

Bisnis makanan merupakan salah satu jenis usaha yang memiliki tingkat kegagalan yang tinggi, namun sebanding lurus dengan potensi kesuksesannya. Konsekuensi dari kesuksesan adalah kegagalan, dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Banyak pelaku usaha beranggapan bahwa selama produknya enak, maka bisnis akan berjalan dengan baik. Padahal, makanan yang enak belum tentu laku. Produk yang laku adalah produk yang dibutuhkan pasar. Dalam kondisi ekonomi yang sedang tidak stabil, pertanyaan utamanya bukan lagi soal rasa, melainkan apakah konsumen merasa layak mengeluarkan sejumlah uang untuk produk tersebut.
Bisnis makanan kerap dianggap sebagai bisnis yang relatif aman karena semua orang pasti makan. Margin yang tinggi dan fleksibilitas produk—yang bisa dijual keesokan hari, dikonsumsi sendiri, atau dibagikan—membuat bisnis ini terlihat sangat menggiurkan. Namun pada kenyataannya, sektor kuliner juga merupakan sektor UMKM dengan tingkat kegagalan tercepat. Artinya, jika seseorang memilih “bermain aman”, ia juga harus siap dengan pertumbuhan yang biasa saja. Sebaliknya, jika ingin bersaing tanpa memahami peta persaingan, risikonya adalah kegagalan total.
Data menunjukkan bahwa sektor kuliner merupakan penyumbang UMKM terbesar di Indonesia, namun juga yang paling cepat tumbang. Jangan sampai sebuah bisnis makanan baru diluncurkan di awal tahun, namun sudah tutup sebelum akhir tahun karena kesalahan mendasar yang seharusnya bisa dihindari. Tantangan bisnis makanan di tahun 2026 bukan menjadi lebih mudah, melainkan semakin kompetitif dan menuntut kesiapan yang lebih matang. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan menghindari beberapa kesalahan fatal berikut.
Menarik Untuk Dibaca : MIndset Yang Dipakai Orang Sukses
Kesalahan pertama adalah memulai bisnis dari ide pribadi, bukan dari kebutuhan pasar. Banyak pelaku UMKM menjual produk berdasarkan selera sendiri, tanpa memedulikan apakah pasar benar-benar membutuhkannya. Berdasarkan riset CB Insights, 42% bisnis gagal karena produknya tidak dibutuhkan pasar. Pasar tidak peduli seberapa enak produk tersebut, selama tidak relevan dengan kebutuhan dan daya beli mereka. Saat ini, pola konsumsi masyarakat cenderung kembali ke frugal living, yaitu hidup hemat. Jika konsumen bisa mendapatkan makanan dengan harga terjangkau, maka sulit bagi mereka untuk membenarkan pembelian makanan dengan harga jauh lebih mahal, meskipun ditawarkan dengan konsep atau suasana yang menarik.
Kesalahan kedua adalah salah menghitung harga pokok produksi (HPP) dan margin. Banyak bisnis terlihat ramai, namun secara perlahan mengalami kerugian karena margin yang terlalu tipis. Perhitungan HPP tidak hanya mencakup bahan baku, tetapi juga tenaga kerja, depresiasi peralatan, biaya sewa, perawatan aset, hingga biaya operasional jangka panjang. Tanpa perhitungan yang matang, harga jual bisa menjadi tidak kompetitif atau justru merugikan. Data menunjukkan bahwa margin bersih bisnis makanan mikro rata-rata hanya berkisar antara 10–20%. Omzet besar tanpa margin yang sehat hanya akan menghasilkan kelelahan tanpa keuntungan yang berarti.
Kesalahan ketiga adalah terlalu cepat mengikuti tren. Bisnis makanan yang viral cenderung naik dengan cepat, namun juga turun dengan cepat apabila tidak memiliki diferensiasi dan fondasi yang kuat. Penelitian Harvard Business Review menyebutkan bahwa bisnis berbasis tren tanpa diferensiasi sangat rentan mengalami penurunan drastis setelah masa awal. Konsumen pada akhirnya akan kembali mempertimbangkan nilai guna dan kewajaran harga dibandingkan dengan apa yang mereka dapatkan.
Kesalahan keempat adalah ketergantungan yang berlebihan pada pemilik usaha. Ketika pemilik menjadi pusat dari seluruh aktivitas—mulai dari riset, belanja, hingga operasional harian—maka bisnis tidak memiliki daya tumbuh. Bisnis semacam ini tidak memiliki sistem, tidak bisa didelegasikan, dan akan berhenti ketika pemilik tidak hadir. Padahal, bisnis yang dapat distandarisasi dan didelegasikan memiliki peluang bertahan dua kali lebih besar. Oleh karena itu, sejak awal penting untuk membangun sistem, tim, dan pola kerja yang tidak bergantung pada satu individu.
Selain itu, banyak bisnis makanan tidak memanfaatkan kanal digital secara optimal, seperti Google Maps dan konten media sosial. Padahal, mayoritas konsumen saat ini mencari referensi makanan secara online sebelum datang langsung ke lokasi. Ketergantungan pada personal branding pemilik tanpa sistem pemasaran yang berkelanjutan membuat bisnis sulit bertahan dalam jangka panjang.
Agar bisnis makanan di tahun 2026 dapat berjalan secara profitabel, berkelanjutan, dan memiliki peluang untuk berkembang, terdapat beberapa prinsip utama yang perlu diterapkan. Pertama, mulailah dari pasar dan permasalahan pasar, bukan dari ide pribadi. Kedua, hitung HPP dan margin secara akurat dan realistis. Ketiga, jangan sekadar mengikuti tren, tetapi pelajari bisnis-bisnis yang mampu bertahan selama bertahun-tahun karena fondasi yang kuat. Keempat, bangun sistem dan tim sejak awal, serta siapkan jalur pertumbuhan yang jelas, baik melalui pembukaan cabang, produk turunan, maupun optimalisasi kanal digital.
Pada akhirnya, bisnis di tahun 2026 bukan lagi tentang siapa yang paling enak, melainkan siapa yang paling siap. Kesiapan dalam riset pasar, perhitungan keuangan, sistem operasional, dan strategi pertumbuhan akan menjadi pembeda utama antara bisnis yang bertahan dan bisnis yang tumbang.
Menarik Untuk Ditonton : Repeat Order 90% Luar Biasa
Mau Konsultasi?