tetapi juga oleh pemain besar dengan sumber daya yang jauh lebih kuat.
Secara struktur pasar, ayam crispy masih memiliki pangsa pasar yang sangat besar di Indonesia. Kategori ini memiliki karakteristik high repeat order, harga relatif terjangkau, dan cocok ditempatkan di lokasi dengan kepadatan tinggi seperti perumahan, sekolah, dan perkantoran. Namun masalah muncul ketika semakin banyak pemain masuk ke kategori yang sama, sementara harga yang ditawarkan tidak lagi sesuai dengan persepsi nilai konsumen. Harga makan ayam di kisaran Rp40.000–Rp50.000 per porsi mulai dipertanyakan oleh pasar, terutama jika konsumen masih memiliki banyak alternatif dengan harga Rp15.000–Rp20.000.
Menarik Untuk Dibaca : Rahasia Amo Spark
Salah satu penyebab menjamurnya bisnis ayam adalah rendahnya hambatan masuk (entry barrier). Hampir semua orang dapat memulai usaha ayam goreng karena terlihat sederhana: tepung, goreng, sajikan. Selain itu, permintaan ayam bersifat harian dan stabil. Namun kesederhanaan inilah yang justru menciptakan persaingan ekstrem. Ketika semua pemain menawarkan hal yang serupa, perang harga, perang lokasi, dan perang margin menjadi tidak terelakkan.
Masalah semakin kompleks ketika pelaku usaha masuk ke subkategori ayam yang bukan daily food, seperti ayam dengan konsep Arab atau Saudi. Di negara asalnya, makanan tersebut merupakan konsumsi harian, sehingga harga yang relatif lebih tinggi masih dianggap wajar. Namun di Indonesia, perilaku konsumen berbeda. Ayam dengan cita rasa asing cenderung dikonsumsi sesekali, bukan setiap hari. Ketika produk yang tidak bersifat harian dipaksakan masuk ke pasar daily food, risiko rendahnya repeat order menjadi sangat besar.
Data lapangan menunjukkan bahwa brand ayam dengan skala besar justru tumbuh melalui pendekatan yang sangat sederhana dan frugal. Brand seperti Sabana, The Besto, dan Rocket Chicken berkembang dengan konsep gerai kecil namun jumlah outlet yang sangat banyak. Mereka bermain pada harga terjangkau, volume tinggi, dan efisiensi operasional. Model ini menegaskan bahwa pasar ayam memang besar, tetapi hanya menguntungkan bagi pemain yang benar-benar selaras dengan karakter pasarnya.
Masalah lain yang sering muncul adalah ketimpangan dalam model franchise atau kemitraan. Banyak brand terlalu fokus pada penjualan lisensi di awal, tanpa membangun organisasi, sistem operasional, dan supply chain yang matang. Akibatnya, ekspansi outlet berjalan cepat, namun kualitas operasional, stabilitas pasokan, dan kesiapan tim tidak mampu mengimbangi pertumbuhan tersebut. Dalam jangka pendek terlihat sukses, tetapi dalam jangka menengah justru menjadi beban yang berujung pada penutupan gerai satu per satu.
Secara finansial, banyak mitra terjebak pada bisnis dengan harga jual kompetitif namun margin yang sangat tipis. Pemain besar masih mampu bertahan karena memiliki economies of scale, menguasai hulu seperti rumah potong ayam, central kitchen, dan distribusi bahan baku. Sementara pemain kecil yang tidak memiliki kendali atas rantai pasok akan kesulitan meniru harga murah tanpa mengorbankan margin. Akibatnya, transaksi ramai justru menghasilkan kerugian.
Dalam bisnis makanan, profitabilitas jangka panjang sangat bergantung pada repeat order. Banyak bisnis gagal bukan karena sepi, melainkan karena setiap transaksi menghasilkan kerugian. Omzet tinggi tanpa margin yang sehat hanya akan mempercepat kelelahan modal. Situasi ini semakin berbahaya ketika biaya operasional membengkak, mulai dari bahan baku, promosi, diskon, hingga waste produksi.
Selain itu, lokasi memegang peranan krusial dalam bisnis ayam crispy. Traffic jalan, kedekatan dengan pusat aktivitas, serta jam operasional puncak sangat menentukan performa penjualan. Ketika dalam satu ruas jalan terdapat terlalu banyak brand ayam, pasar akan terfragmentasi. Dalam kondisi ini, positioning yang kuat menjadi kunci agar konsumen memiliki alasan jelas untuk memilih satu brand dibandingkan yang lain.
Pada akhirnya, meskipun pasar ayam crispy di tahun 2026 masih sangat besar, kondisinya sudah berada dalam fase red ocean. Masuk ke pasar ini masih memungkinkan, namun hanya bagi pelaku usaha yang memiliki diferensiasi jelas, sistem yang kuat, harga yang sesuai dengan daya beli pasar, serta konsistensi kualitas produk. Narasi dan promosi hanya berfungsi sebagai pintu masuk awal; yang menentukan keberlanjutan adalah eksekusi operasional, manajemen, dan kemampuan menjaga kualitas secara konsisten.
Dengan kondisi tersebut, bisnis ayam di tahun 2026 bukanlah tentang sekadar ikut tren, melainkan tentang ketepatan positioning, kedalaman sistem, dan kesabaran dalam membangun skala yang sehat. Tanpa itu, ramainya pasar justru dapat menjadi jebakan yang menggerus profit secara perlahan.
Menarik Untuk Ditonton : Strategi Bisnis Salmara Madu
Mau Konsultasi?