Tentang luka, tumbuh, dan kopi yang menjadi teman merayakan semuanya.
Saya Seorang Introvert
Nama saya Dian Cahyadi, biasa dipanggil Dian. Saya adalah pendiri dan salah satu pemilik Deraya Koffie, sebuah brand kopi tubruk yang rencanya dalam tiga tahun pertamanya akan menyentuh angka 1 juta penjualan. Saya tinggal di pinggiran kota kecil bernama Wates di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.
Saya seorang introvert. Apakah anda geli mendengar klaim tersebut? Padahal saya sendiri belum pernah melakukan tes psikologi yang mendalam tentang kecenderungan introvert atau extrovert. Namun beberapa parameter menunjukan kalau saya cenderung introvert. Salah satunya adalah, saya sering mendapat predikat sebagai pemilik kontak WA paling sedikit dibanding teman-teman. Saya memang tidak cukup nyaman membangun hubungan dengan orang-orang baru. Biasanya, saya mengenal orang-orang baru ya karena dikenalkan teman atau keluarga, bukan berkenalan sendiri. Saya juga kurang nyaman untuk menerima telepon, apalagi dari orang yang baru dikenal. Bahkan ketika teman dekat sekalipun yang menelpon, bisa jadi tidak saya angkat ketika saya tidak siap untuk mengangkat telepon. Maka dari itu, saya tidak menyimpan banyak nomor di ponsel. Hanya menyimpan nomor orang-orang terdekat saja. Keluarga, teman dekat, dan teman sekelas.
Selain faktor ketidaknyamanan tersebut, mungkin faktor bekerja di tempat orang lain juga berpengaruh. Setelah lulus SMK, saya bekerja di sebuah vendor dekorasi pernikahan. Berawal dari jadi supir, tenaga angkat-angkat, teknisi pemasangan, florist, hingga menjadi korlap. Dengan bekerja dengan orang lain, saya hanya cukup menyimpan nomor atasan saja, pekerjaan pasti ada terus. Bahkan saya tidak perlu menyimpan nomor teman kerja. Karena saya hanya berkomunikasi dengan teman kerja ketika di tempat kerja, di luar itu kami bahkan tidak pernah nongkrong bareng. Hanya ketika menjadi korlap, saya perlu menyimpan nomor orang-orang di timku dan vendor-vendor lain untuk keperluan koordinasi. Tentu berbeda jika waktu itu saya sudah merintis sebuah usaha. Saya harus menyimpan banyak nomor baik pelanggan atau relasi usaha. Tidak mungkin jika kita dapat menjalankan sebuah usaha dengan hanya berdiam dan melayani mereka yang membeli, sudah pasti usahanya tidak akan berjalan lama.
Memiliki lingkungan pertemanan yang sempit, saya tidak merasakan ada masalah yang berarti. Dengan kondisi saat itu, saya tetap mendapatkan pekerjaan dengan bayaran yang cukup layak, tetap bisa menikmati hidup dengan bahagia, dan tetap bisa dekat dengan orang-orang terdekat. Selain itu, saya juga tidak nyaman untuk berada di tempat ramai. Ketika kerjaan sedang kosong dan saya memutuskan untuk piknik, saya memilih tempat wisata yang masih sepi, bahkan tak jarang saya mendatangi hutan yang bahkan bukan tempat wisata. Apakah tidak mengerikan? Tentunya jangan malam-malam. Asyiknya berjalan menyusuri hutan adalah sensasinya yang sangat melepaskan beban kerja. Tak jarang bahkan menemukan air terjun yang indah atau ‘kedung’ yang bisa buat mandi. Memang biasanya saya tidak sendiri, saya memiliki dua orang teman dekat yang selalu siap menemani kemanapun saya pergi. Saya menikmati memiliki lingkungan pertemanan yang sempit.
Berjanji pada Bapak
Lalu apakah saya lebih banyak menghabiskan waktu luang di rumah? Ya, tepat sekali. Saya tinggal di rumah dengan kedua orang tua. Saya memiliki seorang kakak tetapi dia sudah berumah tangga. Di tahun 2015, Bapak pernah mengalami stroke parsial sebelah kiri, beruntung saja masih dapat disembuhkan dalam waktu tiga bulan. Tetapi alasan itulah yang membuatku sering berat untuk meninggalkan rumah. Apalagi untuk merantau, sama sekali tidak berpikiran. Bahkan untuk kuliah pun, rasanya tidak sampai. Bapak pernah menyarankan untuk saya lanjut kuliah. Mungkin karena Bapak dulu pernah kuliah di UGM, kakak juga lulus S1 di UNY, kemudian beliau punya keinginan saya juga lanjut kuliah. Tapi melihat kondisi Bapak yang jadi tulang punggung keluarga sudah tidak sekuat dulu, tentu tidak tega jika saya masih harus memberatkan beban orang tua. Selama sekolah di SMK, saya sering diajak Bapak ikut bekerja mengemudi truk, yang membuat saya memiliki pandangan yang lebih nyata tentang beratnya bekerja. Terbayang jika saya mengejar gelar akademik selama 4 tahun di kampus, sementara Bapak berjuang sendiri di balik kemudi. Belum lagi ada riwayat penyakit stroke yang tentu memiliki potensi besar untuk kambuh.
Setelah lulus dari SMK, saya berjanji pada Bapak, “Hari ini aku memilih bekerja, besok bakal kuliah tapi pakai uang sendiri ya, Pak”. Bapak memahami dan menghargai pilihan saya. Dan ternyata langkah yang saya pilih bisa dibilang sudah tepat. Setahun setelah saya lulus SMK, tepatnya di bulan Mei 2017, Bapak terkena stroke untuk kali kedua. Dan lebih parah dari sebelumnya. Jika sebelumnya yang terkena anggota badap sebelah kiri dan dapat sembuh dalam tiga bulan, untuk kali ini anggota badan sebelah kanan dan dalam tiga bulan tetap lumpuh. Tidak terbayangkan apabila tahun sebelumnya saya memutuskan kuliah.
Dengan kondisi orang tua yang seperti itu, semakin memantapkan saya untuk tidak kemana-mana. Saya selalu ada di rumah, menemani Ibu merawat Bapak yang sudah susah jalan. Terkadang tekanan darah Bapak tidak stabil, sehingga saya harus siap untuk mengantar ke IGD.
Saya menikmati keseharian sebagai karyawan di vendor dekorasi, menemani orang tua di rumah, sesekali jalan-jalan dengan teman dekat untuk melepas penat. Di umur yang baru 20an, saya tidak memiliki ambisi besar, cukup menjalani hidup apa adanya, bahkan temanpun itu itu saja. Saya merasa nyaman dengan kondisi saya saat itu. Bahkan saya sampai lupa kalau punya janji dengan Bapak kalau bakal mengumpulkan uang untuk kuliah.
Sebuah Tamparan
Kenyamanan tersebut akhirnya mendatangkan sebuah tamparan. Di bulan Mei tahun 2022, setelah 5 tahun menderita stroke, Bapak akhirnya dipanggil Allah SWT. Sedih? Pasti. Saya kehilangan sosok yang sangat berpengaruh di hidup saya. Bapaklah yang mengajarkan kerasnya hidup, apa itu tanggung jawab, mengajarkan bagaimana bersikap di depan orang banyak, hingga membuat saya tertarik untuk baca buku. Dengan penyakit stroke yang dideritanya sejak 2017, tentu saya merasa sudah sangat siap untuk ditinggal Bapak kapan saja. Namun tetap saja kesedihan itu datang ketika Bapak pergi. Bahkan saya sampai menulis sebuah lagu untuk mengingat momen kesedihan ditinggal Bapak. Saya menulis lagu berjudul “Melawan Rasa” yang dibawakan oleh band bernama Nade Etam.
Kejadian meninggalnya Bapak pun memberikan banyak “tamparan”. Salah satu yang membuat saya jadi berpikir untuk berubah adalah, saya menemukan sebuah teori, entah teori ini pernah dikemukakan oleh orang lain atau belum, tapi saya menemukan teori ini berdasarkan pemikiran sendiri. Teori yang saya temukan yaitu,
“kita hidup untuk mengumpulkan orang-orang yang akan datang ketika kita meninggal”.
Di acara pemakamannya Bapak, saya menerima banyak tamu dari teman-temannya Bapak dengan berbagai macam latar belakang. Jalan depan rumah yang statusnya jalan provinsi pun dibuat agak tersedat gara-gara acara tersebut. Bahkan setelah Bapak di makamkan, masih ada beberapa orang yang datang, ada yang dari luar kota yang bahkan saya sendiri merasa belum pernah ketemu sebelumnya. Mereka bercerita dulu mengenal Bapak itu bagaimana, orangnya seperti apa, hingga akhirnya memutuskan harus datang melayat.
Di saat itulah saya berpikir kalau orang-orang yang datang melayat Bapak, adalah hasil dari yang Bapak lakukan semasa hidup. Dari sekian banyak tamu yang datang, praktis hanya 5 orang yang merupakan temanku. Lalu ketika saya meninggal, siapa yang akan datang melayat? Apakah sedikit atau banyak? Apakah orang-orangnya berpakaian rapi, berantakan, atau seperti apa? Apakah tetangga mau membantu semua acara pemakaman?
Saya merasa di umur saat itu 24 tahun, saya banyak tertinggal dari teman-teman saya perihal banyaknya relasi. Saya punya teman bernama Ruben, kami satu sekolah di SMP. Dia sering mengajak saya bersepeda. Dan ketika di jalan, dia selalu bertegur sapa dengan temannya yang ia temui di jalan. Sementara saya? Sangat jarang bertemu orang yang saya kenal. Ada lagi Prima, kami teman satu kelas di SMK. Kami sering berangkat bersama ke undangan nikahan teman sekelas. Di lokasi acara, tentu saya hanya mengenal teman-teman sekelas yang mendapat undangan. Sementara Prima? Banyak orang yang ia sapa.
Saya cukup dekat dengan Ruben dan Prima. Mereka adalah 2 dari 5 orang teman yang datang di pemakamannya Bapak. Saya sering diajak mereka main, dan dikenalkan dengan teman-teman mereka. Sementara saya tidak pernah mengenalkan mereka ke teman-teman saya. Ya karena lingkungan pertemanan yang sangat sempit dan sedikit.
Merayakan Perubahan
Pernah dengar istilah “mosak-masik”? Saya pertama dengar istilah ini adalah ketika naik Bus AKAP di Jawa Timur. Mereka menggunakan istilah “mosak-masik” untuk merepresentasikan gaya pengemudi bus yang mengemudikan busnya dengan lincah, salip sana-sini, agresif, nekad, pokoknya ngeri-ngeri sedap. Kalau bahasa umumnya mungkin sama dengan ugal-ugalan. Meskipun berbahaya, namun gaya mengemudi mosak-masik banyak disukai penumpang bus Jawa Timur karena cepat sampai tujuan. Maka tidak heran jika sampai saat ini Bus Jawa Timur masih identik dengan gaya mosak-masik atau yang lebih umum dikenal dengan ugal-ugalan. Gaya mengemudi itulah yang paling banyak disukai penumpang mereka.
Merasa jumlah relasi yang saat itu tertinggal jauh dari teman-teman, saya merasa harus bergerak cepat untuk membangun relasi. Dari itulah termotivasi untuk bertidak layaknya Bus Jawa Timur yang mosak-masik. Saya berusaha membiasakan diri untuk mudah bergaul. Saya mencoba untuk bisa akrab dengan orang baru, sampai memberanikan diri meminta nomor WA mereka, dan kemudian membangun kedekatan lewat chat di WA. Saya juga meminta Ruben untuk sesering mungkin mengajakku nongkrong di kedai kopi. Awalnya dia kaget, dia tahu saya sebelumnya paling anti untuk nongkrong di luar apalagi di kedai kopi. Sudah beberapa kali Ruben mengajak saya untuk nongkrong di kedai kopi tetapi saya sealalu menolak, dan kali ini saya malah meminta dia untuk mengajak ke kedai kopi. Dia pun membawa saya nongkrong di sebuah kedai kopi favoritnya. Di sana saya ditemukan dengan teman-temannya. Meskipun canggung, saya tetap berusaha untuk bisa akrab dengan mereka.
Langkah perubahan saya pun dimulai dengan mulai rutin nongkrong di sebuah kedai kopi. Mulailah saya berkenalan dengan orang-orang baru, membiasakan diri dengan keramaian, dan tentunya mencoba untuk menyukai kopi. Sebelumnya, saya bukan penyuka kopi. Seduhan kopi saya hanya kopi sasetan, tentu tidak pantas disebut anak kopi. Karena tiap hari nongkrongnya di kedai kopi, tidak mungkin tidak tertarik untuk mencoba kopi manual brew. Waktu itu saya disarankan oleh si Barista untuk order “japanese” dengan beans arabika specialty. Mungkin si Barista menyarankan menu itu karena mengira saya anak kopi banget. Sementara saya sama sekali tidak paham apa itu kopi “japanese”. Agar terlihat “si anak kopi”, sayapun meng-iya-kan saran Barista tersebut. 10 menit kemudian datanglah pesanan saya, kopi “japanese”. Keren juga ini dikasih satu gelas penuh dengan es kopi manual brew, dan disediakan satu sloki kosong. Saya tuangkan hingga kira-kira setengah sloki, kemudian aku sruput. “Minuman macam apa ini?!” teriakku dalam hati. Bukan rasa kopi, saya malah merasa ini lebih mirip Jamu. Langsung terasa beban berat untuk menghabiskan satu seduhan kopi ini. Herannya, kok banyak yang suka dengan kopi semacam ini? Karena gengsi, aku tetap berusaha terlihat menikmati kopi ini. Ketika ada beberapa orang yang menyapa, saya tawarkan untuk mencoba kopi yang saya pesan, dengan bilang “Ini enak banget, cobain deh”. Padahal niatnya agar cepat habis.
Yang namanya mosak-masik atau ugal-ugalan, tentu menimbulkan kekacauan atau memuculkan kemarahan orang lain. Tak terkecuali tidakan saya ini dalam rangka menambah relasi. Ruben, waktu itu ia datang ke rumah saya malam-malam. Setelah beberapa obrolan ngalor-ngidul, dan malam mulai dingin, ia mulai menyampaikan kekecewaannya pada gaya sosial saya saat itu. Ada banyak tindakan yang membuatnya kaget, “kok Dian kayak gini?”, bahkan sampai kebablasan. Diibaratkan seperti Bus Jawa Timur tadi, yang menyalip hingga membuat lawan arah harus minggir keluar dari aspal. Dia menilai gaya sosial saya saat itu yang lebih mudah bergaul dengan orang dibanding sebelumnya adalah langkah yang positif, tapi ada beberapa hal yang sebaiknya saya berfikir lebih dalam. Saya dianggap terlalu lepas, tidak bisa mengendalikan diri, dan dikhawatirkan akan berdampak buruk untuk diri ini juga. Masukkan seperti itu memang sangat saya butuhkan. Saya merasa memang cukup kagetan pada hal baru, sehingga sering “lepas kendali”, walaupun mungkin sebenarnya kondisi ini cukup manusiawi.
Saya suka bersepeda, di kala pandemi, hampir tiap hari saya bersepeda. Rata-rata bersepeda 50 km dengan rute datar dan berbukit, kalau lagi semangat bisa 100 km. Sepedaku adalah sepeda MTB (mountain bike) rakitan yang saya beli per part. Ketika ada yang kurang enak, saya upgrade part tersebut. Saya bisa dianggap budak aplikasi olahraga, yang mana di aplikasi tersebut menampilkan rekor kecepatan tiap segmen jalan, saya sering termotivasi untuk mencatatkan nama di leaderboard. Salah satu segmen jalan yang menurutku saya bisa masuk di jajaran 10 tercepat adalah jalan menuju Waduk Sermo, sebuah waduk di perbukitan Menoreh. Demi mendapatkan tempat di 10 teratas, saya memutuskan untuk membeli sprocket 9 percepatan, agar bisa kencang di tanjakan. Dan hasilnya, saya bisa masuk di 10 teratas.
Dari kasus bersepeda itu, terlihat ketika saya masuk ke lingkungan baru saya tidak ingin terlihat seperti orang baru. Saya yang baru suka bersepeda, baru naik ke Waduk Sermo beberapa kali, langsung ingin masuk ke jajaran 10 tercepat. Cara yang saya lakukan adalah upgrade sprocket, seandainya cara itu tidak bisa membuatku menjadi 10 tercepat, mungkin saya berpikiran untuk membeli sepeda karbon. Tentunya itu sebenarnya tidak perlu, mengingat harganya yang sangat tinggi. Saya masih bisa meningkatkan kemampuan fisik, alih-alih membeli alat yang mahal untuk menutupi bahwa fisik ini masih belum cukup terlatih.
Dikaitkan dengan tindakan untuk membangun relasi, ketika bertemu orang lain saya ingin tampak seperti orang yag sudah punya relasi banyak, saya tidak ingin terlihat seperti orang yang baru mengenal kedai kopi. Mungkin dari naluri itulah, saya terlihat seperti lepas kendali di mata Ruben.
Ucapan Ruben malam itu saya coba cerna baik-baik. Di mana letak kesalahanku dan apa saja yang perlu saya perbaiki? Saya harus menyesuaikan sikap agar lebih luwes, dan tidak berbahaya untuk diri saya sendiri, dan tentunya agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Langkah Baru
Setelah sering nongkrong di sebuah kedai kopi, saya mulai nyaman dengan lingkungannya. Beberapa pelanggan yang juga sering nongkrong di sana juga mulai saya hafal dan kenali mereka. Begitu juga dengan para baristanya, saya mulai mengenal mereka dan mereka juga sudah hafal dengan saya. Walaupun memang setiap barista tentu diminta untuk friendly terhadap pelangganya. Selain itu, saya juga mulai bisa menikmati kopi manual brew. Mulai tertarik untuk eksplor-eksplor rasa. Jadi ketika saya datang ke kedai kopi, sedikit ‘sok-sokan’ ketika Baristanya bilang “Mari kak silahkan, mau pesan apa?”, saya bisa menjawab “Ada beans apa hari ini?”, dan Barista akan menjelaskan line up beans mereka. Keren bukan? Meskipun saya sudah mulai terbiasa dengan lingkunga kedai kopi, paling sering saya hanya nongkrong di satu kedai kopi. Karena ya sudah hafal dengan Barista, Pemilik, dan pelanggan yang sering nongkrong di sana.
Saya megenal ada salah satu barista yang dia memiliki usaha sampingan berupa roastery atau jasa sangrai kopi. Dia membeli greenbean dari petani, kemudian ia sangrai, dan dijual ke Coffe Shop. Suatu ketika, ia bercerita sedang butuh modal untuk membeli greenbean yang saat itu stoknya sedang melimpah. Memang stok greenbean ini tergantung pada musim panen atau tidak, kebetulan waktu itu sedang musim panen. Entah apa yang dipikiranku saat itu, saya tertarik untuk menyetorkan modal ke dia. Padahal saat itu saya sendiri belum teralu paham dengan kopi apalagi soal investasi. Saya hanya tertarik untuk menambah relasi. Selain itu, punya usaha sampingan terlihat menarik. Apalagi usaha sampingan itu adalah supa roasted bean ke coffe shop.
Semenjak saat itu, Juli 2022, saya mulai mengeluti dunia kopi. Sebuah bidang yang saya merasa masih sangat awam. Bayangkan saja, di bulan Mei akhir saya baru tertampar untuk berubah, kurang dari 2 bulan kemudian saya sudah punya usaha kopi dengan orang yang baru saja saya kenal hanya karena saya sering nongkrong di tempat dia bekerja. Saya mulai belajar banyak tentang kopi. Mulai dari belajar tumbuhan kopi, cara panen, pemrosesan pasca panen, proses roasting, hingga belajar menyeduh kopi dengan teknik manual brew. Memang cukup banyak yang harus dipelajari dan tentunya tidak bisa langsung fasih dalam waktu satu malam. Apalagi konteksnya kopi untuk suplai kedai kopi, mereka membutuhkan kopi dengan grade specialty.
Perjalanan saya memulai usaha kopi terlihat cukup mulus. Beberapa kedai kopi di daerah Wates sudah kami tawarkan roasted bean dan banyak yang tertarik untuk kerja sama. Saya pun mulai menambah relasi di bidang kopi, salah satu tujuan utama jualan kopi. Saya juga mulai tau ekosistem di balik kedai kopi.
Perjalanan berjualan roasted bean yang awalnya terlihat mulus itu ternyata hanya bertahan 1,5 tahun. Parter usaha yang saya setor modal di bulan Juli 2022 ternyata tidak bertanggung jawab. Saya yang harusnya tiap bulan menerima bagi hasil, justru harus menanggung utang usaha kami. Sungguh saya terlihat bodoh bukan?
Apa yang Saya Lakukan Selama Ini?
Saya memulai tahun 2024 dengan tidak memiliki usaha sampingan lagi tetapi memiliki seonggok mesin roasting kopi sisa usaha kopi yang hancur. Saat itu saya masih cukup trauma untuk memulai lagi usaha jualan roasted bean. Ditambah kesibukan di vendor dekorasi, masih cukup menyita waktu dan bisa mengamankan kebutuhan sehari-hari. Sehingga niat untuk menghidupkan kembali mesin roasting tersebut tidak cukup besar. Saya hanya menyimpan mesin roasting tersebut beserta beberapa peralatan kopi di gudang.
Selain trauma dengan usaha roasted bean, saya juga mulai mengurangi mengunjungi kedai kopi. Saya lebih sering meminum kopi di angkringan, bercengkrama dengan obrolan sederhana. Hanya sesekali membeli kopi di kedai kopi ketika memang ingin menikmati kopi yang enak. Saya juga mulai menanggalkan branding sebagai penjual roasted bean. Ketika saya berkenalan dengan orang baru di bidang kopi (baik barista, pemilik kedai kopi, atau sekedar pecinta kopi) saya tidak menyampaikan jika pernah punya usaha roasted bean. Namun sekuat apa saya menghindar dari dunia kopi, tetap saja orang-orang yang mengenal saya dari berjualan roasted bean, menanyakan perihal usaha kopi tersebut. Saya tidak pernah menyampaikan jika usaha tersebut bangkrut, hanya sedang vakum karena ada kenaikan biji kopi (yang memang saat itu harga biji kopi mentah sedang naik berkali-kali lipat). Tak sedikit yang meminta saya untuk segera bikin roasted bean lagi, kebanyakan dari mereka adalah home brewer. Sesekali saya membeli greenbean 1 kg atau 2 kg saja, sembari belajar cara meroasting kopi yang baik, karena selama saya jualan roasted bean dulu saya tidak pernah menangani proses roasting. Hasil roastingan tersebut beberapa ada yang saya jual untuk mereka yang sudah memesan, ada yang saya minum sendiri, dan kebanyakan saya berikan ke tetangga dan teman dalam bentuk bubuk.
Di masa itu, saya baru sadar satu-satunya pegangan hidup saya ya dari kerja jadi karyawan. Parahnya, di tahun 2024 itu angka pernikahan agak menurun sementara vendor pernikahan semakin banyak. Dengan jumlah job yang masuk berkurang dari tahun sebelumnya, menyulitkan saya yang mendapatkan upah berdasarkan jumlah job. Di tahun sebelumnya sebenarnya saya memiliki harapan berupa usaha kopi, berharap akan membuahkan hasil di kemudian hari, tetapi ternyata yang ada adalah menguras isi tabungan saya.
Di saat keterpurukan itu, saya tiba-tiba teringat dengan janji saya ke Bapak, “..besok bakal kuliah pakai uang sendiri”. Saya benar-benar merasa bodoh. Selama 8 tahun bekerja, yang harusnya sudah bisa untuk kuliah, malah saya gunakan untuk membeli barang-barang tidak penting bahkan menginvestasikan ke usaha yang akhirnya bangkrut. “Andai saja 4 tahun lalu daftar kuliah, setidaknya sekarang sudah punya gelar”, itulah yang dipikiran saya saat itu. Saya merasa 8 tahun bekerja, hanya mendapatkan uang, dan sekarang uang itu sudah habis. Mau mendaftar pekerjaan lain yang gajinya lebih tinggi pun tidak bisa, karena hanya lulusan SMK.
Merayakan Kebangkitan
Saya benar-benar belajar banyak dari tahun 2022-2024. Mulai dari ditinggal Bapak, memperluas pergaulan, mencoba usaha kopi, hingga akhirnya disadarkan untuk kuliah. Ya, saya mulai kuliah di awal tahun 2024, di umur 26 tahun. Saya mengambil kelas online di Universitas Terbuka, karena saya ingin kuliah sambil bekerja. Jurusan saya memilih Manajemen. Alasannya? Katanya paling mudah lulusnya.
Sayapun menjalani tahun 2024 dengan masih bekerja di vendor dekorasi, kuliah online, dan sesekali me-roasting kopi. Saya masih penasaran dengan usaha kopi. Apalagi dengan ada satu mesin roasting di gudang, tentu rugi kalau tidak dipakai. Walaupun tidak terlalu aktif, ternyata masih ada beberapa teman dan tetangga yang pesan kopi.
Ketika masuk di semester 2, saya mendapatkan tugas untuk membuat Perencanaan Usaha atau Business Plan. Tugasnya adalah membuat sebuah perencanaan usaha sederhana, sesuai dengan yang dipelajari di mata kuliah berkaitan. Walau sebenarnya hanya cukup dengan usaha fiksi, tetapi saya tertarik untuk membuat perencanaan usaha untuk usaha kopi, dan mungkin nantinya bisa benar-benar dijalankan. Dari situlah akhirnya saya terbuka dengan permasalahan yang saya alami di usaha sebelumnya. Ada banyak rencana-rencana yang belum direncanakan, sehingga membuat jalannya usaha tidak beraturan.
Kontrol Sosial
Saya memiliki kakak perempuan yang lebih tua 6 tahun, biasanya saya panggil Mbak Lina. Setelah menikah di tahun 2016, ia ikut suaminya kerja di Kalimantan Selatan. Sebelum menikah, saya cukup dekat dengan Mbak Lina. Banyak selera musik yang terpengaruh darinya, dan yang paling parah adalah saya jadi suka drakor. Terakhir kali kami nonton drakor bareng adalah di akhir tahun 2015, beberapa bulan sebelum Mbak Lina menikah. Setelah itu, kami hanya bertemu 1 atau bahkan 2 tahun sekali, selebihnya via video call. Ketika ketemu pun hanya mengobrolkan hal-hal sederhana, seperti menu masakan, mainan anaknya Mbak Lina, sharing peralatan unik dan tempat belinya.
Setelah 8 tahun merantau, akhirnya suaminya Mbak Lina pindah tugas ke Magelang. Bulan Agustus 2024, akhirnya Mbak Lina dan sekeluarga pindahan. Kami akhirnya punya banyak waktu bertemu. Karena frekuensi bertemunya lebih sering, obrolanpun tidak hanya cukup hal-hal sederhana saja. Kamipun mulai mengobrolkan topik yang serius dan mendalam. Hingga muncullah pertanyaan dari kakakku, “Punya ide usaha apa, Om?”. Mbak Lina memang dari saya kecil tidak pernah memanggil nama saya. Dulu dia memanggil “Dik”, sekarang karena dia sudah punya anak, akhirnya memanggil saya “Om”. Pertanyaan ide usaha itu pun membuat saya berfikir untuk menyiapkan jawaban. Saya pun melemparkan jawaban, “Aku pengen jualan kopi bubuk Mbak, tapi ini masih riset produk sama pasarnya. Rencana besok Januari launching brand dan produk”.
Jawaban itu sebenarnya berdasar pada Rencana Usaha yang saya buat untuk memenuhi tugas mata kuliah. Apakah saya sudah yakin akan menjalani rencana tersebut kedepan? Sebenarnya belum. Karena tugas Rencana Usaha tersebut masih ada beberapa hal yang menurut saya perlu divalidasi. Jadi bisa dibilang masih cukup mentah. Tetapi saya memang suka menyampaikan rencana yang tujuannya untuk kontrol sosial. Artinya, saya menyampaikan sebuah rencana pada orang lain harapannya suatu hari nanti orang tersebut akan menanyakan progres dari rencana tersebut. Sehingga saya ada rasa malu ketika saya tidak melaksanakannya. Jadi, berangkat dari jawaban tadi, saya mulai memikirkan bagaimana berjualan kopi.
Pilihan saya sekarang adalah segera mengerjakan rencana tersebut. Sederhana, tapi rasa trauma itu masih ada. Trauma dengan perjuangan membangun usaha, trauma dengan kehilangan materi yang sudah susah payah dikumpulkan. Kegagalan sebelumnya jika dihitung-hitung telah menjebol tabungan yang saya kumpulkan semenjak lulus SMK. Belum genap satu tahun saya mulai mengumpulkan nominal untuk mengisi tabungan, apa harus saya kuras lagi?
Bersedia, Siap, Yak
Trauma atas kegagalan itu tentu tidak akan selesai jika kita terus menghindari. Ia akan senantiasa datang ketika kita kembali ke situasi yang sama, yaitu hendak memulai usaha. Satu-satunya cara menyelesaikannya adalah, hadapi trauma itu dan berdamailah dengannya. Diibaratkan jika trauma ini adalah sosok manusia, alih-alih menghindarinya, saya coba datangi dia dan ajak dia ngobrol. Lalu kamipun mencurahakan pikiran kami satu sama lain. Saya ceritakan semua alasan ketakutanku dengan trauma kegagalan itu. Kehabisan uang, jualan tidak untung, bertemu dengan orang yang tidak bertanggung jawab, dan semua ketakutanku itu. Dari situlah, saya coba bedah satu-satu dan mencari jalan keluarnya.
Maka saya pun menyiapkan beberapa dokumen agar tidak kembali ke kegagalan yang sama. Saya tulis rencana-rencana usahaku ke depan beserta exit-plan-nya ketika rencana tersebut gagal, saya pisahkan uang pribadi dan uang usaha, saya catat semua transaksinya, pokoknya saya tulis semua rencana dan kegiatan usaha. Bukannya itu memang dasar-dasar yang harus dilakukan untuk memulai usaha? Ya memang, tapi saya tidak lakukan itu di usaha sebelumnya. Makannya pantas dulu bangkrut.
Saya memulai semua dokumennya dengan menyempurnakan Rencana Usaha yang sudah saya buat sebelumnya untuk memenuhi tugas mata kuliah. Rencana pertama yang saya tulis adalah melakukan riset produk dan pasar dari bulan September hingga Desember. Hal ini perlu saya lakukan karena saya merasa belum memiliki data yang memadai soal produk dan pasar.
Produk atau Pasar Dahulu?
Karena ketakutan akan kegagalan sehingga men-trigger untuk belajar lebih dalam, timbulah pertanyaan dibenak saya, “Produk atau Pasar dahulu yang harus dipikirkan?”. Ketika saya mencari jawaban di internet pun ada dua versi jawaban untuk produk dahulu maupun pasar dahulu. Sebuah mesin roasting yang nganggur adalah salah satu potensi yang saya miliki, dengan pemanfaatnya bisa dalam 2 cara: pertama menggunakannya untuk roasting, kedua menjualnya. Dengan logika dangkal, saya pun membuat alur versi saya saat itu. Alurnya adalah
potensi diri → konsep produk → menentukan pasar → gali masalah yang dapat diselesaikan dengan konsep produk → validasi pasar → lahirlah produk final.
Mungkin anda akan protes dengan alur buatan saya, tetapi mari kita bedah dulu.
Sebelum memikirkan produk dan pasar, saya terlebih dahulu menentukan potensi diri yang akan saya gunakan. Dalam hal ini adalah mesin roasting dan sedikit pengetahuan tentang kopi. Artinya saya akan membuat usaha yang tidak jauh dari itu, yaitu produksi kopi (konsep produk). Tahap inilah yang saya gunakan sebagai jawaban ketika ditanya Mbak Lina perihal ide usaha. Apakah di tahap ini saya sudah menentukan produknya? Bisa ya bisa tidak. Ya, karena produknya berkaitan dengan kopi; tidak, karena produk kopi itu banyak macamnya. Setidaknya ada 3 konsep produk yang akan saya uji ke pasar, yaitu:
a. Kopi bubuk robusta dark roast yang menonjolkan rasa pahit yang kuat
b. Kopi bubuk robusta dan arabika dengan rasa kompleks
c. Kopi specialty roastedbean (bijian) dengan fokus di arabika
Berangkatlah ke tahap selanjutnya yaitu menentukan pasar. Untuk target pasar, waktu itu saya masih menuliskannya cukup luas. Tulisanku waktu itu adalah: usia 25-60, berpenghasilan tetap, suka ngopi di rumah. Hal ini dikarenakan saya belum mengetahui pasar mana yang paling potensial dan saya dapat menyelesaikan masalah mereka dengan sebuah produk kopi.
Ketiga konsep produk tersebut memiliki pangsa pasar yang berbeda-beda dan solusi dari masalah yang berbeda-beda. Kopi bubuk dengan rasa pahit yang kuat biasanya disukai warga desa yang sering minum kopi di rumah dan angkringan. Mereka lebih familiar dengan kopi pahit yang agak gosong, meminumnya pun harus ditambahkan gula. Konsep produk ke dua yaitu kopi bubuk robusta dan arabika dengan rasa kompleks. Konsep ini mirip dengan konsep pertama, hanya saja profil roastingnya dibuat medium roast sehingga masih mengeluarkan rasa asli dari kopi tersebut. Dijual dalam bentuk bubuk karena untuk menyasar konsumen yang tidak memiliki alat kopi dan suka menyeduh kopi di rumah dengan metode tubruk. Konsep ini diterima oleh pasar yang cukup beragam, mulai dari mereka yang bekerja kantoran hingga buruh harian. Sehingga untuk konsep ini memiliki pasar yang punya daya beli yang lebih tinggi dari konsep pertama. Konsep ke tiga yaitu kopi specialty. Biasanya konsep ini yang paling banyak dikerjakan oleh roastery baik yang besar maupun yang masih mikro. Mungkin karena lebih seksi, karena menjual biji kopi berkualitas tinggi, sehingga pangsa pasarnya pun lebih banyak di kelas menengah ke atas.
Maka dalam menentukan pasar mana yang paling bagus untuk dikerjakan, saya pun menggali masalah dari pasar yang luas tersebut, kemudian konsep mana yang menyelesaikan masalah yang dialami mayoritas pasar. Dan ternyata, konsep ke dua, yaitu kopi bubuk robusta dan arabika dengan rasa kompleks. Dari pasar yang luas tadi, mereka yang tertarik dengan produk pertama, cenderung memiliki masalah di harga produk. Artinya mereka tertarik dengan produk kopi robusta dark roast tetapi mereka lebih tertarik dengan harga yang lebih murah. Kemudian untuk konsep ke tiga, mereka tidak memiliki masalah perihal kopi karena memiliki opsi yang banyak untuk kopi specialty. Di tambah lagi banyak brand roastery besar yang sudah lama mengerjakan pasar ini.
Michael Porter pernah menuliskan 3 strategi generik untuk mencapai keunggulan kompetitif, yaitu biaya, diferensiasi, dan fokus. Jika saya ingin unggul dari segi biaya tentu saya harus bersaing dengan manufaktur besar yang bisa menekan biaya seefisien mungkin (dan konsep pertama mungkin akan relevan jika saya bisa menggunakan strategi ini). Maka pilihan yang tersisa adalah membuat diferensiasi produk atau fokus pada pasar yang sempit.
Merayakan Kelahiran Deraya Koffie
Di awal bulan Desember, setelah 3 bulan melakukan riset produk dan pasar, akhirnya saya memiliki pandangan yang lebih jelas untuk produk yang akan saya jual, yaitu kopi tubruk kemasan. Saya memutuskan untuk menggunakan strategi diferensiasi, dan kopi tubruk memiliki peluang diferensiasi produk yang bagus. Saat itu saya melihat kopi tubruk di pasaran lebih menyasar kalangan bawah. Masih jarang saya melihat produsen kopi tubruk yang memanjakan konsumennya dengan biji kopi yang berkualitas. Banyak dari mereka yang memberikan biji kopi kelas komersial bahkan ada yang mencampurnya dengan bahan lain untuk menekan biaya produksi. Tentu ini sebuah peluang apabila bisa mengedukasi konsumen tentang kenikmatan kopi grade tinggi. Apalagi mengingat metode tubruk ini adalah metode penyeduhan kopi yang asli Indonesia. Apakah kopi tubruk adalah kopi rendahan? Harusnya anggapan seperti itu tidak pernah ada. Karena setiap biji kopi yang diroasting akan melalui proses cupping untuk menganalisa rasa yang keluar, dan standar cupping adalah menggunakan metode tubruk. Jadi semua biji kopi yang diseduh menggunakan mesin espresso yang canggih pun, proses cupping-nya menggunakan metode tubruk.
Ide produk sudah ada, kini saatnya memikirkan branding. Dan lagi-lagi dengan berbekal logika dangkal saya membuat sebuah brand. Nama Deraya pun muncul gara-gara lokasi rumah yang juga saya jadikan sebagai tempat produksi kopi berada di DEkat jalan RAYA. Ini merupakan keresahan pribadi sering terganggu dengan suara kendaraanyang berlalu lalang ketika saya sedang meroasting kopi. Saya sering kesulitan untuk memastikan regulator gas terpasang dengan benar karena suara kebocoran gas cukup sulit terdengar, juga suara crack biji kopi ketika sudah mencapai suhu tertentu yang sering tidak terdengar. Kata “Deraya” pun coba saya cari-cari maknanya, dan yang mendekati adalah kata dalam bahasa Arab yaitu “Dirayah” yang artinya ilmu atau pemahaman atau pengetahuan. Maka menurut saya nama “Deraya” cukup bagus juga untuk diangkat. Namun jika hanya Deraya saja tentu akan kesulitan untuk menjangkau konsumen apalagi saya tidak memiliki dana yang cukup tebal untuk membayar kampanye pemasaran. Maka perlu menambahkan nama produk, dalam hal ini adalah kopi. Jika umumnya brand lain akan menambahkan kata “coffe”, karena saya menganut strategi diferensiasi maka saya menggunakan kata “koffie”. Sedikit berbeda namun masyarakat tetap paham jika produknya adalah Kopi. Koffie sendiri merupakan bahasa Belanda dari Kopi. Jika dikaitkan dengan sejarah kopi pertama kali ditanam di Indonesia di akhir abad 17 oleh pemerintah Belanda. Sehingga penggunaan kata “Koffie” merupakan apresiasi terhadap Pemerintah Belanda yang sudah mengenalkan kopi ke Indonesia hingga akhirnya sekarang Indonesia sekarang bisa menjadi salah satu penghasil kopi terbanyak di dunia.
Berawal dari nama Deraya Koffie, akupun memikirkan konsep branding yang diangkat dan tentunya dengan strategi diferensiasi. Saya buat logo agar tidak terlihat serupa dengan logo-logo brand kopi yang lain. Walaupun sebenarnya logo Deraya Koffie yang pertama tidak sertamerta keluar dari kepalaku, melainkan terinspirasi dari logo brand kopi legendaris dari Afrika. Kemudian untuk desain kemasannya, saya memilih warna merah yang mencolok mata. Sementara brand kopi lain lebih
banyak memilih warna hitam dan coklat, kenapa saya memilih warna merah? Tentu alasan pertama biar berbeda dengan brand lain. Alasan kedua, saya melakukan riset kecil-kecilan di konsumen yang sudah beberapa kali membeli ketika masa uji coba pasar. Mereka kebanyakan menyarankan menggunakan warna kemasan yang mencolok agar menarik mata. Alasan yang ketiga yaitu berdasarkan sebuah riset di US Amerika, konsumen kopi akan mempersepsikan kopi dengan kemasan hitam dan coklat sebagai kopi komersil (kopi grade bawah). Sementara untuk persepsi kopi dengan grade tinggi, biasanya muncul dari kemasan berwarna cerah seperti merah, biru, dan kuning. Ketiga alasan itulah yang mendasari Deraya Koffie memiliki warna identitas berupa warna merah.
Setelah semua persiapan dirasa cukup, akhirnya bulan Januari 2025 saya memulai usaha dengan brand Deraya Koffie.
Teman Dekat bernama Prima
Selama kurang lebih 3 bulan masa uji coba pasar, saya sudah mendapatkan beberapa konsumen loyal. Mereka membeli produk saya beberapa kali, bahkan ada yang langsung tertarik menjadi reseller. Salah satu reseller tersebut bernama Prima, teman dekat yang sudah aku ceritakan sebelumnya. Ia bekerja sebagai seorang guru di sebuah SMK di Kulon Progo, dan tertarik untuk berjualan. Makannya ia sering membeli kopi untuk dijual kembali di lingkungan sekolah. Karena kami teman dekat, untuk bertransaksi kopi selalu malam hari dan tidak hanya bertransaksi kopi, tapi disertai ngobrol-ngobrol sampai tengah malam. Waktu itu di awal bulan Januari 2025, Prima memesan beberapa bungkus untuk dijual kembali. Kamipun mengagendakan untuk bertemu di sebuah Warmindo di daerah Wates. Di Warmindo tersebut, kami banyak bertukar cerita dan sayapun mulai menceritakan tentang brand Deraya Koffie yang baru saja saya bentuk. Dan pertemuan malam itu berlangsung sampai hampir jam 12 malam.
Paginya, saya membeli greenbean di seorang teman. Sebelumnya saya membeli di suplier hanya saja ada minimum order sebanyak 10kg. Karena dana belum ada, saya beli greenbean di seorang teman dan hanya membeli 4 kilo waktu itu. Setelah saya checkout, saya bawa pulang greenbean itu. Sesaat sampai rumah, ada notifikasi pesan WA di hp. Ternyata Prima hendak mentransfer pembayaran barang semalam. Memang biasanya Prima akan mentransfer setelah ia menerima pembayaran dari pembelinya. Namun ada yang sedikit berbeda di ujung pesannya, yaitu ia mengungkapkan tertarik untuk memberikan modal usaha untuk Deraya Koffie. Sontak saya pun kaget. Karena dalam pertemuan semalam, saya bercerita tentang Deraya Koffie tanpa ada tendensi untuk mengajak Prima berinvestasi di usaha ini. Apalagi masih ada trauma dalam diri saya soal investasi dengan teman, jadi memang saya sendiri tidak berniat untuk mengajak siapapun untuk bekerja sama.
Namun bagaimanapun juga, saya melihat adanya kesempatan, tentunya dengan adanya dana segar dan ada orang lain yang bisa membantu saya memikirkan Deraya Koffie. Akhirnya saya pastikan lagi ke Prima tentang niat dia, bahkan saya berikan kenyataan pahit bahwa usaha ini masih sangat baru dan mungkin dalam 1-2 tahun kedepan belum memberikan keuntungan yang berarti. Tetapi mungkin karena tekad dia sudah bulat dan sudah dipikirkan matang, akhirnya ia tetap ingin menyetorkan modalnya. Tentu hal ini menjadi penyemangat bagi saya pribadi, di mana baru saja saya harus menghemat modal yang tersisa dengan hanya membeli 4kg greenbean, sekarang Deraya Koffie lebih berani untuk berfikir kedepan karena masuknya si teman dekat, Prima.
Sehari setelah Prima menyatakan keinginannya untuk ikut serta, kami pun mengagendakan untuk bertemu dan mendiskusikan Deraya Koffie. Kami tetap memilih Warmindo andalan sebagai tempat diskusi. Sebagai informasi, Warmindo ini buka 24 jam dan namanya adalah Doa Ibu. Jadi mulai hari itu, kami kalau mengadakan diskusi di sana, kami menyebutnya dengan “Minta Doa Ibu”. Saat itu kami pun berkomitmen sekurang-kurangnya akan mengadakan pertemuan sekali dalam sebulan, yang tujuannya untuk memaparkan laporan dan membahas rencana sebulan ke depan. Di pertemuan pertama, saya menyampaikan laporan hasil riset pasar dari bulan September dan beberapa data penting lainnya. Kami juga membuat perencanaan kedepan dan ditulis dalam sebuah Roadmap. Kami membagi Roadmap tersebut tiap kuartal.
Inkubasi Bisnis dan Impian yang Mulai Bertumbuh
Dalam kuartal kedua, yaitu bual Maret – Juni, kami merencanakan untuk ikut di sebuah program inkubasi. Alasannya karena kami ingin menambah lingkungan pengusaha UKM. Jujur saja, saya dan Prima memang tidak ada background UKM. Saya seorang pekerja di vendor dekorasi, sementara Prima adalah guru di sebuah SMK. Walaupun mungkin teman kami ada yang pengusaha UKM, tapi ketika bertemu kami cukup jarang membahas tentang UKM. Karena memang sebelumnya tidak ada ketertarikan di dunia UKM ini.
Seperti yang saya ceritakan di awal tulisan ini, lingkungan pertemanan saya cukup sempit, dan saya ingin meluaskan itu. Dengan ikut program inkubasi, saya berharap akan mendapat banyak relasi di bidang UKM. Hal ini menurut saya akan berdampak pada pengembangan Deraya Koffie. Mengingat proses bertumbuh kita sebagian besar karena pengaruh lingkungan. Dengan memiliki lingkungan yang seperjuangan tentu akan menambah motivasi untuk kami.
Mulai di kuartal kedua 2025 tepatnya di bulan Maret, saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, kami mencari-cari informasi program inkubasi. Ada beberapa program dari perusahaan swasta, BUMN, perusahaan negara tetangga, dan Dinas terkait. Karena beberapa program itu dibuka hampir bersamaan, kami pun mendiskusikan untuk memilih salah satu program. Karena apabila mendaftar semuanya dan ternyata diterima semua, tentu kami akan kewalahan menjalaninya. Jadi kami memilih untuk fokus di satu program, dan pilihan kami jatuh kepada program Inkubasi Bisnis oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi DIY. Pertimbangan kami sederhana, sebagai UKM tentu payung kami di pemerintahan ya Dinas Koperasi dan UKM. Sebagai UKM yang baru saja berdiri dengan modal ‘seuprit’, kami tertarik dengan beberapa fasilitas Dinas yang dapat dimanfaatkan secara gratis.
Sesaat setelah Lebaran, kami mendapat pesan bahwa Deraya Koffie masuk 75 peserta yang lolos Inkubasi Bisnis 2025 oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi DIY. Tentu kami sangat senang, karena dari satu pilihan yang kami putuskan untuk daftar, ternyata kami diterima. Apabila tidak, tentu akan cukup mengacaukan Roadmap mengingat Kuartal ketiga sudah jalan satu bulan. Jadwal acara selama 4 bulan pun dirilis dengan 3 tahapan seleksi. Kami pun sepakat, saya yang akan mengikuti semua acara Inkubasi, mengingat Prima cukup sulit untuk meluangkan jadwal kerja.
Saat tulisan ini ditulis, kami baru akan menyelesaikan tahap 2, di mana di tahap 2 ini tinggal menyisakan 35 peserta dan hanya ada 20 peserta yang akan lolos. Lolos tidaknya kami ke tahap ketiga, tentu bukan menjadi perkara besar. Mengingat tujuan kami mengikuti program ini bisa dibilang sudah hampir tercapai, yaitu mendapatkan lingkungan UKM dan mendapat ilmu baru tentang pengelolaan UKM. Kini tinggal 1 tujuan yang belum kami capai, yaitu menaikkan kelas Deraya Koffie ini dari Usaha Kecil menjadi Usaha Menengah. Tentu itu PR yang sangat berat bagi kami, tapi kami sangat ingin mewujudkannya. Dan kami yakin itu akan terwujud!
Produk Deraya Koffie dapat ditemukan di sini!
Mau Konsultasi?