

Pembahasan ini akan langsung difokuskan pada tujuh kebiasaan keuangan yang dapat diperbaiki dalam waktu singkat. Dengan memperbaiki kebiasaan-kebiasaan tersebut, saya pribadi berhasil meningkatkan skor kesehatan keuangan dari kisaran 20 menjadi sekitar 90, serta menyelesaikan lebih dari 80 poin dari daftar “100 langkah untuk tidak miskin” yang sebelumnya berada di titik nol. Ketujuh kebiasaan ini bersifat praktis, relevan, dan berdampak langsung terhadap kondisi keuangan sehari-hari.
Kebiasaan pertama adalah rasa sungkan dan gengsi, yang kerap menjadi penyakit utama dalam pengelolaan keuangan masyarakat Indonesia. Sungkan menolak ajakan makan atau berlibur bersama lingkungan pertemanan yang konsumtif meskipun kondisi keuangan sedang terbatas sering kali berujung pada pemborosan. Ironisnya, rasa sungkan juga muncul ketika harus menagih utang. Selain itu, gengsi membawa bekal sendiri atau menahan pengeluaran demi menabung dan berinvestasi sering dianggap sebagai tanda ketidakmampuan. Padahal, gengsi dan sungkan tidak akan membawa seseorang menuju stabilitas keuangan. Satu-satunya cara mengatasinya adalah dengan kesadaran penuh bahwa gengsi memiliki harga yang mahal.
Kebiasaan kedua adalah tidak mengetahui ke mana uang dibelanjakan. Banyak orang merasa telah bekerja keras, namun tidak memahami mengapa uang selalu habis. Penyebab utamanya adalah ketiadaan pencatatan keuangan. Tanpa data yang jelas, seseorang tidak dapat melakukan evaluasi yang objektif. Dalam praktiknya, pencatatan pengeluaran sering kali membuka fakta bahwa pengeluaran kecil yang berulang—seperti jajan harian—justru menjadi sumber kebocoran terbesar. Oleh karena itu, penggunaan aplikasi pencatatan keuangan sangat disarankan agar keputusan finansial didasarkan pada data, bukan perasaan.
Menarik Untuk Dibaca : Cara Memahami Uang
Kebiasaan ketiga adalah lupa membayar diri sendiri. Banyak orang disiplin membayar pajak, tagihan, dan kebutuhan hidup, namun tidak pernah menyisihkan dana untuk masa depan pribadi seperti dana pensiun, kepemilikan rumah, atau kebutuhan jangka panjang lainnya. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Hukum Parkinson, yang menyatakan bahwa pengeluaran akan selalu menyesuaikan dengan pendapatan. Oleh karena itu, satu-satunya cara agar terdapat sisa pendapatan adalah dengan menyisihkan dana di awal, segera setelah menerima penghasilan. Catatan penting, bagi mereka yang penghasilannya masih berada pada batas minimum, prioritas utamanya adalah meningkatkan pendapatan terlebih dahulu melalui peningkatan keterampilan dan pengalaman.
Kebiasaan keempat adalah menunda perlindungan kesehatan, baik melalui BPJS maupun asuransi. Banyak orang merasa masih muda dan menganggap risiko kesehatan sebagai sesuatu yang jauh. Padahal, satu kejadian medis besar saja dapat menghancurkan kondisi keuangan secara total. Perlindungan kesehatan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk anggota keluarga. Keberadaan proteksi dasar seperti BPJS dapat menjadi penyelamat dalam situasi yang paling tidak terduga.
Kebiasaan kelima adalah menunda investasi dengan berbagai alasan, seperti menunggu kondisi pasar yang ideal atau menunggu penghasilan meningkat. Padahal, salah satu penyesalan terbesar banyak orang adalah tidak memulai investasi lebih awal. Investasi bukan sekadar upaya mengejar keuntungan, melainkan bentuk perlindungan diri terhadap masa depan. Dengan berinvestasi secara konsisten, seseorang dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang karena telah memiliki persiapan jangka panjang.
Kebiasaan keenam adalah dorongan untuk selalu membeli barang baru dan menginginkan semuanya secara instan. Padahal, dengan sikap yang lebih cermat, seseorang dapat menghemat pengeluaran secara signifikan melalui pembelian barang bekas berkualitas atau menunggu momen diskon. Menunda pembelian, membandingkan harga, serta memanfaatkan promosi adalah bentuk kecerdasan finansial, bukan tanda keterbatasan.
Kebiasaan ketujuh berkaitan dengan penggunaan kartu kredit yang tidak terkendali. Meskipun kartu kredit memiliki batas penggunaan, kepemilikan beberapa kartu secara bersamaan dapat mendorong akumulasi utang yang berlebihan. Kartu kredit sering kali menciptakan ilusi kemudahan dan pembenaran konsumsi atas nama poin atau keuntungan tambahan. Padahal, kartu kredit sejatinya adalah alat pembayaran, bukan alat untuk berutang. Tanpa kontrol diri, solusi terbaik adalah menutup kartu kredit dan menyederhanakan sistem pembayaran.
Ketujuh kebiasaan ini merupakan refleksi umum yang banyak dialami. Namun, tidak perlu berkecil hati apabila seseorang masih berada dalam salah satu atau beberapa kondisi tersebut. Ketidakmajuan biasanya bukan disebabkan oleh ketidakmampuan semata, melainkan karena belum mengetahui, belum terlatih, atau belum memiliki kemauan untuk berubah. Kesadaran adalah langkah pertama. Setelah itu, yang dibutuhkan hanyalah konsistensi untuk terus memperbaiki kebiasaan dan membangun kesehatan keuangan yang lebih baik.
Menarik Untuk Ditonton : Inspirasi Usaha Jasa Laundy
Mau Konsultasi?