

Saya bernama Tuti Sunarni Elok, dan di Tulungagung saya lebih dikenal dengan panggilan Bu Elok, sesuai dengan nama usaha yang saya rintis, yaitu Donat Elok. Usaha ini telah saya jalani selama kurang lebih 43 tahun. Awalnya saya memulai usaha di Trenggalek, sebelum akhirnya kembali dan menetap di Tulungagung.
Latar belakang pendidikan dan pekerjaan saya sebenarnya bukan di bidang kuliner. Saya dahulu bekerja sebagai pembantu bidan atau perawat di BKI Aisyiyah. Pada masa itu, tempat tersebut sangat ramai. Namun, karena mengikuti suami, saya memutuskan keluar dari pekerjaan tersebut dan pindah ke Trenggalek. Di sanalah saya mulai berpikir ulang mengenai pekerjaan apa yang dapat saya tekuni. Saya kemudian menyadari bahwa saya memiliki hobi memasak.
Ketertarikan tersebut saya kembangkan dengan mengikuti lomba resep keluarga yang diselenggarakan oleh Majalah Kartini. Alhamdulillah, saya meraih juara pertama tingkat daerah dengan menu kelinci panggang, dan kemudian dikirim ke Jakarta untuk mengikuti lomba tingkat nasional di Universitas Trisakti. Pada ajang tersebut, saya berhasil meraih juara kedua nasional. Sejak saat itu, saya mulai dikenal sebagai seseorang yang memiliki kemampuan memasak.
Menarik Untuk Dibaca : Realitas Personal Brand dan Kegagalan Bisnis Kreator
Berbekal pengalaman tersebut, saya kerap dipercaya membantu berbagai kegiatan di tingkat kabupaten, termasuk menyusun menu untuk acara-acara resmi. Dari sanalah keberanian saya tumbuh untuk mulai menerima pesanan makanan secara mandiri. Saya kemudian mencari nama usaha dan memilih “Elok”, yang diambil dari nama adik saya yang paling bungsu.
Awalnya, usaha saya lebih banyak bergerak di bidang katering dan aneka makanan, baik makanan basah, kudapan pasar, hingga kue kering, khususnya saat hari raya. Produksi saya cukup besar dan dalam prosesnya saya banyak melibatkan siswa SMK yang sedang menjalani praktik kerja industri (prakerin). Sejak awal, saya berprinsip untuk tidak pernah menyembunyikan resep atau ilmu. Anak-anak yang belajar di tempat saya tidak hanya diberi tugas teknis, tetapi benar-benar saya ajari proses produksi secara utuh.
Seiring waktu, permintaan pasar di Tulungagung berkembang. Saat itu, jajanan pasar dalam bentuk nampan kecil belum banyak tersedia. Saya kemudian menyarankan alternatif berupa donat dan roti, karena lebih praktis untuk acara pengajian maupun kegiatan pondok pesantren. Respons pasar sangat baik, dan dari situlah usaha donat mulai berkembang pesat.
Dengan keterbatasan sumber daya manusia, saya sempat meminta bantuan para santri untuk membantu produksi, bahkan hingga bermalam. Hal tersebut mendorong saya untuk memberanikan diri membuka outlet donat sendiri di kawasan Jepun. Namun, pandemi COVID-19 sempat menghambat perkembangan usaha, dan anak saya yang sebelumnya membantu usaha memilih bekerja di luar daerah.
Alhamdulillah, setelah kembali ke Tulungagung, anak saya bersama tim yang terdiri dari anak-anak muda mulai kembali mengembangkan usaha ini. Saat ini, produksi Donat Elok rata-rata mencapai 300 hingga 500 buah per hari. Pangsa pasar yang kami bidik adalah kelas menengah ke atas, karena kami menggunakan bahan-bahan premium.
Seluruh bahan baku kami pilih dengan sangat selektif. Tepung terigu yang kami gunakan merupakan tepung impor dengan harga hingga empat kali lipat dari tepung yang beredar di Tulungagung. Cokelat kami suplai langsung dari pabrik, dan bahan lain seperti telur kami ambil langsung dari peternak agar selalu segar. Prinsip saya sederhana: kualitas bahan harus sepadan dengan harga jual.
Menurut saya, kunci utama donat yang berkualitas adalah niat dan doa sebelum memulai, serta konsistensi dalam penggunaan bahan. Bahan dasar donat pada dasarnya sama dengan roti, yaitu tepung, gula, ragi, lemak, dan telur. Namun, perbedaan kualitas bahan—seperti penggunaan butter dibanding margarin biasa—sangat memengaruhi hasil akhir. Untuk segmen premium, kami memilih bahan terbaik meskipun harganya lebih tinggi.
Saya juga aktif dalam berbagai organisasi. Di Tulungagung, saya dipercaya sebagai Ketua Paguyuban Tukang Kue “Ratu Bersinar”, serta terlibat di IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) sebagai seksi pendidikan. Banyak pelaku usaha kue di Tulungagung yang awalnya belajar di tempat saya, dan saya tidak pernah merasa tersaingi oleh mereka. Justru saya merasa bahagia melihat murid-murid saya berkembang dan maju. Prinsip saya adalah bersaing secara sehat dan saling menguatkan.
Di usia saya yang kini menginjak 68 tahun, doa terbesar saya adalah agar dapat terus menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain—bagi keluarga, anak, cucu, serta tim yang bekerja bersama saya. Saya memandang tim anak saya sebagai anak-anak saya sendiri. Secara materi, saya merasa cukup. Kebahagiaan terbesar saya adalah ketika dapat berbagi ilmu dan rezeki tanpa beban, serta menjalani sisa hidup dengan tenang dan penuh syukur.
Usaha Donat Elok beralamat di Pasar Pring Bago, Jalan I Gusti Ngurah Rai, Tulungagung. Semoga usaha ini terus membawa keberkahan dan menjadi sarana kebaikan bagi banyak orang.
Menarik Untuk Ditonton : Cara Menentukan HPP dan Harga Jual
Mau Konsultasi?